HYPNO NEWS

Wednesday, April 12, 2017

Agar Masalah Tuntas, Ini Empat Hal yang Harus Dibayar



Perlahan namun pasti, sebagai terapi komplementer, hipnoterapi semakin dikenal dan semakin dibutuhkan oleh publik. Kalangan dokter dan psikolog klinis pun mulai mengakui efektivitas hipnoterapi dalam membantu mengatasi masalah psikosomatis, alias sakit yang disebabkan oleh pikiran.


Di Samarinda misalnya, ada beberapa dokter yang sudah rutin mengalihkan pasiennya untuk menjalani sesi hipnoterapi. Tentu pasien ini sebelumnya sudah menjalani serangkaian pemeriksaan medis, termasuk cek laboratorium.

Setelah semua kondisi dinyatakan aman dan klir secara medis, namun pasien tetap merasa tidak nyaman atau merasa sakit di tubuh fisik tertentu, maka kemungkinan besar pasien mengalami psikosomatis.

Ada pula dokter yang tetap membantu menangani pasiennya secara medis, namun sekaligus menyarankan menjalani hipnoterapi, agar pasien bisa menjalani semua proses pengobatan lebih tenang dan nyaman.

Namun, tahukah Anda bahwa ada empat hal yang harus dibayar oleh seseorang yang akan menjalani sesi hipnoterapi. Apa saja empat hal itu?

Pertama, waktu. Untuk menjalani sesi hipnoterapi, baik klien maupun terapis harus meluangkan waktu khusus. Proses terapi dalam kondisi hipnosis memerlukan waktu yang umumnya tidak singkat. Perlu waktu antara 1 sampai 2 jam, bahkan bisa lebih, saat proses terapi dilakukan.

Beberapa waktu lalu misalnya, saat membantu klien yang mengalami kendala dalam menaikkan berat badannya, perlu waktu hingga 4 jam terapi. Begitu pula saat membantu klien yang memiliki orientasi homoseksual dan ingin kembali normal, memerlukan waktu hingga 5 jam.

Tentu, lamanya waktu terapi bergantung dari tumpukan masalah yang dimiliki klien. Sebab bisa saja, satu masalah, tapi akar penyebabnya banyak dan berlapis, seperti lapisan kulit bawang. Namun, ada pula yang merasa masalahnya banyak dan bertumpuk, namun penyebab masalahnya hanya satu saja. Jika penyebabnya hanya satu, maka proses terapi biasanya lebih cepat.

Seperti ketika membantu klien mengatasi masalah lesbian, ternyata butuh waktu hanya sekitar 1 jam. Akar masalah yang ditemukan sangat simpel, yakni ketika klien usia 7 tahun, dikejar-kejar mamanya untuk potong rambut. Padahal, sebagai perempuan, klien sangat suka dengan rambut panjangnya.

Kedua, upaya. Upaya, adalah apa pun yang sudah dilakukan klien untuk bisa lepas dari masalahnya. Selalu ada saja klien yang tidak langsung memutuskan menjalani hipnoterapi. Dia berupaya mencari informasi dulu, menambah referensi dan wawasan, hingga akhirnya yakin mendatangi hipnoterapis.

Bahkan beberapa klien ada yang memutuskan menjalani hipnoterapi, setelah maju mundur selama 1 tahun. Selama satu tahun itu, dia berupaya mencari pengobatan alternatif. Namun tak juga ketemu. Setelah semuanya mentok dan buntu, biasanya hipnoterapi menjadi alternatif ke sekian, bahkan bisa dianggap pilihan paling buncit.

Seperti beberapa waktu lalu, ada klien seorang wanita yang mengalami vaginismus. Sudah sejak setahun sebelumnya ingin mencoba hipnoterapi, tapi takut dan khawatir. Apalagi selama ini informasi tentang hipnoterapi lebih cenderung negatif akibat tayangan di televisi.

Setelah hampir 3 tahun mengalami vaginismus dan putus asa, apalagi suaminya sudah mengancam berpisah jika tidak bisa berhubungan layaknya suami-istri, akhirnya memberanikan diri menjalani terapi dalam kondisi hipnosis.

Hasilnya memang diketahui ada beberapa penyebab atau akar masalah, yang membuat wanita ini sangat ketakutan saat akan melayani suaminya.

Ketiga, materi. Materi alias ada professional fee atau tarif yang harus dibayar. Menjadi hipnoterapis profesional, tentu memerlukan investasi dan waktu belajar yang tidak sedikit. Sama halnya dokter atau psikolog, yang harus menjalani pendidikan secara khusus. Hipnoterapis juga demikian.

Di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology, tempat saya belajar, kurikulumnya disusun secara sistematis untuk menciptakan hipnoterapis yang cakap dan andal. Melalui kelas 100 jam, Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy (SECH), kurikulum yang disusun itu sesuai dengan standar American Council of Hypnotist Examiners (ACHE) Amerika Serikat. Bahkan kini, standarnya ditingkatkan lagi menjadi 110 jam.

Saya pun, meski sudah lulus pendidikan 100 jam, belum lama ini, kembali mengikuti kelas re-seat alias mengikuti ulang semua materi untuk pengayaan dan peningkatan pemahaman atas semua materi yang sudah dipelajari selama ini. Hasilnya, proses terapi yang dilakukan bisa semakin efektif dan presisi dalam menjangkau akar masalah untuk kemudian mencabutnya.

Untuk itu, adalah wajar jika hipnoterapis menerima fee atas jasa terapi yang sudah dilakukan. Soal mahal atau tidak fee yang diberlakukan, tentu ini relatif, bergantung sudut pandang masing-masing orang.

Saat klien berhasil dibantu mengatasi masalahnya, tentu berapa pun biaya yang sudah dikeluarkan, menjadi tidak berarti. Namun bagi klien yang belum berhasil, meski gratis sekalipun, tetap merasa rugi, yakni rugi membuang-buang waktu percuma. Sekali lagi, semua bergantung dari sudut pandang masing-masing.

Terakhir yang keempat, perasaan. Maksudnya adalah, perasaan apa pun yang muncul saat proses terapi, sebaiknya dikeluarkan semuanya. Tak sedikit klien masih merasa ragu dan malu saat proses terapi. Hal ini jelas membuat proses terapi menjadi kurang lancar dan proses pencarian akar masalah sedikit terhambat. Karena itu, pastikan pasrah dan ikhlas menjalani prosesnya, sehingga bisa benar-benar dibantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

Demikianlah kenyataannya. (*)  

Simak informasi lainnya seputar teknologi pikiran di www.endrosefendi.com






 


Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes