Tuesday, September 19, 2017

Karena Gengsi Orang Tua, Anak Jadi Korban


Belum lama ini, datang seorang ibu membawa anaknya. Sang anak sebelumnya dikeluhkan oleh guru di sekolah, karena sering bermasalah. Dari mulai tidak mau menulis, tidak mengerjakan tugas, bahkan lebih suka menyendiri. Pihak sekolah merekomendasikan agar anak dibawa ke psikolog. Setelah dibawa ke psikolog, ternyata sang psikolog juga merekomendasikan agar anaknya juga menjalani sesi hipnoterapi agar lebih maksimal. Atas rekomendasi psikolog itulah, ibu ini membawa anaknya untuk jumpa dengan saya.


Seperti biasa, saya tidak langsung fokus dengan sang anak. Saya harus mengumpulkan informasi dari ibunya, dari masalah pola asuh serta seberapa besar peran kedua orang tuanya dalam mendidik anaknya. Dengan mudah bisa diketahui, ternyata masalah yang dialami anak disebabkan pola asuh orang tua yang kurang tepat. Tidak ada kerja sama dari kedua orang tua, dalam mendampingi dan mendidik buah hatinya sendiri.

“Bapaknya tidak pernah mau tahu urusan anaknya. Semua saya yang mengurusi,” kata ibu ini dengan mata berkaca-kaca. Perlahan-lahan mulai terurai bahwa masalah yang dialami anaknya, dikarenakan kurangnya kasih sayang dari kedua orang tuanya, terutama minimnya kehadiran dari sosok ayah.  
Sahabat mungkin ada yang mengalami hal sama yakni menganggap seorang anak bermasalah. Padahal  sejatinya, masalah berawal dari kedua orang tuanya sendiri. Berapa banyak orang tua yang beranggapan bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan uang.

Dalam kasus di atas, si anak sudah duduk di kelas 4 SD. Namun, hingga kini belum bisa baca tulis. Lantas kenapa bisa naik kelas? Ya itu tadi, dengan pola pendekatan tertentu pada pihak sekolah, si anak terus melenggang naik kelas. Kedua orang tuanya rela membayar berapa saja, anak anaknyua naik kelas. Orang tua memang berhasil menghindari rasa malu dan gengsi jika anaknya tinggal kelas. Namun, yang tidak disadari orang tua adalah, mereka sedang ‘membunuh’ masa depan anaknya secara perlahan-lahan.

Untuk apa anak terus naik kelas, tapi nyatanya anak tidak bisa apa-apa. Jika hanya nilai akademis yang dikejar, tentu tak diperlukan proses pendidikan. Cukup buat kertas rapor sendiri, kemudian cetak sendiri nilai dengan angka sesuai keinginan. Bukankah pendidikan tidak sekadar nilai atau angka-angka di atas kertas?

Sampai di sini, ibu ini mulai menyadari kekeliruannya. Hanya karena gengsi, anaknya dikorbankan dengan terus naik kelas namun tidak ada perkembangan berarti. Bahkan rela beberapa kali pindah sekolah, asal naik kelas. Pihak sekolah lama tentu senang, ‘biang masalahnya’ hilang. Orang tua pun senang karena gengsi tetap terjaga. Tapi sekali lagi, kondisi perkembangan mental anak akan semakin terpuruk.

Lalu, bagaimana dengan si anak. Apa perlu diterapi? Dengan penuh hormat saya sampaikan kepada ibu ini, saya belum bersedia melakukan proses terapi. Saya baru bersedia melakukan terapi pada anaknya, jika suaminya, atau ayah dari sang anak ini juga bersedia datang. Kenapa harus datang? Agar ada proses edukasi dan pemberian pemahaman yang baru pada kedua orang tua, bagaimana menjalankan pola asuh yang tepat. Kalau ayahnya sendiri tidak peduli dengan anaknya, tentu aneh kalau berharap orang lain, termasuk saya sebagai terapis, diminta peduli.

Sangat percuma terapis melakukan proses terapi pada anak, namun kedua orang tua tidak melakukan perbaikan pola asuh apa pun. Ingat, hipnoterapi bukan tempat untuk ‘laundry’ anak bermasalah. Anak yang datang ‘kotor’, setelah diterapi diharapkan bersih. Jelas bukan seperti ini.

Yang lebih penting adalah, bagaimana kedua orang tua memahami dan menyadari perlunya perubahan dalam pola asuh. Jika pemahaman ini sudah ada, maka, boleh jadi anak tidak perlu diterapi, pasti perilakunya bisa berubah. Kenapa? Karena sumber masalahnya sudah memperbaiki pola asuhnya. Jika kemudian anak tetap diterapi, tentu akan sangat baik. Terapi yang dilakukan dimaksudkan agar anak mendapat pemahaman baru sekaligus membantu membentuk konsep diri dan harga diri positif bagi anak itu sendiri.  

Tidak hanya itu, saya pun menawarkan kepada ibu ini, termasuk nanti suaminya jika bersedia, agar mau menjalani sesi terapi. Ini juga penting dilakukan, karena dari sesi konsultasi yang terjadi, terasa ada endapan emosi masa lalu dari ibu ini yang perlu dilepaskan. Begitu juga sikap keras suaminya, pasti disebabkan oleh pola asuhnya di masa lalu, yang juga perlu diputus mata rantainya.

Sekali lagi, sejatinya tidak ada anak yang bermasalah, karena umumnya yang bermasalah adalah kedua orang tuanya. Bagaimana menurut sahabat semua? (*)


  

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...