Wednesday, January 6, 2016

Hipnoterapi Bagian dari Psikologi, Bukan Ilmu Gaib


Hingga saat ini, tak sedikit masyarakat yang belum benar-benar memahami apa itu hipnoterapi. Yang berkembang di masyarakat adalah, hipnoterapi dianggap sebagai ilmu gaib, berkaitan dengan klenik atau supranatural. Akibatnya, timbul stigma negatif di masyarakat karena beranggapan hipnoterapi menggunakan cara-cara ilmu hitam atau yang sering disebut sebagai kuasa kegelapan.

Sahabat, hipnosis adalah bagian atau cabang dari ilmu psikologi. Karena itu, sangatlah berlebihan jika hipnoterapi dianggap sebagai praktik supranatural. Sebagai cabang ilmu tentang pikiran, kini hipnosis terus berkembang. Bahkan di Amerika, telah diajarkan secara resmi di berbagai lembaga pendidikan terkemuka.


Hipnoterapi telah mendapat pengakuan internasional dari British Medical Association (1955), American Medical Association (1958), dan American Psychological Association (1960).

Menurut pakar teknologi pikiran Adi W. Gunawan, kondisi hipnosis sebenarnya identik dengan gelombang otak alfa dan theta. Gelombang alfa berada pada kisaran 8 - 12 Hz dan theta pada 4 - 8 Hz. Saat seseorang berada dalam kondisi trance maka kisaran gelombang otaknya pasti berada di antara alfa dan theta.

Setiap orang dalam satu hari minimal pasti berada dalam kisaran gelombang ini yaitu saat mau tidur dan saat baru bangun tidur. Secara alamiah saat kita mau tidur gelombang otak akan turun dari beta, ke alfa, ke theta, dan akhirnya di delta (tidur pulas tanpa mimpi). Demikian pula sebaliknya. Saat kita bangun tidur maka gelombang otak akan naik dari delta, ke theta, ke alfa, dan akhirnya di beta atau sadar penuh.

Ada beberapa jenis hipnosis, misalnya Stage Hypnosis untuk pertunjukan hiburan, ada pula Clinical Hypnosis atau Hypnotherapy yang membantu menyembuhkan masalah mental dan fisik (psikosomatis). Ini untuk membantu masalah depresi, kecemasan, phobia, stress, penyimpangan perilaku, mual dan muntah, melahirkan, penyakit kulit, dan masih banyak lagi.

Ada lagi Anodyne Awareness, yakni aplikasi hipnosis untuk mengurangi rasa sakit fisik dan kecemasan. Serta ada Forensic Hypnosis sebagai alat bantu melakukan investigasi atau penggalian informasi dari memori. Sedangkan terakhir adalah Metaphysical Hypnosis untuk meneliti berbagai fenomena metafisik. Jenis hipnosis ini bersifat ekperimental.
Untuk mendalami hipnosis dan melakukan stage hypnosis bukanlah sesuatu yang sulit. Namun untuk melakukan hipnoterapi, harus hati-hati. Aplikasi hipnosis untuk terapi memerlukan pengetahuan yang lebih dalam. Belajar di loka karya saja belum cukup.

Lalu, apa bedanya hipnotis dan hipnoterapi? Hipnotis adalah mereka yang sudah mempelajari ilmu hipnosis. Sementara hipnoterapis adalah yang menggunakan teknik terapi dalam kondisi hipnosis. Umumnya, hipnotis digunakan untuk aksi panggung atau hiburan. Karena itu, hipnotis belum tentu seorang hipnoterapis. Sementara hipnoterapis pasti seorang hipnotis.
Seorang hipnotis yang biasa membawakan pertunjukan belum tentu mampu melakukan terapi. Namun seorang hipnoterapis pasti bisa melakukan apa yang dilakukan hipnotis.

Yang perlu dipahami adalah, hipnoterapi hanya bisa dilakukan jika klien bersedia melakukan terapi. Jika tidak bersedia, maka tidak bisa dilakukan. Ibarat masuk rumah orang lain, tentu harus seizin pemilik rumah.

Hipnoterapis tidak bisa dan tidak boleh melakukan diagnosa penyakit karena hipnoterapis bukan dokter. Hipnoterapis juga bukan psikolog atau psikiater.
Untuk bisa menjadi seorang hipnoterapis andal tidak perlu harus menjadi dokter, psikolog, atau psikiater dulu. Namun dokter, psikolog, atau psikiater bisa menjadi hipnoterapis dengan mengikuti pelatihan hipnoterapi.

Aplikasi hipnoterapi sudah banyak digunakan untuk membantu dunia medis. Misalnya dokter gigi yang mencabut gigi tanpa suntikan bius, namun menggunakan hipnoterapi. Begitu juga dengan melahirkan dengan metode hipnoterapi juga semakin marak. Bahkan saat operasi, pasien tetap sadar dengan hipnoterapi, sementara operasi tetap berlangsung dengan lancar tanpa rasa sakit.  

Dulu, sebelum mengenal belantara teknologi pikiran, saya juga termasuk yang apriori dan berpandangan negatif dengan ilmu ini. Tepatlah jika orang bijak mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Karena tak kenal dan tak tahu tentang hipnoterapi, maka wajar jika ada yang beranggapan macam-macam. Dari mulai yang positif sampai yang negatif bahkan mencibir.

Tentu tak perlu marah atau bereaksi berlebihan jika ada yang beranggapan negatif. Sebab, mereka belum tahu dan belum memahami. Sah-sah saja menyampaikan pendapat. Lain halnya jika yang menyampaikan pendapat adalah mereka yang sudah belajar di tempat yang benar dan tepat. Tentu bisa diperdebatkan.

Saat ini, saya sungguh jatuh hati dengan ilmu ini. Ilmu yang sudah berhasil mengubah diri saya menjadi pribadi yang jauh lebih baik, termasuk bermanfaat untuk keluarga dan kerabat. Tak sedikit yang sudah mengambil manfaat dari ilmu ini. Ibarat meminum air laut, kini saya pun semakin haus akan teknologi pikiran ini.

Sahabat boleh bertanya kepada mereka yang sudah menjalani sesi hipnoterapi. Mereka ingat semua proses yang terjadi selama terapi, dari awal sampai akhir. Tidak ada yang lupa ingatan, tidak ada pula yang dicuci otaknya. Sebab sejatinya, hipnoterapi adalah teknik berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar.

Kenapa harus pikiran bawah sadar? Pasalnya pikiran bawah sadar mengendalikan hingga 99 persen hidup kita. Inilah yang menjadi alasan, kenapa negosiasi lebih efektif dilakukan dengan pikiran bawah sadar Sekaligus menjadi jawaban, kenapa sulit sekali mengarahkan orang lain mengikhlaskan suatu kejadian kepada pikiran sadar.
Pembaca yang budiman, sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari kita sering kali mengalami kondisi hipnosis. Namun, kita tidak menyadarinya. Ketika ikut sedih, menangis, atau sebaliknya tertawa dan gembira saat menonton film, itulah kondisi hipnosis.

Saat adegan film sedang seru-serunya pasti merasa tubuh anda menjadi tegang, napas berubah, dan jantung anda berdebar lebih kencang. Mengapa? Bukankah itu bukanlah suatu kejadian nyata? Pikiran sadar tahu film itu bukan sesuatu yang nyata. Namun pikiran bawah sadar menerima apa yang dilihat dan alami sebagai suatu hal yang nyata.

Saat menonton film, perhatian sangat terpusat pada apa yang sedang berlangsung di layar sehingga mem-blok suara-suara lain, misalnya suara batuk penonton lainnya, atau suara handphone yang berbunyi. Pada saat ini Anda sangat sadar dengan keberadaan diri anda yang sedang menonton film.

Semua sensasi atau perasaan dirasakan saat menonton film merupakan hasil dari kerja pikiran bawah sadar. Saat itulah sebenarnya berada dalam kondisi hipnosis.

Lalu, apakah Anda dikendalikan film yang ditonton? Tentu tidak! Film itu tidak mengendalikan diri Anda tetapi mengarahkan pikiran pada alur ceritanya. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan keadaan hipnosis atau trance.

Berbeda dengan pemahaman kebanyakan orang, yang mengatakan saat dalam kondisi hipnosis atau trance kesadaran seseorang sangat lemah. Yang terjadi saat dalam kondisi trance level kesadaran seseorang justru meningkat sangat tinggi.

Pernahkah ketika mandi, tiba-tiba di salah satu bagian tubuh terasa perih akibat luka gores. Padahal, Anda tidak tahu kapan terkena goresan itu. Ini juga salah satu contoh hipnosis, terbukti tidak merasakan apa-apa ketika tergores, padahal lumayan sakit rasanya.

Contoh lain ketika bekerja dengan serius, seolah lupa waktu. Tahu-tahu langit di luar sudah gelap padahal merasa baru sebentar bekerja. Anda tidak merasa sudah memakan waktu berjam-jam. Ini juga termasuk kondisi hipnosis. Karena salah satu elemen hipnosis adalah mengalami distorsi waktu, alias waktu bisa berjalan lebih cepat atau lebih lambat dibandingkan waktu yang sesungguhnya.

Di awal sebelum melakukan terapi, penjelasan ini selalu diberikan kepada klien. Ini penting agar klien memahami benar apa yang akan dilalui selama proses terapi. Ini sekaligus untuk menepis keraguan dan ketakutan atas anggapan yang salah selama ini terhadap proses hipnoterapi. (*)





Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...