Monday, January 1, 2018

Trauma Pilih Kasih dan Harta Warisan


Pilih kasih bisa menyebabkan trauma. Sikap orang tua yang pilih kasih pada anak pada akhirnya memang memberikan dampak sangat buruk bahkan hingga dewasa. Walaupun, pilih kasih yang dilakukan orang tua sebenarnya tidak disengaja.


Benarkah tidak sengaja? Dalam setiap kesempatan berbicara di sebuah forum seminar atau pelatihan, saya seringkali melontarkan pertanyaan pada audiens yang umumnya terdiri dari para orang tua.

“Pernahkah melakukan pilih kasih ada anak-anak Anda?” Jawabannya pasti kompak. Mayoritas menjawab, “tidak pernah!”

Selanjutnya, saya sampaikan pertanyaan kedua. Sudahkah hal tersebut dikonfirmasi pada anak-anak mereka? Sama dengan pertanyaan pertama, mayoritas menjawab serempak, “belum pernah.”

Itu artinya, umumnya orang tua merasa GR (gede rasa), alias sok pede. Orang tua yakin tidak pernah pilih kasih hanya menurut versi mereka sendiri. Tapi benarkah anak-anak sudah merasa hal yang sama, yakni mendapat kasih sayang tanpa pilih kasih?

Ini pernah terjadi pada buah hati saya sendiri. Secara tidak sengaja, saya lebih sering berkomunikasi atau bercanda dengan anak paling bungsu. Hingga suatu ketika, anak saya lainnya pernah ‘mengadu’ ke ibunya. “Bapak itu lebih sayang sama adik ya?” tanya sang kakak ini pada ibunya.

Beruntung, kami punya foto dan video dokumentasi keluarga di masa kecil mereka. Dalam foto dan video itu memperlihatkan bagaimana aktivitas saya dengan sang kakak ketika masih kecil.

“Nah ini buktinya, dulu juga bapak lebih banyak sama kamu. Tidak ada pilih kasih. Tapi kalau kakak merasa diperlakukan seperti itu, bapak minta maaf ya. Bapak tidak sengaja.” Saya sampaikan hal itu dengan tenang, nyaman, dan sungguh-sungguh. Setelahnya saya peluk dia dengan erat dan tulus. Hasilnya, anak saya mengangguk, paham dan menepis keraguan yang sempat dialaminya.

Setelah itu, saya langsung mengubah cara mengekspresikan kasih sayang kepada anak-anak secara merata. Misalnya ketika memeluk salah satu di antaranya, maka yang lain pun bergantian juga dipeluk. Begitu seterusnya. Hasilnya, ikatan emosional pun akhirnya semakin menguat dan meningkat. Rasa tidak nyaman pada anak akibat sikap orang tua yang dianggap pilih kasih versi mereka, juga hilang.

Terkait pilih kasih ini pula, saya beberapa kali menjumpai klien yang mengalami trauma akibat perlakuan pilih kasih yang dilakukan orang tuanya di masa lalu.

Salah satu contoh, sebut saja namanya Intan. Wanita berusia 48 tahun ini adalah anak pertama dari empat bersaudara. Orang tua Intan merupakan sosok orang terpandang di kota kelahirannya. Beberapa waktu lalu, tiba-tiba saja Intan mengirimkan pesan pendek dan mengatur janji ingin jumpa sekaligus menjalani sesi hipnoterapi.

Lalu apa masalahnya? “Saya susah tidur. Setiap kali ingat adik-adik saya, juga aset peninggalan orang tua, saya langsung gelisah. Bawaannya ingin marah dan uring-uringan,” sebutnya.

Dampaknya secara fisik pun tidak bisa disembunyikan. Asam lambungnya berlebih, juga sering mengalami haid kurang lancar. Di kepala bagian belakang pun kerap sesekali mendapat serbuan rasa nyeri.

Saat proses terapi, yang dilakukan tentu mencari akar masalah yang menyebabkan Intan mengalami serangkaian persoalan tersebut. Di kedalaman pikiran bawah sadar yang tepat dan presisi, ternyata Intan mendarat di usia 16 tahun, ketika dia diminta ibunya membersihkan lantai ruang tamu. Ya saat itu adiknya paling bungsu sedang makan. Si adik masih berusia 4 tahun, sehingga tentu saja meninggalkan jejak berantakan setelah makan.

“Saya capek, apa pun yang dilakukan adik, saya yang harus membereskan. Kalau tidak mau, saya yang kena marah,” sebut Intan.

Kejadian tersebut ternyata diperkuat lagi dengan peristiwa lain, misalnya Intan yang kurang mendapatkan dukungan ketika sekolah. Sementara adiknya, mendapat perhatian ekstra. Dari mulai les bahasa Inggris, matematika, bahkan kursus menggambar. Hal itu tidak pernah dirasakan Intan sebelumnya.

“Mainannya juga bagus-bagus. Waktu saya kecil, mainannya biasa saja,” sambung Intan.

Masalah pilih kasih ini ibarat bom waktu. Puncaknya, Intan kecewa dan marah besar. Hotel yang merupakan aset satu-satunya peninggalan almarhum ayahnya, akan dijual ibunya dan akan dibagi sebagai harta warisan. Padahal selama ini, Intan lah yang mengurus dan mengelola hotel itu. Yang membuat Intan semakin meradang, usulan menjual aset itu datang dari adiknya yang paling bungsu.

Dengan teknik khusus, Intan dibimbing untuk menetralisir semua emosinya, terutama perasaan ‘dendam’ mendalam kepada adiknya. Proses ini pencabutan akar masalah ini tentu dilakukan di kedalaman pikiran bawah sadar. Setelah kebencian kepada adiknya sudah dihilangkan, perasaan Intan terhadap adiknya pun langsung netral. Selanjutnya, rasa sayang terhadap adiknya pun diperkuat.

Begitu juga perasaan Intan terhadap ibunya pun diperkuat, sehingga tidak merasakan kasih sayang yang pilih kasih dari ibunya. Usai proses ini, Intan mengaku lega dan plong. Saat dicek di kejadian masa kini, soal penjualan aset hotel, Intan pun merasa tetap nyaman.

“Itu memang bukan hak saya sendiri. Semua punya hak yang sama,” pungkas Intan.

Usai terapi, wajah Intan tampak langsung berbeda. Senyum cerah tergambar jelas di wajahnya. Ia ingin segera pulang dan meminta maaf kepada ibunya.

Tiga hari setelah terapi, Intan juga memberi kabar bahwa semua keluhannya, termasuk soal susah tidur dan asam lambung berlebih, lenyap begitu saja.

“Waktu pulang dari terapi, malamnya jam 8 saya sudah langsung tidur sampai subuh,” katanya melalui pesan pendek.

Selamat untuk Intan. Semoga selalu mendapat serbuan kesuksesan dan keberkahan. Demikianlah ketetapannya. (*)

    

     
   



Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...