HYPNO NEWS

Monday, October 12, 2015

Menjemput Jodoh

Tiga minggu lalu, seorang klien wanita, usia 39 tahun, sebut saja namanya Ani, datang dengan keluhan tak tahan dengan tekanan agar dirinya segera mengakhiri masa lajang. Sang wanita karir sebuah perusahaan swasta ini, di sesi konsultasi dengan tegas mengatakan, hidupnya akan baik-baik saja walau tanpa kehadiran seorang suami. 

Saya hanya menyimak dan mendengarkan semua yang disampaikan dengan seksama, sembari menelisik, mana di antara keterangannya itu yang menjadi sumber masalah. Meski sebenarnya, sebagai seorang terapis berbasis teknologi pikiran, saya tidak akan peduli dengan penyampaian saat klien sadar. Jawaban paling utama yang dibutuhkan adalah ketika dia dalam kondisi relaksasi yang nyaman dan dalam.



“Buktinya sampai sekarang, hidup saya baik-baik saja. Tenang-tenang saja. Tanpa suami, hidup saya ngga kiamat kok,” tegasnya. Yang jadi masalah adalah lingkungan di rumah dan lingkungan kerjanya.

“Saya ngga tahan dengan omongan orang rumah. Di sisi lain, saya menghormati mereka, orang tua dan keluarga saya. Tapi kalau sudah menyinggung soal cucu, rasanya saya lebih baik minggat jauh-jauh,” ulasnya.    

Begitu pula ketika di kantor, tak sedikit yang menyindir soal status jomblo-nya. Belum lagi iklan di-TV yang sengaja kalimatnya diulang oleh rekan kerjanya, meski niatnya bercanda. “Truk aja gandengan…”

Kesendiriannya ini pula yang kadang membuat beberapa rekan kerjanya yang pria, bahkan atasannya, mencoba menggodanya. Namun dia mengaku, sama sekali tidak tertarik dengan laki-laki.

“Laki-laki itu sumber masalah,” ucapnya dengan tatapan yang seolah berisi sesuatu yang sangat dalam. Sepertinya, inilah akar masalahnya. 

Setelah saya bimbing menggunakan teknik tertentu, memori bawah sadar Ani ternyata terlempar ke usia 12 tahun. Yaitu  ketika mengalami pelecehan seksual oleh pamannya sendiri. Sang paman sempat menggesekkan alat vitalnya ke bagian paling sensitif Ani.

Rupanya, inilah akar masalah yang menjadi penyebab Ani enggan membuka hati untuk laki-laki. Ani kemudian saya bimbing untuk mengatasi traumanya hingga tuntas, dan akhirnya dia merasa lega, plong dan sangat nyaman.

Tiga hari setelah proses terapi itu, saya sempat menanyakan kondisinya. Ani merasa jauh lebih nyaman, dan bisa bekerja bisa lebih tenang. Walaupun dia tetap disindir atau dituntut keluarganya, dia merasa biasa saja dan merasa kualitas hidupnya jauh lebih baik.

“Sekarang bener-bener nyaman, pak. Makasih ya pak bimbingannya,” tulisnya di pesan singkat.

Tiba-tiba, tadi malam saya mendapat sebuah pesan pendek. “Pak, doakan ya proses lamaran saya besok (10/10) lancar.” Saya sempat lupa dengan pengirim pesan pendek ini. Apalagi nomornya memang tidak saya simpan.

“Ini saya pak, (sembari menyebut namanya) yang bapak terapi bulan lalu, yang kerja di… (menyebut nama kantornya).”

“Katanya ngga suka laki-laki?” tanya saya bercanda. Dia hanya membalas singkat dengan emoticon senyum. Selanjutnya dia pun memberikan undangan, agar saya bersedia hadir di acaranya.

Sempat saya tanyakan soal calon suaminya. Dia mengatakan, pria ini adalah temannya waktu SMP yang memang sangat suka dengan Ani. Namun ketika itu Ani sama sekali tidak punya perasaan kepada laki-laki.

“Saya ketemu dengan dia pas ada acara kantor di Jakarta, pak. Ya terjadi begitu aja. Karena sudah sama-sama injury time, ngga usah pakai pacaran. Langsung aja lamaran,” kisahnya.
Selamat ya Ani, semoga semua prosesnya lancar sampai pernikahannya nanti. (*)


Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes