HYPNO NEWS

Tuesday, November 3, 2015

Tak Merasa Miskin

Syahdan, seorang anak lulusan SD yang tinggal di pinggiran Kota Pahlawan, Surabaya, harus rela berjualan koran untuk mendapatkan sekadar uang jajan. Maklum, bapaknya hanya bekerja sebagai tukang tambal ban di pinggir jalan raya. Sesekali bapaknya menyambi sebagai pengayuh becak, juga jadi penjaga malam sebuah kawasan perumahan.
Bocah ini sama sekali tak keberatan ketika diajarkan bapaknya berjualan koran, demi mendapatkan uang jajan. Dia menjalani hari harinya dengan gembira. Di antara penjual koran lainnya yang berjualan di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum, dagangannya selalu habis lebih dulu. Pembawaannya yang ceria dan tanpa beban, membuat sebagian pembeli merasa nyaman bahkan ada yang berlangganan.
Rupa-rupanya, ada hikmah di balik "kewajiban" berjualan koran itu. Saat baru masuk sekolah menengah pertama, bapaknya tutup usia. Kondisi ekonomi keluarga bocah ini semakin merosot drastis. Rumah peninggalan bapaknya pun sampai terjual.


Ketika itu ibunya langsung merantau ke Jakarta bekerja serabutan. Sementara bocah ini harus hidup sendiri, untuk meneruskan pendidikannya.
Belas kasihan tetangganya pun mengalir. Ada yang memberikan nasi, uang jajan, atau memberi uluran tangan dalam bentuk lain. Namun bocah ini merasa dia tidak perlu dikasihani. Dia tidak pernah merasa miskin. Dia tidak mau hidup atas belas kasihan orang lain.
Dia tetap tekun belajar. Membaca buku-buku bekas, majalah bekas pemberian dari teman-temannya. Begitupun ketika berjualan koran, dia selalu menyempatkan diri untuk membaca isi koran tersebut.
Bocah ini kemudian berani menyusul orang tuanya merantau ke Jakarta. Sambil bekerja dia tetap meneruskan pendidikannya. Dia sadar betul, ekonomi boleh pas-pasan. Tapi impian tidak boleh berhenti begitu saja. Karena itu, dia tetap mengejar semua mimpi-mimpinya. Hingga akhirnya, dia bisa bekerja di sebuah perusahaan, dan kemudian bisa membelikan sebuah rumah sederhana untuk orang tuanya.
Sahabat, izinkan saya untuk menyampaikan bahwa bocah itu adalah diri saya sendiri. Saat ini saya memiliki pemahaman, bahwa yang paling utama adalah bagaimana mental baja dan impian harus tetap dimiliki oleh setiap orang. Kondisi ekonomi boleh miskin tetapi mental tidak boleh miskin. 

Semangat tidak boleh miskin karena sejatinya semua berawal dari pikiran bawah sadar. Selama pikiran bawah sadar mengatakan bahwa ini bisa, maka tidak ada yang tidak mungkin. Semua mungkin dan semua bisa terjadi. Sebab saat sahabat mengatakan tidak bisa, itulah mental blok yang harus segera diatasi. Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan tulisan ini, terima kasih.

Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes