HYPNO NEWS

Thursday, April 21, 2016

Siswa Tak Boleh Bermimpi, Benarkah?



Belum lama ini, salah seorang orangtua murid mengadu kepada saya. “Mas, saya mulai gelisah nih. Anak saya mendapat informasi yang kurang pas dari gurunya. Gurunya bilang, hidup tidak boleh berlebihan. Cukup seadanya saja, karena pada akhirnya nanti harta tidak ada yang dibawa mati. Kalau mati yang dibawa hanya selembar kain kafan,” ujar ibu tersebut sekaligus menirukan penjelasan guru, seperti yang disampaikan anaknya.

Loh, rasa-rasanya, tidak ada yang salah kok dari penjelasan guru itu. Lalu apa masalahnya?


“Masalahnya, anak saya cara menerimanya beda. Anak-anak kan semestinya dimotivasi, agar punya mimpi dan bisa meraih masa depannya. Lah gara-gara gurunya ngomong begitu, sekarang kalau diajak belajar dia protes. Katanya, untuk apa belajar, toh nanti juga mati. Kata guru ngga usah hidup kaya raya, jadi ya begini aja bu, apa adanya,” ujarnya lagi menirukan penjelasan anaknya.

Nah, mendengar penjelasan ini, rasa-rasanya wajar kalau orangtua kemudian gelisah. Mau protes ke gurunya, dia khawatir akan berdampak kembali kepada anaknya ketika di sekolah. Jadilah dia harus memberikan penjelasan ulang lebih detail.

Sahabat, izinkan saya meninjau kisah di atas dari sisi teknologi pikiran. Saya tidak akan mengupas terlalu jauh dulu dari sisi agama, karena memang saya bukan ulama.

Begini, guru adalah figur otoritas bagi anak-anak. Maka, apa pun yang disampaikan guru, akan diterima oleh anak-anak, tanpa penolakan sama sekali. Kenapa? Karena pikiran bawah sadar anak-anak memang masih sangat mudah ditembus. Benteng pertahanan alias critical factor-nya sangat mudah dibobol oleh figur otoritas yang ia kagumi.

Persoalannya adalah, usia anak-anak belum mampu mencerna sebuah pesan atau informasi secara gamblang. Dia hanya mencerna apa yang disampaikan guru apa adanya, tanpa ada pemikiran mendalam lagi.

Untuk itu, akan lebih bijak jika penjelasan mengenal hal-hal seperti contoh di atas, disampaikan lebih tepat untuk usianya. Bahwa semua orang di dunia pasti mati, itu sudah jelas, tidak terbantahkan. Namun, bahwa anak-anak adalah usia yang membutuhkan motivasi untuk tumbuh kembangnya, juga jangan pula diabaikan begitu saja.

Tentu, apa yang saya sampaikan ini juga masih bisa diperdebatkan. Bisa diterima, bisa juga tidak. Lagi-lagi, saya hanya melihat dari perspektif teknologi pikiran. Sebab, apa jadinya generasi anak-anak sekarang, jika tidak memiliki mimpi di masa depannya?

Bukankah dalam panggilan azan saja Sang Maha Pencipta sudah memberikan sinyal kepada umatnya. “Marilah Sholat”, diikuti dengan “Marilah Menuju Kebahagiaan”, yang bisa diterjemahkan menjadi “Marilah Menuju Kejayaan atau Kesuksesan”.  Artinya, meraih sukses juga dibenarkan dan disarankan.

Begitu pula di Alquran di setiap ayat yang berbunyi “Dirikan Sholat”, umumnya diikuti dengan lanjutannya “Bayarlah Zakat”. Nah, untuk bisa membayar zakat, tentu adalah mereka yang mampu secara materi, secara finansial.

Ini sekaligus menjadi konfirmasi, Sang Maha Pengasih memang mengajak umatnya untuk bisa berusaha meraih keberhasilan di dunia, lebih-lebih nanti di akhirat. Tentu tidak berlebihan jika contoh kasus di atas bisa dijadikan bahan renungan dan bisa diambil hikmahnya.

Apa pun hikmah yang diambil, baik positif maupun negatif, sangat bergantung pada sudut pandang masing-masing. Saya tidak ada hak untuk membenarkan atau menyalahkan. Sebab setiap orang, tentu memiliki penilaian masing-masing. Boleh jadi, apa yang saya sampaikan ini pun, salah menurut orang lain.

Demikianlah kenyataannya. (*)







Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes