HYPNO NEWS

Hipnoterapi

Hipnoterapi Anak

Keluarga

Sunday, May 22, 2022

Covid 19 Reda, Kecelakaan Meningkat. Segera Lakukan Ini



SELAMA dua tahun, terhitung sejak pandemi Covid 19 melanda bangsa ini, setiap hari selalu muncul berita pasien yang meninggal dunia akibat virus menjengkelkan itu. Kini pandemi sudah mereda. Presiden Bapak Jokowi bahkan sudah melonggarkan ketentuan boleh buka masker di luar ruangan, serta tanpa antigen dan PCR asal sudah dua kali vaksin. Sebagai gantinya, pemberitaan berganti dengan banyaknya korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.

Rupanya, begitu keran perjalanan dibuka lebar, hasrat untuk liburan seketika membuncah. Sayangnya, boleh jadi menyebabkan ada saja oknum pengemudi yang kejar tayang. Aji mumpung, tak lagi memikirkan keselamatan penumpang.

Pengemudi bus yang kecelakaan di jalur tol Surabaya – Mojokerto misalnya, diduga menggunakan sabu. Sementara kasus kecelakaan lainnya diduga akibat sopir mengantuk. Baik yang diduga menggunakan sabu serta yang mengantuk, sejatinya sama-sama memaksakan diri. Yang menggunakan sabu, memaksa agar bisa terus jos saat mengemudi. Yang mengantuk, juga memaksakan diri agar bisa terus melaju sampai tujuan.

Mengantuk memang menjadi musuh utama mengemudi. Hanya dalam hitungan detik, kendaraan yang sedang melaju, bisa oleng seketika. Karena itu, kondisi ini benar-benar membutuhkan kesadaran diri yang mumpuni.

Di Kalimantan, jarak antar kabupaten atau antarprovinsi tidaklah dekat. Dari Samarinda ke Berau misalnya, yang berjarak 550 kilometer, memerlukan waktu tempuh rata-rata 14 sampai 16 jam. Ketika jalan mulus, bisa ditempuh 12 jam. Bisa dibayangkan, jika tanpa istirahat yang cukup, jelas sangat membahayakan. Belum lagi jalurnya yang berkelok-kelok, tanjakan dan turunan curam, hingga jurang di kiri dan kanan jalan.

Lantas bagaimana cara mengatasi serangan kantuk>? Saya, biasanya melakukan relaksasi singkat. Seperti beberapa waktu lalu ketika melakukan perjalanan Surabaya – Semarang pulang pergi, via jalur tol. Ketika kecepatan dan kemudi mobil sudah kurang stabil, begitu ada rest area segera menepi. Rebahkan sandaran kursi dalam posisi nyaman, kemudian tarik nafas panjang dan dalam dari hidung, embuskan melalui mulut. Lakukan terus perlahan-lahan. Kemudian, niatkan dalam diri, “izinkan saya relaksasi yang dalam dan menyenangkan selama 15 menit.”

Biasanya, saya langsung bablas. Karena ketika itu seorang diri, tak lupa buka sedikit kaca jendela mobil agar tidak menghirup karbon monoksida hasil buangan knalpot. Kalau mau lebih aman, matikan mesin mobil, buka sedikit kaca jendela. Relaksasi yang dalam dan menyenangkan selama 15 menit itu, ibarat fast charger. Pas 15 menit, biasanya benar-benar terbangun. Begitu fit, bisa langsung melanjutkan perjalanan.

Lalu bagaimana jika sebagai penumpang? Sebagai penumpang, terutama yang duduk dekat sopir, wajib sering-sering mengecek kondisi pengemudi. Jika kecepatan mobil sudah kurang stabil, serta posisi tubuh sopir juga terlihat lelah. Misalnya berkali-kali menggelengkan kepala. Posisi kepala sering mendekatkan ke kaca mobil depan, atau bahkan sampai menguap, maka sebaiknya ingatkan untuk istirahat. Tentu yang menjadi persoalan jika semua penumpang tidur, pengemudi tidak ada yang mengingatkan. Saat itulah, rawan terjadinya kecelakaan.

Jadi, sebagai pengemudi, harus memahami kondisi diri sendiri. Sebagai penumpang, bantu juga mengawasi kondisi sekeliling. Bagaimana menurut sahabat?

Contoh relaksasi bisa dilihat di sini. https://youtu.be/U2QSGyJsBcE



 

 

 

Saturday, May 21, 2022

Sudah 2022 Tapi Masih Jomblo?

Setelah proses terapi hingga 3 jam, akhirnya akar masalah dari klien ini berhasil ditemukan.


Tahun terus bertambah, waktu terus berputar. Bagi yang masih jomblo, tentu saja ini menjadi persoalan tersendiri. Apalagi saat Lebaran tadi. Pertanyaan yang berulang-ulang dan tak pernah bosan ditanyakan kerabat dan teman adalah, “sudah nikah? Kapan nikahnya?”

Tentu saja itu adalah pertanyaan yang sangat menjengkelkan bagi para jomblowan dan jomblowati. Di antara yang merasakan kejengkelan itu adalah Wulan. Tentu saja ini bukan nama asli dari wanita berusia 32 tahun yang tiba-tiba mengontak saya melalui whatsapp.

“Maaf pak, masih buka praktik hipnoterapi?” tanyanya mengawali perbincangan. Wajar pertanyaan itu muncul. Maklum, selama pandemi Covid 19 lalu, praktis saya jarang melayani klien, karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Demi keamanan bersama, maka proses konsultasi atau konseling hanya dilakukan secara daring. Namun, sejak vaksinasi gencar dilakukan, secara perlahan, saya pun menerima klien dengan catatan sudah menjalani vaksinasi, minimal dosis pertama.

Akhirnya sesuai waktu yang disepakati, Wulan tiba di tempat praktik. Wanita yang bekerja di salah satu perusahaan swasta cukup bonafide ini nyatanya memiliki paras cantik. Boleh jadi, sebutan cantik ini memang relatif. Namun, terlihat dari kulitnya kuning langsat. Wajahnya glowing, dengan rambut hitam dibiarkan tergerai sebahu. Dari sisi pakaian juga cukup modus. Wajar jika ada yang tidak percaya jika wanita karier ini masih jomblo.

Di ruang praktik, terlebih dahulu saya berikan penjelasan tentang hipnoterapi klinis yang akan dilakukan. Ini fase penting awal, agar klien paham apa saja yang akan terjadi selama proses terapi berlangsung. Klien tidak boleh mengalami proses yang di luar ketentuan atau melanggar kode etik.

Tahap berikutnya, saya memeriksa formulir terapi yang sudah diisi. Sehari sebelumnya, klien diberikan formulir terapi untuk diisi. Sengaja diberikan lebih dahulu, untuk menghemat waktu. Selain itu, agar klien juga bisa mengisi lebih tenang dan nyaman di kediamannya. Melalui formulir yang sudah diisi, terlihat ada beberapa emosi yang cukup intens. Selain itu, juga bisa diketahui ada hubungan yang kurang baik dengan kedua orang tuanya.

Klien kemudian dibimbing untuk masuk di kedalaman pikiran yang sangat dalam dan menyenangkan. Di level kedalaman pikiran bawah sadar yang presisi inilah, proses pencarian akar masalah dilakukan. Ternyata, ada beberapa kejadian yang menimbulkan trauma yang sangat dalam. Puncaknya adalah, ketika klien yang masih berusia 7 tahun, melihat ayahnya memukul ibunya. Tamparan keras sang ayah pada ibunya itulah yang kemudian masuk dalam pikiran bawah sadar klien. Memori itu yang kemudian menjadikan klien takut menghadapi sebuah pernikahan.

Akibat kejadian di usia 7 tahun itulah, pikiran bawah sadar klien membuat program baru. Programnya adalah “jangan memiliki suami” karena itu sangat membahayakan. Pikiran bawah sadar itu sengaja membuat program khusus agar klien tidak mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Tentu saja, program ini niatnya baik, tapi kurang tepat. Sebagai manusia normal, tentu Wulan tetap harus menikah.     

Program itulah yang menyebabkan Wulan selalu menjaga jarak, setiap kali ada pria yang mulai menunjukkan keseriusan dalam menjalin hubungan. Akibatnya, meski beberapa kali dekat dengan pria, ujung-ujungnya kandas di tengah jalan.

Dengan teknik tertentu, berbagai program yang sudah terlanjur tertanam itu dibuang satu demi satu. Sebagai gantinya, pikiran bawah sadar diberikan edukasi bahwa pernikahan bukan sesuatu yang membahayakan. Faktanya, ada begitu banyak pasangan yang menikah dan mereka baik-baik saja.

Setelah proses terapi yang memakan waktu lebih dari 3 jam, Wulan akhirnya dikembalikan dalam kondisi semula, dengan kesadaran penuh. Begitu buka mata, senyum semringahnya langsung terkembang di bibirnya.

“Kok bisa ya pak? Saya saja ngga ingat dengan kejadian itu?” tanyanya. Itulah cara kerja pikiran bawah sadar. Memori kita bisa bekerja sedemikian kuat untuk menyimpan setiap kejadian sehingga akan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.

Semoga Wulan semakin nyaman, dan bisa menjalin hubungan dengan lawan jenis dengan baik. Berikutnya, tentu saya tinggal menunggu undangan pernikahan dari Wulan.

Bagaimana menurut sahabat?

 

   

 

Saturday, December 25, 2021

AHKI Resmi Jadi Mitra Kemenkes

Sebagian hipnoterapis anggota AHKI


Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia (AHKI) resmi menjadi mitra Kementerian Kesehatan RI sebagai perkumpulan atau asosiasi penyehat tradisional pemberi rekomendasi Surat Terdaftar Penyehat Tradisional (STPT). Kabar gembira di ujung 2021 ini disampaikan Ketua Umum AHKI Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®.

“Setelah menanti lebih setahun akhirnya perjuangan panjang ini berbuah manis,” sebut Adi W. Gunawan.

AHKI adalah organisasi profesi hipnoterapis, didirikan 8 November 2011 dan mendapat pengesahan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia pada 6 Juni 2021.

Dikatakan, AHKI resmi diakui sebagai mitra Kemenkes dalam ranah terapi olah pikir dan bisa memberi rekomendasi untuk pengurusan Surat Terdaftar Penyehat Tradisional (STPT).

Dijelaskan, AHKI mengajukan sebagai mitra Kemenkes sejak 20 November 2020. Akhirnya, mendapat balasan dari Kemenkes per 22 Desember 2021 dan diterima sebagai mitra Kemenkes dalam surat bernomor YT.01.02/IV.1/1979/2021. Surat itu ditandatangani secara elektronik oleh Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional, Kemenkes RI, Dr. IGM Wirabrata, Apt.

AHKI resmi menjadi mitra Kementerian Kesehatan RI melalui proses panjang. Tim Yankestrad Empiris Kemenkes RI setelah melakukan telaah mendalam menyimpulkan tiga hal berikut. Pertama, Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia (AHKI) telah menyelenggarakan pelatihan hipnosis bagi anggotanya dan sesuai dengan kriteria dalam rekomendasi Pokjanas Nomor 2 Tahun 2018 tentang pelayanan hipnoterapi.

 

Kedua, AHKI merupakan organisasi penyehat tradisional yang menyelenggarakan metode hipnoterapi. Pelayanan hipnoterapi yang dilakukan oleh AHKI sesuai dengan kriteria pelayanan kesehatan tradisional empiris dan bersifat aman serta tidak melanggar norma agama dan norma di masyarakat. Pelayanan hipnoterapi yang dilayankan oleh AHKI termasuk kedalam teknik olah pikir.

Dan ketiga, AHKI telah memiliki rumpun keilmuan/prinsip-prinsip dasar dalam kesehatan tradisional.

Adi W Gunawan berharap, ke depan AHKI bersama asosiasi atau lembaga pendidikan hipnoterapi lainnya bisa terus mengembangkan hipnoterapi ke jenjang lebih tinggi.

“Kita bermimpi Indonesia bisa jadi pusat riset pendidikan dan pelatihan hipnoterapi dunia. Karena sebenarnya di Indonesia punya banyak orang pintar, hanya selama ini belum terekspose keluar,” sebut pendiri Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology Surabaya, sebagai lembaga pendidikan hipnoterapi klinis di Indonesia itu. 

Harapan untuk memajukan hipnoterapi ke level lebih tinggi tidak berlebihan. Di antaranya bisa menetapkan standar baku dari mulai standar pendidikan, kompetensi, dan praktik hipnoterapi klinis.

“Kami berharap bisa membantu bangsa dan negara ini melalui hipnoterapi klinis,” imbuhnya.

Terpisah, Guru Besar Psikologi Klinis Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Kwartarini Wahyu Yuniarti, MMedSc., PhD, Psikolog mengatakan, tidak banyak ilmuwan yang menekuni hipnoterapi dan benar-benar fokus dalam mengembangkan keilmuannya sesuai level kompetensi minimal dan terjaga.

“Kata terjaga ini dibuktikan AHKI dengan adanya grup telegram yang tidak pernah ada hentinya dalam hal sharing kasus terus menerus. Ini yang membuat ilmu ini terjaga baik dari sisi pembaharuan ilmu hingga kode etik,” beber guru besar psikolog klinis yang juga hipnoterapis klinis ini.

Dari sisi keilmuan, menurut Kwartarini, pembaharuan juga didapat dari Eropa, Amerika dan Australia.

“Sebagai seseorang yang pernah beberapa tahun menjaga pendidikan magister psikologi profesi di Indonesia dan UGM, saya sangat bangga jadi bagian AHKI, sekaligus menjadi penjamin kompetensi di AHKI. Artinya, keilmuan di AHKI bisa dipertanggungjawabkan,” urai penasihat AHKI ini.

Ditambahkan, pusat pendidikan kompetensi hipnoterapi klinis AHKI yang ada di AWGI, saat ini bekerja sama dengan UGM serta enam pusat riset lainnya. Masing-masing Universitas Sumatera Utara, Universitas Gunadarma, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Kristen Satya Wacana, dan Universitas Udayana. Riset dilakukan berbasis bukti klinis (evidence based), serta kompetensi ahli sesuai teknik yang diterapkan di lembaga pusat kajian AHKI di AWGI.

“Dari riset yang saat ini berjalan, perubahan klinis benar-benr bisa ditunjukkan, baik pada tataran validitas dan relabilitas. Selain itu intervensi dan kompetensi hipnoterapis juga sangat tinggi dan andal,” ulasnya.

Pada akhirnya, Kwartarini menegaskan akan siap memublikasikan hasil riset tersebut jika sudah selesai.

Riset yang dilakukan AHKI berpusat di AWGI dan UGM serta perguruan tinggi lain itu didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) selama 3 tahun.

“Lembaga ini jelas tidak main-main dan pasti melakukan seleksi ketat terhadap proposal penelitian yang diajukan. LPDP tidak mungkin memberikan dana penelitian untuk keilmuan yang belum teruji kualitasnya,” imbuhnya.

Terkait riset dan penelitian itu, Adi W. Gunawan menambahkan, dari sisi teknik, yang digunakan adalah teknik hipnoterapi klinis level advanced, nonkonvensional, bersifat eklektik integratif.

Teknik-teknik terapi ini dikembangkan, selain berdasar hasil penelitian hipnoterapi terkini dipublikasi di jurnal-jurnal internasional, juga berdasar temuan di ruang praktik para hipnoterapis AHKI yang secara kolektif telah melakukan lebih dari 100.000 kasus terapi dan konseling sejak tahun 2005.

Tak heran jika ada peneliti yang juga dosen di salah satu universitas ikut dalam penelitian ini berkomentar, "kok bisa ya. Cuma begitu saja terapinya tapi klien bisa mengalami perubahan signifikan," ujarnya mengulang kalimat peneliti tersebut. (*)


Thursday, July 8, 2021

Apa Lagi yang Kurang?



Jagad maya publik plus 62 seketika heboh. Pasangan pesohor Nia Ramadhani dan suaminya Ardi Bakrie, tiba-tiba viral karena ditangkap polisi, diduga terkait narkoba. Selain Nia dan Ardi, sopir mereka berinisial ZN (43) juga ditetapkan sebagai tersangka.

Dari penangkapan mereka, polisi menemukan barang bukti sabu 0,78 gr. Penangkapan dilakukan Rabu (8/7/2021) sekitar pukul 15.00 WIB di rumah Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Dari keterangan, mereka sudah memakai sabu sekitar empat atau lima bulan belakangan ini. Hasil tes urine Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie pun dinyatakan positif sabu.

Atas berita itu, beragam komentar pun bermunculan. Tak hanya komentar, pertanyaan serius pun mengemuka. Apa lagi yang kurang dari kehidupan mereka? Dari sisi kekayaan, rasa-rasanya masih tergolong kaya. Dari sisi ketenaran, hampir semua warga negara ini tahu dan mengenalnya. Dari sisi kemapanan dan kehidupan sosial, rasanya juga berada di kasta yang cukup tinggi. Makanya wajar jika banyak yang bertanya, apa yang salah dari keduanya? Kenapa narkoba kemudian menjadi akrab dalam kehidupan mereka belakangan ini?

Sahabat semua yang selalu dalam perlindungan Allah, izinkan saya mengulas kasus ini dari kacamata seorang hipnoterapis klinis, yang terkadang kerap menangani klien kecanduan narkoba. Sejak membuka layanan praktik pada 2015 silam, sudah puluhan kasus kecanduan narkoba yang saya hadapi. Ternyata, ada banyak penyebab atau faktor yang menjadi pemicu seseorang kemudian menyentuh hingga akrab dengan narkoba.

Dalamnya laut masa bisa ditebak, tapi hati dan pikiran seseorang tak ada yang bisa mengetahuinya. Begitu juga kita semua, tak akan pernah tahu apa yang mendorong Nia bersama suaminya akrab dengan Narkoba.

Iseng atau coba-coba? Iseng atau coba-coba pun pasti ada pemicunya. Misalnya karena ada perasaan hampa, ada sesuatu yang kosong di hati dan pikiran, sehingga muncul ide untuk mengisinya dengan narkoba.

Bisa juga, akrab dengan narkoba karena ingin lepas dari persoalan. Tak sedikit orang yang punya persoalan, berharap bisa lepas atau lupa dengan mengonsumsi narkoba. Padahal, itu hanya memberikan efek sesaat. Begitu efek narkoba hilang, masalah akan tetap ada, bahkan semakin bertambah. Yang jelas, bahaya yang mengancam adalah efek kecanduan.

Ada juga yang terjerembab pada narkoba, karena tangki cintanya kosong. Meski sudah memiliki pasangan, bukan jaminan Nia – Ardi tangki cintanya selalu penuh. Sebagai manusia normal, keduanya semestinya bisa saling mengisi tangki cinta. Nah, boleh jadi masih ada yang kurang, sehingga kemudian menjadikan ada bagian atau tangki cinta yang masih kosong. Kekosongan itulah yang kemudian diisi dengan Narkoba.

Tapi sekali lagi, yang tahu pasti apa yang menjadi motif mereka terjerumus Narkoba adalah mereka berdua. Kita sebagai publik, sudah sepatutnya menjadikan kasus ini sebagai hikmah atau teladan agar hal ini tidak terjadi pada diri dan keluarga masing-masing.

Jika hati dan pikiran sedang hampa atau kurang nyaman, jangan sungkan untuk mencari terapis profesional. Curhat ke sembarang orang atau tempat, terkadang bukan menyelesaikan persoalan, malah menjadikan masalah semakin rumit.

Mari sayangi diri sendiri, sayangi keluarga, dengan mengisi tangki cinta dan kasih sayang kepada mereka secara maksimal. Dengan begitu, setiap diri kita akan selalu bahagia, selalu nyaman, dan bisa dijauhkan dari godaan barang yang memberikan kesenangan sesaat ini.

Bagaimana menurut sahabat? (*) 

 

 

 

 

Thursday, December 17, 2020

Takut Bawang Sejak Usia 4 Tahun, Ini yang Terjadi Pada Mitha


Sempat takut, Mitha kini gembira bisa memegang bawang.


Sebuah pesan di aplikasi WhatsApp (WA) tiba-tiba masuk. “Boleh minta tolong? Ada anggota nah fobia bawang. Ini wartawan di Balikpapan. Gara-gara fobia bawang, jadi ngga bisa masak,” sebut sahabat saya, Sumarsono, ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Balikpapan, yang juga penanggung jawab redaksi Surat Kabar Harian Tribun Kaltim.

Takut bawang? Mendengar keluhan itu, bagi orang pada umumnya, rasanya pasti janggal. Bagaimana mungkin, bawang yang nyata-nyata selalu ada di setiap dapur, kok ditakuti. Tapi itulah hebatnya cara kerja pikiran bawah sadar. Bagi orang lain aneh, tapi nyatanya itu terjadi.

Kebetulan, Selasa (15/12/2020) tadi, saya bertolak dari Berau ke Banjarmasin, karena diminta PWI Kalimantan Selatan, menjadi salah satu penguji dalam uji kompetensi wartawan (UKW) di kota seribu sungai itu. Pesawat yang saya tumpangi dari Berau, sempat transit di Balikpapan.

Tidak tanggung-tanggung, transitnya lebih 5 jam. Maka saya pun memanfaatkan momen transit itu untuk bertemu dengan wartawan Tribun Kaltim ini.  “Ketemu di bandara saja ya,” kata Sumarsono.

Sayangnya, pas di hari-H, Sumarsono tidak bisa mendampingi. Ada kesibukan lain. Ia pun meminta wartawannya langsung menjumpai saya. Wartawan itu biasa disapa Mitha.

Begitu transit di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, ternyata Mitha sudah menunggu di salah satu resto cepat saji berinisial KFC, yang ada di lantai kedatangan bandara terbesar di Kalimantan itu.

Ngobrol santai sejenak, Mitha ternyata berada di resto cepat saji itu bersama rekannya, Cipto, wartawan Kompas di Balikpapan. Mereka sepertinya akrab dan mengaku sering berkumpul dengan sesama wartawan untuk sekadar bercengkerama.

“Masalahnya, kalau sudah pas kumpul masak-masak, dan ada Mitha, kami harus memastikan jangan sampai ada bawang. Kalau ada makanan yang bentuk bawangnya terlihat, bisa gagal acara makan-makannya,” beber Cipto.


Seingat Mitha, ia tidak suka bawang sejak kecil. “Bahkan sebelum TK,” sebut pemilik nama lengkap Miftah Aulia Anggraini ini. Ia menduga, takut bawang terjadi sejak usia 4 tahun. Dari sejak usia itulah, Mitha tidak pernah menginjak dapur.

“Kalau pun harus ke dapur, terpaksa berjinjit,” ulas wanita 23 tahun ini. Maka jangan heran, Mitha menjadi istimewa dibandingkan wanita lain. Dia menjadi salah satu wanita yang tidak pernah memasak. “Masuk dapur saja jarang. Mau dapur bersih atau ngga, tetap saja masuk dapur berjinjit,” sambungnya.

Efek dari fobia bawang itu, Mitha mengaku sering mual, bahkan kepala pusing jika melihat bumbu dapur yang satu itu. “Pokoknya semua jenis bawang saya ngga suka. Bawang merah, bawang putih, bombay,” urainya.

Karena tidak memungkinkan melakukan terapi dengan teknik hipnoterapi klinis, saya membantu Mitha dengan teknik instan dan efektif yakni The Heart Technique (THT), ciptaan guru saya DR Adi W. Gunawan CCH.  

Dengan teknik tersebut, sembari duduk santai di pelataran KFC itu, Mitha saya bimbing untuk melakukan terapi mandiri. Dengan pasrah dan ikhlas, wanita berkaca mata ini mengikuti semua arahan dan bimbingan.

Secara bertahap, skala fobianya mengalami penurunan secara drastis. Dengan sentuhan akhir yakni teknik momen menyenangkan, rasa takut Mitha terhadap bawang akhirnya benar-benar bisa dinetralisir.

Tahap awal, untuk mencoba, sengaja saya munculkan gambar bawang di telepon seluler. Dia melihat gambar dan menyentuh layar HP dengan tenang. “Sudah biasa saja,” katanya. Setelah saya lakukan pengecekan terakhir, Mitha akhirnya benar-benar sudah melepas rasa takut itu.

Sedikit ngobrol dan diskusi tentang beberapa hal, Mitha dan rekannya pamit undur diri. Saya pun masih bertahan di lokasi itu sembari menunggu penerbangan lanjutan.

Tak sampai satu jam kemudian, melalui WA, Mitha mengirimkan pesan berisi foto dirinya yang memegang bawang merah dan bawang putih dengan senyumnya yang semringah. “Makasih banyak ya om, sudah membantu menolong,” tulisnya.

Ia pun, menyebarkan foto itu ke rekan-rekannya. “Semua pada heboh, pada senang soalnya tidak menyangka. Mereka mengucapkan selamat,” katanya. Apalagi mamanya, yang tentu sangat senang, karena harapan dirinya bisa memasak, kini sudah terbuka lebar.

“Pokoknya, luar biasa, seneng. Awal mau megang sempat gemetar, tapi pas sudah dipegang ga ada apa-apa.”

Semakin hari, Mitha semakin terbiasa melihat bawang. “Pikiran kaya mencari rasa yang dulu ngga suka sama bawang, tapi ngga ketemu. Kalau lihat jadi biasa saja,” ujarnya.

Ia pun mengaku semakin bersemangat, terutama ingin menghabiskan akhir pekan bersama teman-temannya untuk masak-masak bareng. “Kalau dulu, lihat gambar bawang, atau membayangkan bawang saja sudah mual,” pungkasnya. (*)

Sunday, December 6, 2020

Tak Sekadar Meracik Obat, Ternyata Ini Tugas Penting Seorang Apoteker



Adakah yang bisa menyebutkan profesi di bidang kesehatan, selain dokter dan perawat? Ayo, saya beri waktu untuk menyebutkannya. Bagaimana? Sudah disebutkan semuanya? Boleh tahu, apakah dari semua profesi yang disebutkan itu, ada yang menyebut profesi apoteker?

Alhamdulillah jika ada yang menyebut apoteker sebagai salah satu profesi di bidang kesehatan. Sebaliknya, jika ada yang belum menyebutkan profesi satu ini, maka menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) untuk semakin memopulerkan profesi vital ini.

Ya, semangat untuk semakin memperkenalkan profesi apoteker bisa terlihat dalam kepengurusan IAI Kaltim. Terdorong untuk semakin mengenalkan profesi apoteker, pengurus IAI Kaltim sengaja menggelar pelatihan jurnalistik. Tujuannya sudah jelas. Melalui tulisan, diharapkan masyarakat semakin teredukasi dan semakin mengenali seluk beluk dunia apoteker.

Ketua Pengurus Daerah IAI Kaltim apoteker Drs. M Nasruddin ketika membuka pelatihan secara virtual, (6/12/2020) menegaskan, perlahan namun pasti, profesi apoteker semakin dikenali masyarakat. Karena itu, organisasi yang dipimpinnya terus melakukan peningkatan kompetensi dan pengetahuan, salah satunya di bidang jurnalistik, agar apoteker semakin mampu menulis.

Ketika diberikan kesempatan memberikan materi seputar dunia jurnalistik, saya bisa merasakan semangat para apoteker, yang berusaha profesinya semakin dikenal. Jika selama ini mereka hanya berkutat pada menciptakan dan meracik obat, kali ini harus menorehkan gagasan melalui tulisan.

Ternyata, hasilnya tidak mengecewakan. Para peserta yang terdiri dari para apoteker dari berbagai daerah di Kaltim itu mampu menulis secara mumpuni. Hanya perlu sedikit sentuhan, tulisannya sudah layak dimuat di media massa.

Banyak pemahaman dan wawasan baru yang saya dapatkan ketika mengampu pelatihan ini. Betapa seorang apoteker bukan sekadar paham soal obat. Lebih dari itu, ada tugas berat seorang apoteker untuk bisa memastikan, bagaimana proses pembuatan dan peracikan obat, sampai memastikan obat itu bisa sampai di tangan pasien dengan tepat.

Apalagi dalam waktu dekat, akan ada proses distribusi vaksin Covid19. Ada peran penting yang harus dijalankan para apoteker untuk memastikan distribusi vaksin ini bisa aman hingga proses vaksinasi nanti.

Saya pun membayangkan, apa jadinya jika seorang dokter dan paramedis lainnya, tidak didukung oleh apoteker andal. Maka keberadaan apoteker jelas tidak dapat dipisahkan dalam proses penyembuhan pasien.

Dalam pusaran industri farmasi pun, betapa seorang apoteker juga memerlukan dukungan penting dari pemerintah. Ini bisa saya simpulkan saat membaca tulisan dari Ketua Pengurus Daerah IAI Kaltim, apoteker Drs. M Nasruddin. Disampaikan, dalam kondisi bencana, salah satu yang juga sangat krusial adalah ketersediaan obat. Jika tidak dilakukan manajemen yang tepat, akan menjadi blunder dan merugikan masyarakat, apalagi jika terjadi kepanikan.

Atas alasan itu pula, tidak berlebihan jika Nasruddin mengusulkan agar Kaltim membangun industri farmasi. Sehingga pelayanan kesehatan di provinsi ini akan semakin optimal. Belum lagi jika nanti ibu kota negara benar-benar pindah ke provinsi ini.

Jangan tanya soal sumber daya manusia. Kaltim sudah punya semua. Tak hanya sumber daya manusia, sumber daya alam Kaltim juga sangat mendukung industri farmasi. Bukankah banyak obat dengan kearifan lokal Kaltim yang masih bisa dikembangkan?

Sehat, memang bukanlah segala-galanya. Tapi patut diingat, segala-galanya tidak akan bisa dilakukan jika kondisi sedang tidak sehat. Maka mulai sekarang, jika bicara soal kesehatan, jangan hanya mengingat dokter dan perawat. Tanamkan di pikiran bawah sadar, ada satu lagi profesi yang memberikan andil penting, yaitu apoteker.

Bagaimana menurut sahabat? (*)

 

 

 

Sunday, June 21, 2020

Ternyata ESQ-Hypnotherapy Itu Mudah



Hipnoterapi itu mudah. Kesan itulah yang muncul dari para peserta ESQ-Hypnotherapy Batch 2 yang digelar secara virtual oleh ESQ Leadership Center.

Walau digelar secara daring dengan aplikasi Zoom, nyatanya tidak mengurangi makna dari pelatihan itu sendiri. Energi pelatihan itu tetap maksimal dan bisa dirasakan dengan baik oleh para peserta. 
 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes