TERBARU
Profil · Pemikiran · Karya

Membangun Manusia melalui Pikiran, Komunikasi, dan Pengetahuan

Penulis, hipnoterapis klinis, pembicara publik, trainer, dan akademisi. Menekuni hipnoterapi klinis sejak 2015 dan aktif melatih di instansi pemerintah, sekolah, serta perusahaan.

Endro S. Efendi

Hipnoterapi

Hipnoterapi Anak

Keluarga

Minggu, 08 November 2026

Ketika Kekuasaan, Kecurigaan, dan Informasi Bertemu


Catatan seorang wartawan, praktisi teknologi pikiran, dan mahasiswa Studi Islam

Ada sesuatu yang menggelitik pikiran saya ketika mengikuti pemberitaan mengenai dugaan penyadapan Presiden yang menyeret nama mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo.

Sebagai wartawan, saya terbiasa melihat sebuah peristiwa dari berbagai sudut. Tidak cukup hanya mendengar satu pihak, lalu merasa sudah mengetahui seluruh persoalan. Ada fakta yang harus diuji, ada narasumber yang perlu dikonfirmasi, dan ada pihak-pihak yang harus diberikan kesempatan untuk menjelaskan posisinya.

Saya sudah mengenal dunia jurnalistik sejak masih berseragam putih abu-abu. Hampir 28 tahun menjalani profesi ini membuat saya memahami bahwa berita bukan sekadar perkara siapa yang paling cepat menyampaikan informasi. Berita juga menyangkut tanggung jawab terhadap kebenaran.

Dalam kasus ini, ada satu hal yang mengusik saya: sejauh mengikuti pemberitaan yang tersedia, saya belum menemukan keterangan langsung dari Listyo Sigit Prabowo mengenai tuduhan atau persoalan yang mengaitkan namanya.

Tentu, belum adanya keterangan yang saya temukan bukan berarti yang bersangkutan tidak pernah memberikan penjelasan. Namun, jika memang belum ada klarifikasi langsung yang dapat diverifikasi, ruang tersebut masih perlu dibuka.

Saya tidak sedang membela siapa pun. Saya juga tidak sedang berusaha membangun pembelaan terhadap institusi tertentu. Saya hanya merasa bahwa sebuah perkara yang menyangkut nama, reputasi, jabatan, dan kehormatan seseorang harus dibaca dengan kehati-hatian.

Sebab, dalam jurnalistik, keberimbangan bukan formalitas. Ia adalah bagian dari ikhtiar menemukan kebenaran.

Kekuasaan dan psikologi kepercayaan

Di luar identitas saya sebagai wartawan, ada perspektif lain yang membuat kasus ini menarik untuk direnungkan.

Saya adalah praktisi teknologi pikiran dan hipnoterapi klinis. Dalam praktik memahami pikiran dan perilaku manusia, saya belajar bahwa hubungan antara kepercayaan, ketakutan, kecurigaan, dan kebutuhan mengendalikan keadaan merupakan persoalan yang kompleks.

Kekuasaan memiliki dimensi psikologis. Semakin besar kewenangan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya dalam mengelola kepercayaan.

Dalam organisasi yang memiliki struktur komando kuat, kepercayaan menjadi modal penting. Tanpa kepercayaan, koordinasi dapat terganggu. Komunikasi bisa berubah menjadi formalitas. Bahkan, hubungan profesional dapat dipenuhi prasangka.

Namun, saya tidak ingin tergesa-gesa menyimpulkan bahwa kasus ini merupakan akibat paranoia, ketakutan, atau motif psikologis tertentu. Kita tidak memiliki dasar untuk mendiagnosis kondisi kejiwaan pihak-pihak yang terlibat hanya berdasarkan pemberitaan.

Yang menarik justru pertanyaan yang lebih luas: bagaimana sebuah sistem kekuasaan membangun kepercayaan? Bagaimana informasi dikelola? Dan sejauh mana kewenangan dapat digunakan tanpa melanggar hak serta privasi orang lain?

Teknologi dapat membantu manusia memperoleh informasi. Tetapi teknologi tidak otomatis membuat manusia menjadi lebih bijaksana dalam menggunakannya.

Di sinilah persoalan etika menjadi sangat penting.

Tabayyun dan larangan tajassus

Sebagai mahasiswa Studi Islam, saya juga melihat persoalan ini melalui perspektif Al-Qur'an.

Ada dua konsep yang relevan untuk direnungkan, yaitu tabayyun dan tajassus.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:

Yā ayyuhalladzīna āmanū in jā'akum fāsiqum binaba'in fatabayyanū…

Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu seseorang membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.

Ayat ini memberikan fondasi etis bahwa informasi tidak boleh diterima begitu saja tanpa pemeriksaan. Apalagi ketika informasi tersebut berpotensi merugikan kehormatan dan reputasi seseorang.

Kemudian, dalam QS. Al-Hujurat ayat 12, Allah memberikan peringatan agar manusia menjauhi banyak prasangka dan tidak mencari-cari kesalahan orang lain.

Salah satu istilah yang digunakan dalam ayat tersebut adalah tajassus, yakni mencari-cari aib atau rahasia orang lain.

Tentu, kita perlu membedakan konteks tajassus dalam etika Islam dengan tindakan penyadapan dalam perspektif hukum positif. Tidak setiap tindakan pengumpulan informasi otomatis dapat disamakan dengan tajassus. Ada persoalan kewenangan, tujuan, prosedur, kepentingan hukum, dan perlindungan privasi yang harus diperiksa.

Namun, prinsip etikanya tetap relevan: kemampuan untuk mengetahui sesuatu tidak otomatis memberikan legitimasi moral untuk mengetahuinya.

Tidak semua yang bisa diakses boleh diakses. Tidak semua yang dapat diketahui boleh dicari dengan cara apa pun.

Jangan sampai kita lebih cepat menghakimi daripada memahami

Ada satu hal yang sering terjadi dalam masyarakat digital. Begitu sebuah informasi muncul, publik segera membentuk kesimpulan.

Media sosial bekerja dengan kecepatan yang luar biasa. Potongan pernyataan, tangkapan layar, spekulasi, dan opini bercampur menjadi satu. Dalam hitungan jam, seseorang bisa dipuji, dicurigai, bahkan dihakimi.

Padahal, proses menemukan kebenaran tidak selalu berjalan secepat penyebaran informasi.

Di sinilah jurnalisme, psikologi, dan etika agama sebenarnya bertemu pada satu titik: kehati-hatian.

Wartawan harus memeriksa fakta. Praktisi psikologi harus berhati-hati memahami perilaku manusia. Sementara ajaran Islam mengingatkan agar manusia tidak terjebak dalam prasangka dan tindakan yang melampaui batas.

Kasus dugaan penyadapan ini semestinya tidak hanya menjadi perdebatan tentang siapa melakukan apa kepada siapa. Ia juga harus menjadi momentum untuk membicarakan batas kewenangan, etika penggunaan teknologi, perlindungan privasi, dan akuntabilitas kekuasaan.

Jika memang terjadi pelanggaran, proses hukum harus berjalan secara objektif dan transparan. Jika terdapat tuduhan yang tidak terbukti, kehormatan pihak yang dituduh juga harus dilindungi.

Pada akhirnya, saya teringat satu prinsip sederhana yang saya pelajari selama puluhan tahun menjadi wartawan: jangan pernah merasa sudah mengetahui seluruh kebenaran hanya karena kita telah membaca satu sisi cerita.

Sebab, kebenaran tidak membutuhkan pembelaan yang membabi buta. Kebenaran membutuhkan keberanian untuk memeriksa, kesediaan untuk mendengar, dan kejujuran untuk mengakui fakta.

Teknologi boleh semakin canggih, kekuasaan boleh semakin besar, dan informasi boleh semakin mudah diperoleh. Tetapi tanpa etika, semuanya justru berpotensi menjadi alat untuk merusak kepercayaan.

Dan mungkin, itulah pelajaran terpenting dari perkara ini: persoalan terbesar manusia bukan selalu karena ia tidak memiliki informasi, melainkan karena ia tidak selalu tahu bagaimana memperlakukan informasi dengan benar.

Boys Talk di SMA SQII Bekasi, Endro S. Efendi Ajak Siswa Laki-Laki Kenali Potensi Diri


Lima belas siswa laki-laki SMA Sekolah Quantum Inti Indonesia (SQII), Cibubur, Bekasi, mengikuti program Boys Talk pada Selasa, 27 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga siang itu menghadirkan Endro S. Efendi, praktisi pengembangan diri dari Samarinda, sebagai narasumber utama.

Melalui metode experiential learning, siswa diajak bermain, berinteraksi, lalu merenungkan pengalaman mereka sendiri. Dari permainan edukatif itu, siswa belajar mengenali kekuatan dan kelemahan diri, berempati, serta bekerja sama. Endro menekankan pentingnya tujuan hidup dan pengendalian diri. Menurutnya, kedewasaan tidak datang dari usia, tetapi dari keberanian mengambil keputusan, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab.

Salah satu guru, Ratih Wulandari, menilai metode ini membawa dampak nyata. "Saya melihat perubahan yang cukup signifikan dalam cara siswa berinteraksi," ujarnya.

Di akhir sesi, para siswa menuliskan komitmen pribadi, antara lain bertanggung jawab, jujur, peduli, dan menghargai sesama.

Baca selengkapnya di Jurnal Borneo: Boys Talk SQII Bekasi Perkuat Karakter Siswa Laki-Laki

Senin, 12 Oktober 2026

Ketika Orang Tua Sulit Mengakui Kesalahan


Ada satu hal yang belakangan ini menarik perhatian saya dari sekian banyak pengalaman menangani klien dalam praktik hipnoterapi.

Ketika seorang anak mengalami masalah emosional, sering kali kita sibuk mencari tahu apa yang terjadi pada anak tersebut. Mengapa ia tidak percaya diri? Mengapa ia mudah cemas? Mengapa ia takut menghadapi masalah? Mengapa ia selalu membutuhkan bantuan orang lain untuk mengambil keputusan, bahkan untuk hal-hal sederhana?

Kita kemudian berusaha membantu anak itu. Kita ajak berbicara, kita telusuri pengalaman masa lalunya, dan kita berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam pikirannya.

Namun, ada satu hal yang terkadang justru lebih sulit dilakukan, yaitu mengajak orang tuanya untuk ikut berbenah.

Ini yang menarik.

Dalam beberapa kasus, ketika persoalan anak mulai ditelusuri, ternyata ada pengalaman di rumah yang ikut memengaruhi kondisi emosionalnya. Bisa berupa bentakan yang berulang, kritik yang merendahkan, tuntutan yang terlalu tinggi, perbandingan dengan anak lain, atau kebiasaan orang tua yang selalu mengatur dan tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar mengambil keputusan sendiri.

Tentu, tidak semua masalah anak berasal dari orang tuanya. Banyak faktor lain yang dapat memengaruhi kondisi emosional seorang anak. Namun, hubungan di dalam keluarga merupakan salah satu hal penting yang tidak boleh diabaikan.

Masalahnya, ketika orang tua diajak melihat kemungkinan adanya pengaruh pola pengasuhan terhadap kondisi anak, tidak semua bisa menerimanya dengan mudah.

Ada yang langsung membela diri.

“Lho, saya melakukan semua itu demi kebaikan anak saya.”

“Dulu saya juga dididik keras, tetapi saya baik-baik saja.”

“Anak saya memang terlalu sensitif.”

“Kalau bukan saya yang mengingatkan, siapa lagi?”

Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar wajar. Bahkan, bisa jadi orang tua memang merasa apa yang dilakukannya adalah bentuk kasih sayang.

Tetapi, pernahkah kita berpikir bahwa sesuatu yang kita anggap sebagai bentuk kasih sayang belum tentu dirasakan dengan cara yang sama oleh anak?

Kita merasa sedang mendidik, tetapi anak merasa sedang direndahkan.

Kita merasa sedang mengingatkan, tetapi anak merasa dirinya selalu salah.

Kita merasa sedang melindungi, tetapi anak justru tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk belajar menghadapi masalahnya sendiri.

Akhirnya, orang tua merasa sudah melakukan yang terbaik, sementara anak menyimpan pengalaman yang tidak pernah benar-benar dipahami oleh orang tuanya.

Di sinilah persoalannya sering kali menjadi rumit.

Orang tua merasa dirinya tidak bersalah, sedangkan anak merasa ada sesuatu yang menyakitkan dalam hubungan mereka.

Lalu, siapa yang harus didengarkan?

Menurut saya, kita tidak perlu terburu-buru menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang perlu dilakukan pertama kali adalah bersedia mendengarkan pengalaman anak tanpa langsung membantah atau membenarkan diri sendiri.

Sebab, memahami perasaan anak tidak berarti kita harus menyetujui semua perkataannya. Memahami berarti kita bersedia melihat bahwa pengalaman yang sama bisa meninggalkan kesan yang berbeda pada setiap orang.


Anak yang Tidak Percaya Diri

Saya sering berpikir, mengapa ada anak yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi selalu merasa dirinya tidak mampu?

Ketika diberi tugas, ia takut salah. Ketika diminta mengambil keputusan, ia ragu. Ketika menghadapi tantangan baru, ia lebih dahulu berpikir bahwa dirinya tidak akan berhasil.

Bahkan, untuk melakukan sesuatu yang sederhana, ia masih membutuhkan pengakuan atau persetujuan orang lain.

Tentu, tidak semua anak yang tidak percaya diri mengalami pola pengasuhan yang sama. Namun, salah satu hal yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana anak diperlakukan ketika melakukan kesalahan.

Bayangkan seorang anak yang sejak kecil sering mendengar kalimat seperti:

“Kamu ini memang tidak bisa apa-apa!”

“Begitu saja tidak becus!”

“Lihat anak orang lain, bisa. Kamu kenapa tidak bisa?”

Mungkin orang tuanya hanya sedang marah. Mungkin setelah itu ia sudah lupa dengan perkataannya.

Tetapi, bagaimana dengan anak yang mendengarnya?

Anak mungkin tidak memiliki kemampuan untuk membedakan bahwa perkataan itu keluar karena kemarahan sesaat. Ia bisa saja mulai mempercayai bahwa dirinya memang tidak mampu, tidak pintar, atau selalu mengecewakan orang lain.

Jika pengalaman seperti itu terjadi berulang kali, sebagian anak dapat tumbuh dengan penilaian negatif terhadap dirinya sendiri.

Ketika dewasa, ia mungkin masih takut mencoba. Ia takut gagal, takut dikritik, dan takut mengecewakan orang lain.

Ironisnya, orang tua yang dahulu sering mengatakan bahwa anaknya tidak mampu mungkin kemudian mengeluh, mengapa anaknya tidak berani mengambil tantangan.

Padahal, keberanian tidak tumbuh hanya dari nasihat. Anak juga membutuhkan pengalaman bahwa dirinya dipercaya, dihargai, dan diberikan kesempatan untuk mencoba.


Selalu Membutuhkan Orang Lain untuk Menghadapi Masalah

Ada lagi persoalan yang tidak kalah menarik.

Sebagian anak tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengambil keputusan sendiri. Ketika menghadapi masalah, ia langsung panik dan mencari orang lain untuk menentukan apa yang harus dilakukan.

Bukan karena ia tidak memiliki kemampuan berpikir, melainkan mungkin karena ia tidak terbiasa mempercayai penilaiannya sendiri.

Hal ini bisa terjadi dalam pola pengasuhan yang terlalu mengontrol. Semua harus sesuai keinginan orang tua. Pilihan anak selalu dikoreksi. Kesalahan kecil dianggap sebagai masalah besar. Bahkan, ketika anak mencoba menyelesaikan persoalannya sendiri, orang tua langsung mengambil alih.

Niatnya mungkin baik. Orang tua tidak ingin anaknya gagal atau mengalami kesulitan.

Tetapi, bukankah kita justru belajar menghadapi masalah melalui pengalaman?

Kalau setiap kali anak menghadapi kesulitan orang tua selalu turun tangan, kapan anak belajar mencari jalan keluar?

Kalau setiap kali anak mengambil keputusan orang tua langsung menentukan mana yang benar, kapan anak belajar mempertimbangkan pilihan dan menerima konsekuensinya?

Kalau setiap kesalahan langsung dimarahi, bagaimana anak bisa belajar bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses bertumbuh?

Anak memang membutuhkan perlindungan. Namun, anak juga membutuhkan ruang untuk belajar mandiri.

Kita tidak bisa terus-menerus menyelesaikan semua masalah anak, lalu berharap suatu hari ia tiba-tiba menjadi pribadi yang mandiri.

Kemandirian perlu dilatih. Anak perlu diberi kesempatan untuk berpikir, mencoba, mengambil keputusan sesuai usianya, dan belajar memperbaiki kesalahan dengan pendampingan yang tepat.

Tugas orang tua bukan selalu menjadi orang yang memberikan jawaban. Terkadang, tugas orang tua justru membantu anak menemukan jawabannya sendiri.


Kecemasan yang Terbawa hingga Dewasa

Hal lain yang perlu kita perhatikan adalah kecemasan berlebihan.

Ada anak yang selalu khawatir melakukan kesalahan. Ia takut dimarahi, takut ditolak, takut mengecewakan orang lain, bahkan takut menghadapi situasi yang sebenarnya biasa saja.

Ketika akan melakukan sesuatu, pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

“Bagaimana kalau saya salah?”

“Bagaimana kalau mereka marah?”

“Bagaimana kalau saya gagal?”

“Bagaimana kalau saya mengecewakan semua orang?”

Sekali lagi, kecemasan memiliki banyak penyebab. Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa semua anak yang cemas pasti memiliki orang tua yang bermasalah.

Namun, lingkungan yang membuat anak terus-menerus merasa terancam, dinilai, atau takut melakukan kesalahan dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kecemasan pada sebagian anak.

Anak yang tidak pernah tahu kapan dirinya akan dimarahi mungkin menjadi terlalu waspada terhadap perubahan suasana hati orang tuanya.

Ia belajar memperhatikan nada suara, ekspresi wajah, dan gerakan kecil orang di sekitarnya. Ia berusaha memastikan bahwa dirinya tidak melakukan sesuatu yang dapat memicu kemarahan.

Lama-kelamaan, sebagian anak dapat terbiasa mengutamakan perasaan orang lain daripada memahami kebutuhannya sendiri.

Ketika dewasa, kebiasaan tersebut bisa terbawa ke lingkungan pertemanan, pekerjaan, bahkan hubungan rumah tangga.

Ia sulit berkata tidak. Ia takut mengecewakan orang lain. Ia terlalu memikirkan penilaian orang. Ia merasa harus selalu menyenangkan semua orang agar tetap diterima.

Padahal, hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Kita tidak mungkin menyenangkan semua orang, dan kita tidak mungkin menghindari semua kesalahan.

Anak perlu belajar bahwa melakukan kesalahan bukan berarti dirinya buruk. Mengalami kegagalan bukan berarti hidupnya berakhir. Dan berbeda pendapat bukan berarti ia akan kehilangan kasih sayang orang-orang yang dicintainya.

Rasa aman seperti ini penting agar anak memiliki kesempatan untuk belajar menghadapi kehidupan dengan lebih sehat.


Mengapa Orang Tua Sulit Mengakui Kesalahan?

Nah, bagian ini yang menurut saya cukup menantang.

Ketika persoalan anak mulai terlihat, mengapa sebagian orang tua justru sulit diajak mengevaluasi dirinya sendiri?

Mengapa ada orang tua yang lebih mudah menyalahkan anak daripada mempertimbangkan kemungkinan bahwa dirinya juga memiliki andil dalam persoalan tersebut?

Mungkin salah satu jawabannya adalah karena mengakui kesalahan terasa menyakitkan.

Bagi sebagian orang, mengakui kesalahan seolah-olah berarti mengakui bahwa dirinya adalah orang tua yang buruk.

Padahal, keduanya tidak selalu sama.

Seseorang bisa bekerja keras untuk keluarga, memenuhi kebutuhan anak, menyekolahkan anak setinggi mungkin, dan tetap melakukan kesalahan dalam cara mendidiknya.

Seseorang bisa sangat mencintai anaknya, tetapi belum tentu memahami bagaimana cara mengekspresikan cinta yang membuat anak merasa aman.

Dua hal itu bisa terjadi bersamaan.

Sayangnya, ketika seseorang terlalu sibuk mempertahankan gambaran bahwa dirinya adalah orang tua yang baik, ia bisa kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hal-hal yang memang perlu diperbaiki.

Setiap kritik dianggap sebagai serangan. Setiap keluhan anak dianggap sebagai bentuk ketidakpatuhan. Setiap ajakan untuk berubah dianggap sebagai upaya menyalahkan dirinya.

Ada pula yang selalu memiliki alasan untuk membenarkan tindakannya.

Kalau anak terluka, anak dianggap terlalu sensitif.

Kalau anak marah, anak dianggap tidak tahu berterima kasih.

Kalau anak menjauh, anak dianggap durhaka.

Padahal, bisa jadi ada pengalaman yang belum pernah benar-benar didengarkan.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa orang tua harus selalu mengalah atau bahwa setiap keluhan anak pasti benar. Orang tua juga manusia yang memiliki keterbatasan, tekanan hidup, dan pengalaman masa lalu.

Namun, kita perlu membedakan antara menjelaskan alasan di balik suatu tindakan dan menggunakan alasan tersebut untuk menghindari tanggung jawab.

Bahwa dahulu kita juga dibesarkan dengan keras, misalnya, mungkin menjelaskan mengapa kita terbiasa mendidik dengan cara yang sama. Tetapi, itu tidak otomatis berarti cara tersebut harus terus diwariskan.

Kita bisa memahami masa lalu kita tanpa harus mengulanginya.


Meminta Maaf kepada Anak, Mengapa Terasa Begitu Sulit?

Ada satu hal sederhana yang menurut saya memiliki makna besar dalam hubungan orang tua dan anak: meminta maaf.

Kedengarannya mudah, bukan?

Tetapi, dalam kenyataannya, bagi sebagian orang tua, mengucapkan kata maaf kepada anak terasa jauh lebih sulit daripada memarahinya.

Kalaupun akhirnya meminta maaf, terkadang masih disertai pembelaan.

“Ya, maaf. Tapi kamu juga yang membuat Ayah marah.”

“Ibu minta maaf, tetapi semua itu demi kebaikanmu.”

Kalimat tersebut mungkin terdengar seperti permintaan maaf. Namun, tanggung jawab atas tindakan yang menyakiti anak masih bercampur dengan upaya membenarkan diri.

Meminta maaf dengan tulus bukan berarti orang tua harus menganggap dirinya selalu salah. Bukan pula berarti anak bebas melakukan apa saja.

Meminta maaf berarti berani mengakui bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.

Misalnya, seorang ayah bisa mengatakan:

“Ayah sadar dulu sering membentakmu ketika kamu melakukan kesalahan. Ayah merasa sedang mendisiplinkanmu, tetapi sekarang Ayah memahami bahwa cara itu mungkin membuatmu takut. Ayah minta maaf. Ayah ingin belajar memperbaikinya.”

Tidak perlu berpanjang-panjang. Tidak perlu mencari alasan. Tidak perlu langsung menuntut anak memaafkan.

Cukup akui, dengarkan, dan tunjukkan perubahan melalui tindakan.

Tentu, kepercayaan tidak selalu pulih dalam sehari. Jika luka sudah berlangsung lama, anak mungkin membutuhkan waktu untuk merasa aman kembali.

Tetapi, bukankah langkah pertama memang harus dimulai dari keberanian untuk mengakui kenyataan?


Jangan Hanya Meminta Anak Berubah

Dalam praktik hipnoterapi, saya melihat betapa pentingnya memahami pengalaman seseorang, bukan hanya melihat perilaku yang muncul di permukaan.

Ketika seorang anak mengalami masalah, kita tentu ingin membantunya. Kita ingin ia lebih percaya diri, lebih tenang, lebih mandiri, dan lebih mampu menghadapi persoalan hidup.

Namun, kita juga perlu melihat lingkungan tempat ia bertumbuh.

Jangan sampai anak diminta belajar mengendalikan emosi, sementara orang dewasa di sekitarnya tidak bersedia mengendalikan emosi sendiri.

Jangan sampai anak diminta berani mengakui kesalahan, sementara orang tuanya merasa tidak pernah salah.

Jangan sampai anak diminta terbuka, tetapi setiap kali ia mengungkapkan perasaannya, ia justru disalahkan.

Perubahan anak akan lebih mungkin bertahan ketika lingkungan yang mendukungnya juga ikut berubah.

Itulah sebabnya, dalam persoalan tertentu, pendampingan terhadap anak saja mungkin belum cukup. Orang tua juga perlu mendapatkan ruang untuk memahami pola pengasuhan, belajar berkomunikasi dengan lebih sehat, dan menyadari bagaimana respons mereka memengaruhi hubungan dengan anak.

Tentu, tidak semua orang tua yang sulit menerima masukan berarti tidak menyayangi anaknya. Ada yang merasa malu, ada yang takut disalahkan, dan ada yang memang belum pernah belajar cara menghadapi persoalan emosional semacam ini.

Karena itu, pendekatannya perlu dilakukan dengan bijaksana. Tujuannya bukan mempermalukan orang tua, melainkan membantu keluarga menemukan cara yang lebih baik untuk bertumbuh bersama.

Sebab, kita tidak sedang mencari siapa yang paling bersalah.

Kita sedang berusaha mencari jalan agar persoalan yang sama tidak terus berulang.


Pada akhirnya, saya ingin mengajak kita semua merenungkan satu hal.

Kalau dahulu kita dibesarkan dengan cara yang menyakitkan, apakah kita harus meneruskannya kepada anak-anak kita?

Kalau dahulu tidak ada yang mau mendengarkan perasaan kita, apakah anak-anak kita juga harus mengalami hal yang sama?

Kalau dahulu kita tidak pernah mendengar orang tua meminta maaf, mengapa kita tidak mencoba menjadi orang pertama yang berani melakukannya?

Menjadi orang tua bukan berarti kita harus selalu benar. Kita boleh salah. Kita boleh lelah. Kita boleh pernah mengambil keputusan yang keliru.

Tetapi, jangan sampai demi mempertahankan harga diri, kita mengabaikan luka yang mungkin sedang dirasakan oleh anak kita sendiri.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang bersedia belajar, mau mendengarkan, dan berani memperbaiki diri.

Sebab, anak yang tumbuh dengan rasa aman memiliki kesempatan lebih baik untuk belajar mempercayai dirinya sendiri, menghadapi masalah, dan mengelola kecemasan dalam kehidupannya.

Dan jika suatu hari kita menyadari bahwa ada tindakan kita yang ikut melukai anak, semoga kita tidak terlalu sibuk mencari pembenaran.

Semoga kita masih memiliki keberanian untuk berkata, “Maaf, Nak. Ayah dan Ibu juga masih belajar.”

Sederhana, memang. Tetapi, tidak selalu mudah dilakukan.

Demikianlah kenyataannya.

Kamis, 23 Oktober 2025

Lebih Mudah Sembuh dari Dalam dengan Hipnoterapi

 


Tubuh manusia bukan sekadar kumpulan organ, melainkan sistem hidup yang dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan. Apa yang kita pikirkan dan rasakan ternyata bisa menyalakan atau mematikan gen tertentu di dalam tubuh. Inilah yang disebut epigenetika — ilmu yang menjelaskan bagaimana faktor non-genetik, seperti lingkungan dan emosi, memengaruhi ekspresi gen kita.

Selama ini, banyak orang mengira penyakit muncul hanya karena faktor fisik. Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stres berkepanjangan, trauma, dan pikiran negatif dapat memengaruhi sistem imun dan berkaitan dengan munculnya penyakit kronis. Sebaliknya, pikiran tenang, syukur, dan kebahagiaan dapat mengaktifkan gen penyembuhan alami tubuh.

Contohnya, penelitian menunjukkan bahwa meditasi, relaksasi, dan latihan pernapasan mampu menurunkan hormon stres seperti kortisol, sekaligus meningkatkan hormon kebahagiaan seperti serotonin dan dopamin. Kondisi ini membantu tubuh berfungsi lebih optimal — tekanan darah stabil, pencernaan lancar, tidur lebih nyenyak, dan daya tahan tubuh meningkat.

Di sinilah hipnoterapi memainkan peran penting. Melalui pendekatan bawah sadar, hipnoterapi membantu seseorang melepaskan beban emosi lama, mengganti pola pikir negatif, dan menciptakan keseimbangan batin. Saat pikiran tenang, tubuh pun mendapat sinyal untuk memperbaiki diri. Banyak kasus menunjukkan, setelah sesi hipnoterapi, klien merasa lebih ringan secara emosional dan fisik, bahkan beberapa gejala psikosomatik berangsur mereda.

Dengan kata lain, penyembuhan sejati tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam diri. Saat kita berdamai dengan masa lalu, berpikir positif, dan hidup dengan hati yang tenang, tubuh kita ikut merespons dengan cara yang menakjubkan. Pikiran yang damai adalah obat yang paling kuat — dan ia tinggal di dalam diri kita sendiri.(*)

Sumber: Segerstrom, S. C., & Miller, G. E. (2004). Psychological stress and the human immune system: A meta-analytic study of 30 years of inquiry. Psychological Bulletin, 130(4), 601–630.

Selasa, 14 Oktober 2025

Ketika Teguran Tak Lagi Bermakna

Kasus seorang guru di SMAN 1 Cimarga, Lebak, yang menampar muridnya karena ketahuan merokok, menjadi sorotan publik. Gelombang reaksi pun muncul — sebagian menilai tindakan sang guru tidak manusiawi, sebagian lain merasa itu wajar sebagai bentuk disiplin. Tentu, kekerasan fisik tak pernah bisa dibenarkan. Sekolah bukan tempat untuk menyalurkan amarah. Namun di balik kasus ini, tersimpan pertanyaan yang lebih dalam: Apakah generasi muda kita hari ini masih memahami arti teguran dan batas? Zaman yang Mudah Tersinggung Kita hidup di masa ketika teguran sering disalahartikan sebagai serangan, dan disiplin dianggap bentuk kekerasan. Anak-anak mudah tersinggung, orang tua mudah melapor, dan guru—yang dulu menjadi figur otoritas—kini harus berhitung bahkan untuk marah. Padahal, tidak semua kemarahan lahir dari kebencian. Kadang, itu justru bentuk cinta yang salah cara. Guru bisa salah, tentu saja. Tapi bagaimana dengan murid yang sudah lebih dulu melanggar? Kasus di Cimarga mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya tentang angka dan nilai, melainkan tentang membentuk manusia yang memahami batas dan tanggung jawab. Kisah Seorang Wanita 80 Tahun Saya pernah bertemu seorang wanita berusia 80 tahun. Tubuhnya sudah ringkih, pandangannya sayu, tapi ada sesuatu di matanya yang sulit dilupakan — semacam penyesalan yang dalam. Ia tak bisa membaca. Tak bisa menulis. Bahkan untuk menulis namanya sendiri, ia tak mampu. Padahal, dulunya ia adalah anak seorang pengusaha kaya di Kaltim. Hidupnya berkecukupan. Apa pun yang diinginkan, selalu didapat. “Kalau nggak mau sekolah, ya nggak usah,” kata orang tuanya dulu. “Yang penting kamu bahagia.” Kakak-kakaknya diberi pesan untuk selalu menuruti adik bungsu itu. Maka hidupnya pun mengalir tanpa batas, tanpa teguran, tanpa disiplin. Semua dituruti, semua dimanja. Tahun demi tahun berlalu. Orang tuanya meninggal, dua kakaknya juga berpulang. Suaminya pun wafat. Kini ia sendirian di rumah besar yang dulu penuh tawa. Ia divonis mengalami skizofrenia ringan, sering lupa hal-hal kecil, dan kadang menangis tanpa sebab. Dalam satu percakapan, ia berbisik lirih, “Andai dulu aku dipaksa sedikit saja untuk belajar, mungkin aku tidak begini.”

Kalimat itu menancap dalam. Betapa banyak orang tua berpikir bahwa melarang, menegur, bahkan memaksa itu menyakitkan — padahal justru itulah wujud cinta yang sejati. Disiplin dan Cinta, Dua Sayap yang Harus Seimbang Kisah wanita itu dan kasus di Cimarga sama-sama bicara tentang satu hal: batas. Bahwa cinta tanpa batas akan melahirkan generasi yang rapuh, sementara aturan tanpa cinta akan melahirkan generasi yang terluka. Guru memang harus belajar menegur dengan hati. Tapi murid pun harus belajar untuk tidak menolak nasihat. Karena hidup tidak akan selalu menepuk pundak dengan lembut — kadang hidup menampar, agar kita sadar dan bangkit. Kita boleh menolak kekerasan, tapi jangan menolak kedisiplinan. Kita boleh menolak amarah, tapi jangan menolak teguran yang lahir dari niat baik. Karena dunia tanpa batas bukanlah kebebasan, melainkan awal dari kehilangan arah. (*)

Kamis, 11 September 2025

Ratusan ASN di Kaltim Belajar Public Speaking



SAMARINDA – Suasana Aula Bina Bangsa, Gedung B Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Kamis (11/9/2025), mendadak riuh penuh gelak tawa. Bukan karena guyonan biasa, melainkan karena ratusan ASN se-Kaltim diajak mencoba permainan unik saat belajar public speaking bersama Endro S Efendi, M.Sos, Master Trainer Public Speaking dari Semesta Academy sekaligus asesor BNSP RI.

Dalam sesi khusus pada kegiatan Pendidikan Wawasan Kebangsaan yang digelar Badan Kesbangpol Kaltim itu, Endro membuka dengan pesan sederhana namun dalam: keberanian berbicara di depan umum bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dilatih. Menurutnya, ASN yang sehari-hari bersentuhan dengan masyarakat perlu mampu menyampaikan pesan dengan cara yang jelas, tegas, namun tetap hangat.

“Suara ASN adalah suara pemerintah. Kalau penyampaiannya ragu-ragu, pesan penting bisa kehilangan makna,” ujar Endro di hadapan 150 peserta.


Untuk mencairkan suasana, ia mengajak peserta mencoba ice breaking berupa latihan membaca kalimat panjang dengan satu nafas. ASN yang biasanya kaku, tiba-tiba tertawa lepas karena harus membaca gabungan angka dan kata dengan gaya berbeda. “Begitu rasa gugup patah, percaya diri akan lebih mudah tumbuh,” tambahnya.

Endro menekankan, public speaking sejatinya bukan tentang siapa yang paling pintar bicara, melainkan siapa yang paling tulus menyampaikan pesan dengan bahasa sederhana namun mengena. “Kata-kata yang keluar dari hati akan lebih mudah menyentuh hati masyarakat,” katanya menutup sesi dengan tepuk tangan meriah dari peserta.

Selain sesi public speaking, kegiatan ini juga menghadirkan narasumber lain seperti Viko Januardhy, M.A., yang membahas penguatan ideologi Pancasila, serta Siti Noor Aini, S.E., Ak., yang menyoroti pentingnya integritas dalam pelayanan publik. Waktu yang terbatas membuat beberapa peserta berharap pelatihan public speaking seperti ini bisa dilaksanakan kembali dengan durasi lebih maksimal. (*)

Senin, 08 September 2025

Beri Pemahaman Bahaya Perundungan di Depan 300 Siswa SMA 2 Samarinda



SAMARINDA– SMA Negeri 2 Samarinda menggelar Seminar Penguatan Karakter Siswa dengan tema “Generasi Hebat Tanpa Bully, Semua Bisa Meraih Mimpi” pada Senin (8/9/2025), bertempat di Aula SMA Negeri 2 Samarinda.

Kegiatan dimulai pukul 10.10 WITA dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan oleh MC, serta sambutan Kepala SMA Negeri 2 Samarinda, Drs. H. Agus Gazali, M.Si.

Dalam sambutannya, Kepala Sekolah menekankan pentingnya menjaga hati dan karakter siswa sejak remaja.

“Anak-anakku sekalian, menjaga hati itu sangat penting. Jika hati baik, maka sikap, ucapan, dan perilaku kita juga akan baik. Generasi hebat itu bukan hanya yang berprestasi akademik, tetapi juga yang memiliki akhlak mulia dan saling menghargai,” ucap Agus Gazali.



Acara inti menghadirkan narasumber Endro S Efendi, SE., M.Sos., CHt., CPS. dengan materi berjudul “Setiap Individu Berharga.” Tidak hanya menyampaikan materi, Endro juga mengajak lebih dari 300 siswa kelas XII untuk bermain bersama dalam sebuah aktivitas interaktif. Permainan tersebut sarat makna, dan setelahnya para siswa diminta untuk berbagi pendapat tentang perasaan serta hikmah yang mereka dapatkan.

Beberapa siswa yang berani maju dan mengungkapkan pendapatnya kemudian mendapatkan apresiasi berupa voucher potongan biaya umroh sebesar Rp 500 ribu dari Sultanah, Umroh Bareng Yuk.

Dalam penyampaian materinya, Endro menekankan bahwa bullying bukan hanya menyakiti orang lain, tetapi juga mencerminkan kondisi hati yang belum terjaga.

“Bullying itu bukan sekadar perbuatan kasar atau ejekan. Ia bisa melukai mental, menghambat mimpi, bahkan merusak masa depan. Karena itu, mari kita biasakan menghargai sesama. Generasi hebat adalah generasi yang tumbuh dengan saling mendukung, bukan saling menjatuhkan,” ungkap Endro.



Sepanjang kegiatan, suasana seminar berjalan penuh antusiasme. Firda Irianti, S.Pd. bertindak sebagai moderator yang memandu jalannya acara sehingga diskusi berlangsung tertib dan interaktif.

Seminar yang berlangsung hingga pukul 12.00 WITA ini diharapkan mampu memperkuat karakter seluruh siswa SMA Negeri 2 Samarinda, agar menjadi generasi hebat tanpa bully, yang bersama-sama dapat meraih mimpi. (*)

 
Copyright © 2014–2026 Endro S. Efendi · Kebijakan Privasi · Disclaimer · Kontak · Template by OddThemes