Monday, November 16, 2015

Barang Semahal Apa pun Bisa Dibeli. Keceriaan Anak?


Saat membantu klien dengan teknik hipnoterapi, cukup banyak fakta yang muncul sebagai penyebab atau akar masalah yang menyebabkan klien merasa sakit hati, dendam, hingga luka batin dan trauma. Terutama untuk klien anak-anak, sering kali perilaku orang tua justru yang menjadi penyebab utama.

Marah terhadap anak yang merusak sebuah benda, beberapa kali saya temukan menjadi penyebab utama anak menjadi mudah cemas, tidak percaya diri, hingga rasa takut yang berlebihan. Reaksi orang tua boleh jadi memang spontan dan tidak bermaksud membuat anak trauma. Namun, reaksi spontan itulah yang justru menjadi sumber masalah.


Reaksi spontan itu juga muncul dari kebiasaan. Kalau memang orang tuanya mudah emosi dan mudah marah, maka reaksi spontan yang muncul jelas akan marah dan emosi jika melihat kejadian tertentu. Sebaliknya, jika terbiasa sabar dan tenang dalam menghadapi masalah, maka sikap orang tua pasti juga tidak langsung marah ketika mendapati anak merusak sesuatu. 

Seorang mahasiswi, datang dengan keluhan tidak percaya diri. Dia bahkan berusaha bergabung dengan beberapa unit kegiatan mahasiswa (UKM), untuk mengatasi rasa tidak percaya diri yang sangat mengganggu. Mahasiswi perguruan tinggi negeri di Kaltim ini mengaku tidak berani terlalu menatap mata lawan bicaranya. Kecuali dengan temannya yang sudah sangat akrab, barulah dia berani.

Untuk bertemu dengan dosen, adalah hal yang menurutnya paling mengerikan. Beruntung, ada sahabatnya yang selalu menemani. Yang kerap menermani adalah sahabatnya sejak di bangku SMA. Namun dia menyadari, terkadang ada satu waktu, sahabatnya tadi tidak bisa menemani, dan mahasiswi ini lebih memilih mengurungkan bertemu dosennya sampai sahabatnya bisa menemaninya.

Dalam formulir yang dia isi sebelum sesi hipnoterapi, rasa malu, cemas, dan takut, berada di level tertinggi, yakni di angka 10. Dari data ini sudah jelas, mahasiswi tersebut memang sangat krisis rasa percaya diri. Padahal gadis ini tergolong sangat cerdas, terbukti dia bisa lulus tes masuk perguruan tinggi negeri dan masuk jurusan favorit di kampus tersebut.

Saat sesi hipnoterapi, ternyata ada beberapa kejadian yang menjadi penyebab mahasiswi ini tidak percaya diri. Namun, akar masalah paling utama adalah ketika dia berusia 4 tahun. Ketika itu, dia memecahkan hiasan kristal berbentuk naga milik mamanya, oleh-oleh dari papanya ketika pulang dari Hongkong.

“Saya dihukum  mama, disiram air berkali-kali di kamar mandi. Katanya barang itu mahal, makanya mama marah,” begitu kata mahasiswi tersebut dalam sesi hipnoterapi. Padahal, dia melakukan itu tidak sengaja. “Patungnya bagus, unik. Makanya saya ambil. Saya pengen lihat lebih jelas,” kata dia. Patung kristal itu sebelumnya disimpan dalam sebuah rak khusus. Saat berusia 4 tahun, dia harus menjangkau benda itu dengan memanjat kursi. 

Sahabat. Benda semahal apa pun, masih bisa dibeli lagi. Bahkan benda dari negara sejauh mana pun, masih bisa dijangkau. Namun, perasaan luka batin anak, bisakah dengan mudah disembuhkan? Anda bisa membeli barang semahal apa pun. Tapi coba dijawab, bisakah Anda membeli keceriaan anak? Bisakah Anda menunjukkan, toko mana yang menjual keceriaan. Tolong tunjukkan, di toko mana bisa membeli percaya diri untuk anak? Haruskah rasa ingin tahu anak terhenti hanya karena hukuman dari orang tua. Haruslah eksplorasi kecerdasan anak terhambat karena sudah berganti dengan perasaan cemas dan rasa takut yang berlebihan?

Ingat, benda yang rusak bisa dibeli lagi. Tapi kalau hati anak yang rusak, perlu waktu untuk memperbaiki. Bahkan terkadang hati yang rusak benar-benar sulit dipulihkan, jika luka hatinya sudah terlanjur sangat dalam.  

Terhadap anak-anak, saya kerap menyampaikan bahwa, benda yang rusak karena dipakai, jauh lebih baik ketimbang rusak karena kelamaan disimpan. Itu sebabnya, anak-anak menjadi berani melakukan eksplorasi dan bereksperimen terhadap benda baru yang dijumpai. Kalau pun kemudian ada yang rusak, ya itulah ongkos belajar yang harus dibayar. Karena itu, saat memberikan anak-anak mainan, sebaiknya siapkan diri dan mental Anda, bahwa mainan itu akan rusak dan harus siap menghadapi kenyataan tersebut. Bagaimana menurut Anda?


Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...