BREAKING NEWS

Thursday, December 17, 2015

Membahagiakan Ego Personality


Dalam tulisan sebelumnya, saya beberapa kali menyinggung soal ego personality (EP) alias bagian diri. Di dalam setiap diri seseorang, sejatinya terdapat banyak sekali EP. Nah, EP ini pula yang terkadang menjadi penyebab timbulnya masalah. Di ruang terapi, hipnoterapis tak jarang harus berurusan dengan EP. Ada yang cukup berurusan dengan satu EP, namun beberapa kali juga bersentuhan dengan beberapa EP secara simultan.

Dua hari lalu, saat mendapat kesempatan mengikuti workshop bersama penulis novel ternama Indonesia, Andrea Hirata di Bogor – Jawa Barat, secara tidak langsung saya membahagiakan beberapa bagian diri saya. Di antara yang berbahagia atas perjalanan saya itu adalah EP yang suka wisata kuliner, EP yang gemar berpetualang, dan satu lagi dan paling utama adalah EP penulis.


Ketiga EP ini benar-benar merasa bahagia dan terpuaskan. Namun saya juga harus memberi tahu EP yang lain agar tidak melakukan sabotase atau menghalangi kebahagiaan dari ketiga EP yang sedang dominan tersebut.

Sebagai contoh, bagian diri yang suka kuliner saya manjakan dengan beberapa makanan yang memang jarang ada di Samarinda. Ada makanan toge goreng, soto mie,  asinan bogor, bakso tahu, soto kuning, hingga sup durian, cendol dan beberapa makanan dan minuman lainnya.

Ketika EP wisata kuliner ini sedang aktif, maka saya pun meminta EP yang memegang kendali atas berat badan saya, untuk memaklumi sekaligus melakukan kontrol lebih ketat atas semua yang saya konsumsi. Sehingga apa pun yang saya konsumsi ketika itu, akan habis hari itu juga melalui semua aktivitas saya. Tidak ada yang tertimbun menjadi lemak, dan tidak ada yang menjadi penyakit.

Ternyata EP berat badan ini setuju, sehingga saya pun dengan tenang dan nyaman melahap semua makanan selama dalam perjalanan itu. Hanya sempat satu kali EP berat badan protes, yaitu ketika makan bakso tahu. Ketika itu, saya benar-benar sudah lama tidak mengomsumsi bakso tahu yang memang dikenal nikmat ini. Saya sebenarnya ingin nambah satu porsi lagi, namun ternyata EP berat badan tidak setuju. Dia langsung memberikan kode atau sinyal berupa perasaan yang tidak nyaman. Saya pun memaklumi sinyal itu, sekaligus tetap berterima kasih sudah diberi kesempatan menyantap seporsi bakso tahu itu.

Alhasil, setelah kembali ke rumah dan beristirahat, keesokan harinya saya cek indikator kadar lemak, berat badan, dan indikator lainnya. Hasilnya, semuanya normal. Kadar lemak normal, lemak perut juga normal. Artinya, bagian diri yang memegang kendali atas berat badan, benar-benar bekerja dengan maksimal.

Demikian pula untuk EP yang suka berpetualang alias jalan-jalan. Meski kondisi fisik capek dan lelah selama perjalanan panjang dari Samarinda, namun EP yang suka jalan-jalan tetap meminta untuk dipuaskan. Maka, begitu ada waktu luang, kaki terasa ringan untuk melangkah. Naik angkutan kota, mengelilingi Kebun Raya Bogor, hingga terdampar di stasiun yang sangat padat.

Bogor memang kota sejuta angkot, yang benar-benar penuh sesak dengan angkutan umum. EP ini semakin girang ketika Pemimpin Redaksi Radar Bogor, mbak Ira menghubungi saya dan menawarkan untuk diajak jalan-jalan. Jelas saya tidak menolak. Dijemput di sekitar stasiun, mbak Ira membawa saya berwisata kuliner sup durian Lodaya yang cukup tersohor. Tak lupa, mampir ke Graha Pena Radar Bogor, serta keliling Kota Hujan ini.  

Pagi harinya, sebelum bertolak kembali ke Samarinda, EP jalan-jalan masih meminta untuk masuk ke dalam areal Kebun Raya Bogor. Beruntung, saya juga sempat berkomunikasi dengan rekan sejawat senior sesama hipnoterapis, ibu Nina Sigit, sehingga bisa janjian bertemu. Bersama beliau, saya pun ditemani berjalan-jalan mengelilingi areal yang bersebelahan dengan Istana Bogor, tempat tinggal Presiden Jokowi. Tak sekadar jalan-jalan, EP yang suka ilmu pengetahuan juga terpuaskan dengan penjelasan ibu Nina terkait Kebun Raya Bogor ini. Sebagai orang Bogor, bu Nina cukup menguasai lokasi ini.

Yang paling utama adalah EP penulis, sangat kegirangan ketika benar-benar bisa bertemu dengan penulis novel Laskar Pelangi yang sangat fenomenal. Apalagi, meski sempat terlambat masuk ruangan, ternyata saya justru mendapat kursi di posisi paling depan, tepat di samping papan yang digunakan sang maestro sastra untuk memberikan penjelasan. Hasilnya, saya benar-benar lebih mudah menyimak semua materi yang disampaikan, sekaligus leluasa mengambil gambar pria kelahiran Belitong ini.

Banyak sekali hal baru yang masuk ke pikiran bawah sadar, dan itu sudah pasti akan menambah kemampuan bagian diri saya saat menulis. Saat mengikuti kelas ini, saya pun meminta bagian diri yang suka menganalisa untuk tidak melakukan analisa. Biarkan saja EP penulis aktif seratus persen mencerna dan menyimak semua yang disampaikan sang penulis novel yang karyanya sudah diterjemahkan dalam 34 bahasa itu. Hasilnya, semua materi yang disampaikan dengan mudah masuk ke pikiran bawah sadar tanpa penolakan. Baru setelah kelas selesai, analisa bisa dimulai. Mana materi yang bisa digunakan, dan mana yang hanya akan dijadikan referensi.

Sering berkomunikasi dengan EP, adalah salah satu hal penting yang harus selalu dilakukan. Ini adalah cara yang tepat untuk memahami diri sendiri. Ada yang bilan, lebih mudah menilai orang lain, ketimbang menilai diri sendiri. Namun dengan sering berkomunikasi dengan EP, maka Anda bisa memahami diri sendiri, lebih dari orang lain.

Bagaimana caranya berkomunikasi dengan EP? Anda cukup duduk tenang, pejamkan mata, tarik nafas yang panjang dan dalam sebanyak tiga kali. Setelah itu, silakan Anda berbincang dengan bagian diri Anda sendiri. Tentukan Anda ingin bicara dengan bagian diri yang mana. Setelah itu, dengarkan apa yang dia sampaikan. Pada tahap awal, mungkin Anda akan sedikit kesulitan. Namun dengan rutin berlatih, maka Anda akan semakin mudah ‘ngobrol’ dengan EP.     

Bagaimana menurut Anda?


Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes