Wednesday, November 18, 2015

Dongkrak Prestasi dengan Hipnoterapi

Tulisan ini lahir atas dorongan salah satu sahabat saya di media sosial Facebook. Belum lama ini, saya memasang foto sedang melakukan proses terapi massal terhadap kontingen Tapak Suci Putera Muhammadiyah asal Berau. Mereka akan bertanding di kejuaraan tingkat Kaltim - Kaltara, di Auditorium Universitas Mulawarman, Samarinda. 

Proses terapi terjadi secara dadakan. Awalnya, saya hanya berniat menemui rombongan karena memang saya mengenal para guru pembimbing, juga atlet yang merupakan teman sekolah anak saya ketika di Berau. Di sela obrolan santai, Soleh, Saddam, dan Agus, pelatih sekaligus guru pendamping kontingen ini, meminta saya untuk menyiapkan kondisi psikologis para atlet ini agar lebih maksimal. Secara teknik, mereka jelas sudah siap bertanding. Tapi secara mental? Inilah yang sulit diketahui dan diukur. 


Saya sendiri, tidak mengira akan diminta melakukan proses ini. Rupa-rupanya, Saddam, sang guru pendamping, masih ingat ketika saya pernah melakukan proses terapi massal kepada para muridnya, termasuk anak saya di dalamnya, saat akan bertanding dalam kejuaraan drumband tingkat kabupaten Berau. 

Ketika itu, SD Muhammadiyah Tanjung Redeb yang baru pertama kali ikut dalam kejuaraan tahunan itu, berhasil meraih juara dua. Ditambah menyabet predikat gitapati terbaik pertama, juga menjuarai beberapa nomor lain, termasuk anak saya meraih juara 2 untuk kategori solo horn dan juara 2 untuk duet horn. 

SMP Muhammadiyah Berau juga saya lakukan terapi yang sama. Hasilnya juga sama, meraih juara kedua. Padahal juga baru pertama kali ikut kejuaraan ini. Ditambah meraih juara pertama battle drumb, juara pertama gitapati, serta beberapa piala lain. 

Begitu pula SMA 1 Berau, juga binaan dari pelatih yang sama, pun sempat saya lakukan proses terapi massal. Hasilnya, meraih juara umum dalam ajang yang digelar awal 2015 itu, serta menjuarai beberapa kategori lain. 

Tanpa pikir panjang, permintaan terapi massal untuk kontingen ini langsung saya sanggupi. Para atlet juga bersedia. Apalagi, ini adalah pengalaman pertama bagi mereka, bertanding di tingkat provinsi. Mereka mencoba unjuk kebolehan membawa nama daerah meski harus rela melintasi perjalanan darat Berau - Samarinda yang sangat melelahkan. Bukan karena kabut asap sehingga tidak bisa naik pesawat, melainkan memang dana yang sangat terbatas. 

“Adakah perasaan tidak nyaman, gugup, takut, was-was, cemas, kurang percaya diri, atau perasaan lain menjelang pertandingan ini?” tanya saya kepada mereka. Para atlet ini pun mengangguk. Satu demi satu, mereka menyampaikan apa saja perasaan tidak nyaman yang muncul. Skalanya memang tidak tinggi. Jika 10 adalah angka tertinggi, perasaan tidak nyaman yang mereka rasakan berada di angka 4 sampai 6. 

Dengan teknik tertentu, saya pun membimbing para atlet ini mengalami perasaan rileks yang dalam dan menyenangkan. Meski hanya duduk bersila dan melingkar di halaman auditorium kampus terbesar di Kaltim itu, para atlet ini tetap nyaman mengikuti bimbingan dan arahan yang saya berikan. 

Setelah saya yakin mereka berada pada kondisi profound somnambulism (kondisi kedalaman paling tepat untuk melakukan proses pada pikiran bawah sadar), saya pun melakukan teknik khusus untuk membersihkan semua perasaan tidak nyaman yang ada dalam diri masing-masing atlet ini. 

Begitu tuntas, perlahan mereka dikembalikan lagi ke kondisi semula. Bangun segar, sadar sepenuhnya, serta pandangan mata terang dan nyaman. Hasilnya, para atlet mengaku merasa lebih nyaman dan plong, dan benar-benar siap bertanding tanpa beban. 

Hasilnya memang tidak sia-sia. Meski baru pertama kali ikut serta di ajang bergengsi tingkat provinsi, empat atlet dari Berau ini berhasil meraih tiga medali perak dan satu perunggu. 

Lantas bagaimana dengan peran motivator, yang selama ini juga kerap dihadirkan untuk menyiapkan kondisi atlet? Motivator memang penting, untuk lebih memberikan semangat juang. Tetapi, motivasi yang diberikan, efeknya baru akan bekerja jika kondisi atlet dalam kondisi netral, alias tidak ada masalah sama sekali. Kalau masih ada masalah, walaupun diberi motivasi berkali-kali, ya hasilnya akan nihil. Itu sama halnya sebuah mobil balap, yang pedal gasnya sengaja diinjak sangat kuat, dengan harapan mobil bisa melaju lebih cepat. Tapi, sebelum pedal gas diinjak, jangan lupa untuk melepas rem tangannya lebih dahulu. Selama rem tangan masih belum dilepas, maka laju mobil akan tetap terhambat. Nah, pedal gas ini ibarat motivasi, sementara rem tangan adalah masalah berkaitan dengan mental atau pikiran. 

Saat atlet akan bertanding, baik untuk nomor perorangan atau olahraga beregu, diperlukan kondisi fisik dan psikis yang betul-betul siap. Atlet tidak hanya dituntut menguasai teknik bertanding, tapi juga dituntut memiliki mental yang benar-benar siap. Kenapa? Sedikit saja ada muncul perasaan tidak nyaman, jelas akan berpengaruh pada saat bertanding. Bukankah atlet juga makhluk sosial, yang tidak bisa dilepaskan dari persoalan hubungannya dengan orang lain. Baik dengan suami atau istri, orang tua atau pun mertua, termasuk dengan teman, sahabat, bahkan kekasihnya. Bahkan masalah dengan dirinya sendiri. 

Dengan bantuan terapis, persoalan tidak nyaman inilah yang perlu dibereskan dulu sampai tuntas. Kalau perlu sampai melibas akar masalahnya. Dengan begitu, atlet akan benar-benar bertanding dengan kesiapan utuh 100 persen, baik secara teknik maupun secara mental. Begitu masalah dituntaskan, atlet akan mampu bertanding lepas tanpa beban. Bukankah selama ini para pelatih maupun ofisial selalu meminta atlet bermain tanpa beban, tanpa perlu memikirkan menang atau kalah. Teorinya memang seperti itu. Tapi bagaimana caranya? Inilah yang tidak banyak diketahui. 

Itu sama saja ketika seseorang mengalami masalah, kemudian ada yang berkata, “sudah lupakan saja, ikhlaskan saja.” Ya, itu teorinya. Tapi bagaimana cara melepas dan mengikhlaskannya? Ini yang susah. 

Karena itu, ada baiknya para atlet dibekali teknik khusus. Sehingga, ketika ada masalah atau ada perasaan tidak nyaman yang muncul, bisa melakukan terapi ke diri sendiri. Ada banyak teknik yang bisa dipelajari. Sehingga para atlet tidak hanya punya kemampuan memperbaiki tekniknya bertanding, tapi juga memiliki kemampuan menyelesaikan masalahnya sendiri. Bagaimana menurut Anda? 


Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...