Sunday, November 15, 2015

Masa Lalu… Biarlah Masa Lalu…

“Masa lalu… biarlah masa lalu…, jangan kau ungkit, jangan ingatkan aku…” Demikian kata Inul Daratista dalam lagunya berjudul Masa Lalu. Setiap orang tentu memiliki masa lalu. Baik atau buruk, masa lalu telah memberikan banyak makna dalam kehidupan sekarang dan yang akan datang. Bagi sebagian orang, ada saja yang sulit melepas masa lalunya. Apalagi jika kejadian di masa lalu itu berisi emosi dengan intensitas yang sangat tinggi. Otomatis, masa lalu yang seperti ini hanya akan menjadi beban dan membuat seseorang sulit memikirkan masa depan.

Apakah tidak boleh mengingat masa lalu? Tentu saja bukan tidak boleh. Namun, jika terlalu sering melihat masa lalu, otomatis masa depan tidak kebagian energi sama sekali. Ini ibarat mengemudi mobil. Bayangkan jika saat mengemudi mobil, yang lebih banyak dilihat adalah spion, bukan kaca utama bagian depan. Tentu saja risiko mengalami kecelakaan, sangat tinggi. Kaca utama di depan ibaratnya adalah masa depan. Sementara kaca spion baik di sebelah kiri maupun kanan serta tengah, adalah gambaran dari masa lalu.

Saat mengemudi, tentu sesekali perlu juga melihat kaca spion, untuk mengantisipasi ada atau tidaknya hambatan dari bagian belakang mobil. Begitu pula saat merancang masa depan, sesekali juga diperlukan untuk melihat masa lalu, hanya sebagai pengalaman berharga dan sekadar untuk diambil hikmahnya. Sehingga jika di masa lalu pernah mengalami kegagalan atau kesalahan dalam melakukan sesuatu, maka di masa depan tidak akan terjadi lagi.

Sahabat, di ruang praktik hipnoterapi, saya cukup banyak menemukan masalah yang berhubungan dengan masa lalu. Begitu banyak klien menyimpan emosi yang sangat tinggi dengan masa lalunya. Dendam, sakit hati, trauma, kecewa, adalah emosi yang kerap menyertai masa lalu dari klien saat menjalani sesi hipnoterapi.

Disadari atau tidak, energi masa lalu yang terlampau besar hanya akan menguras energi kita setiap hari. Seseorang menjadi malas memikirkan masa depan, bahkan malas memikirkan diri sendiri. Hidup dengan masa lalu, sama halnya memikul beras satu karung di pundak. Bisa dibayangkan, beratnya hidup jika harus memikul beban yang cukup berat seperti itu.

Lantas, kalau beban itu bisa dibuang atau dilepaskan, kenapa harus terus dibawa? Tentu keputusan untuk melepas atau terus membawa beban itu, ada di tangan masing-masing klien. Karena faktanya, bagi sebagian orang, tak mudah untuk melepas masa lalu, walau sangat membebani.

“Enak saja disuruh melupakan. Sakit banget rasanya. Saya ngga rela, ngga ikhlas,” begitu kira-kira kata mereka yang enggan ‘move on’ dari masa lalu. Sementara Anda menyimpan masa lalu yang menyakitkan, boleh jadi orang yang menjadi menyakitkan itu tetap hidup tenang dan bahagia. Sementara Anda tersiksa dengan masa lalu, orang ini bahkan belum tentu ingat dengan Anda, dan mungkin sudah melupakan kejadiannya. Lalu, siapa sebenarnya yang mengalami kerugian?


Jadi, pilihannya sudah jelas. Buang masa lalu Anda, dan mulailah menata masa depan. Bagaimana menurut Anda?    

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...