Friday, December 4, 2015

Lima Jurus Pengubah Perilaku Anak


Salah satu cara yang mudah untuk mengubah atau meningkatkan perilaku anak agar lebih baik adalah dengan menembus faktor kritis. Seperti sudah sering diulas di berbagai artikel, pikiran bawah sadar memegang peranan 95 sampai 99 persen dalam mengendalikan seseorang. Sementara pikiran sadar hanya berperan 1 sampai 5 persen. Itu sebabnya, perubahan akan sulit terjadi jika tidak dilakukan melalui pikiran bawah sadar.

Persoalannya, tidak mudah memasukkan data atau informasi baru ke pikiran bawah sadar, karena ada pagar pelindung yang disebut critical factor alias faktor kritis. Itu sebabnya, hal utama yang perlu dilakukan adalah bagaimana bisa menembus pagar pembatas tersebut.


Dalam pemahaman saya saat ini, sebagai trainer Hypnotherapy for Children alias hipnoterapi anak, ada lima cara untuk bisa menembus faktor kritis anak. Lima jurus itu diperlukan agar lebih mudah memasukkan sugesti atau pesan baru kepada pikiran bawah sadar anak. Kelima jurus itu masing-masing adalah: figur dengan otoritas tinggi, emosi dengan intensitas tinggi, repetisi ide, identifikasi, dan terakhir adalah relaksasi pikiran.

Baiklah, saya akan coba ulas satu demi satu. Pertama, figur dengan otoritas tinggi. Sahabat, figur dengan otoritas tinggi, sangat mudah memasukkan informasi ke pikiran bawah sadar. Dalam hal ini, seseorang yang sangat disegani, dikagumi, bahkan ditakuti oleh anak, akan memiliki peranan penting dalam memberikan informasi yang langsung diserap pikiran bawah sadar tanpa penolakan. Contoh figur otoritas tinggi ini adalah ayah, ibu, kakek, nenek, guru, pemuka agama, termasuk artis atau siapa pun yang menjadi idola sang anak.

Itu sebabnya, sebagai orang tua yang menjadi figur dengan otoritas tinggi, ada baiknya tidak mudah menyampaikan kata-kata atau kalimat yang berisi sumpah serapah, cacian atau makian kepada anak. Kenapa? Karena pikiran bawah sadar akan mengakses informasi itu dengan mudah dan akan dijadikan program baru dan segera dijalankan dengan baik tanpa penolakan.

Kedua, emosi dengan intensitas tinggi. Emosi yang dimaksud di sini adalah berbagai emosi, namun intensitasnya cukup tinggi. Misalnya kesedihan mendalam, kecewa, marah, bahkan gembira, tertawa, atau suasana hati yang sangat senang. Ketika anak dalam kondisi emosinya sedang memuncak, baik itu marah atau gembira, berikan input data yang baik demi kesuksesannya kelak.

Sebagai contoh, ketika anak melakukan kesalahan dan dia sangat sedih karena kena marah, maka ada baiknya tidak ditambah dengan memasukkan sugesti yang tidak tepat. Saat anak sedang sedih, sementara orang tua atau guru justru memasukkan kata-kata seperti nakal, bodoh, kurang ajar, dan berbagai kata negatif lainnya, maka dengan cepat akan diterima oleh pikiran bawah sadar. Kenapa? Saat anak sedih atau gembira, maka pikiran bawah sadar sedang terbuka lebar tanpa pagar pembatas sama sekali. Sehingga informasi ini akan menjadi program baru dan diterima dengan baik.

Begitu pula ketika anak terlihat senang, bahkan berteriak kegirangan setelah berhasil menyelesaikan sebuah permainan, ada baiknya jadikan kesempatan itu untuk memasukkan sugesti yang tepat.

“Wah kamu menang ya, Nak? Hebat! Kamu memang anak yang selalu berusaha melakukan terbaik. Terbukti kamu bisa menyelesaikan permainan itu dengan baik. Mudah-mudahan, di sekolah kamu juga bisa seperti itu.” Demikian kalimat yang bisa disampaikan saat anak berhasil menuntaskan permainannya.

Umumnya, orang tua menyampaikan yang sebaliknya. “Kalau sudah main game lupa waktu. Giliran sekolah malasnya minta ampun, disuruh belajar susah,” gerutu orang tua pada umumnya. Akibatnya, informasi itulah yang justru masuk ke pikiran bawah sadar. Celakanya, informasi itu disampaikan saat anak sedang girang.

Selanjutnya adalah repetisi ide, alias ide yang disampaikan berulang-ulang. Silakan dicek, anak yang sering kena marah dan dikatakan nakal, bodoh, kurang ajar, pemalas, dan berbagai sumpah serapah lainnya, akan tumbuh menjadi anak yang memang nakal, bodoh, pemalas dan sikap negatif lainnya. Semakin sering disampaikan, maka pikiran bawah sadar melakukan konfirmasi dengan tegas dan jelas bahwa semua kata-kata itu harus dijalankan dengan baik. Bahkan, ketika tiba-tiba ada orang yang berkata bahwa dia pandai dan cerdas, malah ditolak dengan mentah-mentah. Kenapa? Sebab pikiran bawah sadar memang tidak pernah mendapat kata-kata pandai dan cerdas. Sehingga, kedua kata itu justru dianggap aneh dan tidak diterima.

Keempat adalah Identifikasi. Yang dimaksud dengan identifikasi adalah meniru sosok atau figur tertentu, karena memang anak sangat mengaguminya. Sebagai contoh, ketika anak lebih sering nonton sinetron Jelek-Jelek Serikaya, maka semua sikap dari para pemain itu akan ditiru dan dilaksanakan oleh pikiran bawah sadar dengan cepat. Karena itu, saya termasuk sangat setuju jika ada gerakan menghentikan tayangan televisi yang merusak anak. 

Sayangnya, rating masih menjadi berhala yang paling disembah para pengelola stasiun televisi. Sehingga memang tidak mudah menghentikan tayangan tak berguna, karena justru ‘sampah’ itulah penghasil uang yang melimpah. Jalan utama adalah orang tua yang melakukan filter agar anak tidak menonton tayangan seperti ini.

Termasuk, anak akan dengan mudah melakukan perbuatan yang tidak baik, hanya karena ingin diterima oleh kelompok atau geng tertentu. Misalnya anak dengan rela mau disuruh mencuri di kantin sekolah, sebagai syarat untuk bisa diterima di salah satu geng di sekolah itu.      

Cara terakhir adalah dengan relaksasi pikiran. Cara kelima inilah yang saya lakukan sebagai hipnoterapis, untuk bisa memasukkan program baru ke pikiran bawah sadar. Cara kelima ini boleh dibilang sebagai cara yang paling efektif dan lebih cepat ketimbang keempat cara yang ada di atasnya. Namun demikian, meski hipnoterapis sudah menjalankan tugasnya, tetaplah memerlukan dukungan kedua orang tua untuk menjaga kondisi anak agar terus seperti yang diharapkan.

Bagaimana menurut Anda?




Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...