Ada satu hal yang belakangan ini menarik perhatian saya dari sekian banyak pengalaman menangani klien dalam praktik hipnoterapi.
Ketika seorang anak mengalami masalah emosional, sering kali kita sibuk mencari tahu apa yang terjadi pada anak tersebut. Mengapa ia tidak percaya diri? Mengapa ia mudah cemas? Mengapa ia takut menghadapi masalah? Mengapa ia selalu membutuhkan bantuan orang lain untuk mengambil keputusan, bahkan untuk hal-hal sederhana?
Kita kemudian berusaha membantu anak itu. Kita ajak berbicara, kita telusuri pengalaman masa lalunya, dan kita berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam pikirannya.
Namun, ada satu hal yang terkadang justru lebih sulit dilakukan, yaitu mengajak orang tuanya untuk ikut berbenah.
Ini yang menarik.
Dalam beberapa kasus, ketika persoalan anak mulai ditelusuri, ternyata ada pengalaman di rumah yang ikut memengaruhi kondisi emosionalnya. Bisa berupa bentakan yang berulang, kritik yang merendahkan, tuntutan yang terlalu tinggi, perbandingan dengan anak lain, atau kebiasaan orang tua yang selalu mengatur dan tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar mengambil keputusan sendiri.
Tentu, tidak semua masalah anak berasal dari orang tuanya. Banyak faktor lain yang dapat memengaruhi kondisi emosional seorang anak. Namun, hubungan di dalam keluarga merupakan salah satu hal penting yang tidak boleh diabaikan.
Masalahnya, ketika orang tua diajak melihat kemungkinan adanya pengaruh pola pengasuhan terhadap kondisi anak, tidak semua bisa menerimanya dengan mudah.
Ada yang langsung membela diri.
“Lho, saya melakukan semua itu demi kebaikan anak saya.”
“Dulu saya juga dididik keras, tetapi saya baik-baik saja.”
“Anak saya memang terlalu sensitif.”
“Kalau bukan saya yang mengingatkan, siapa lagi?”
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar wajar. Bahkan, bisa jadi orang tua memang merasa apa yang dilakukannya adalah bentuk kasih sayang.
Tetapi, pernahkah kita berpikir bahwa sesuatu yang kita anggap sebagai bentuk kasih sayang belum tentu dirasakan dengan cara yang sama oleh anak?
Kita merasa sedang mendidik, tetapi anak merasa sedang direndahkan.
Kita merasa sedang mengingatkan, tetapi anak merasa dirinya selalu salah.
Kita merasa sedang melindungi, tetapi anak justru tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk belajar menghadapi masalahnya sendiri.
Akhirnya, orang tua merasa sudah melakukan yang terbaik, sementara anak menyimpan pengalaman yang tidak pernah benar-benar dipahami oleh orang tuanya.
Di sinilah persoalannya sering kali menjadi rumit.
Orang tua merasa dirinya tidak bersalah, sedangkan anak merasa ada sesuatu yang menyakitkan dalam hubungan mereka.
Lalu, siapa yang harus didengarkan?
Menurut saya, kita tidak perlu terburu-buru menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang perlu dilakukan pertama kali adalah bersedia mendengarkan pengalaman anak tanpa langsung membantah atau membenarkan diri sendiri.
Sebab, memahami perasaan anak tidak berarti kita harus menyetujui semua perkataannya. Memahami berarti kita bersedia melihat bahwa pengalaman yang sama bisa meninggalkan kesan yang berbeda pada setiap orang.
Anak yang Tidak Percaya Diri
Saya sering berpikir, mengapa ada anak yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi selalu merasa dirinya tidak mampu?
Ketika diberi tugas, ia takut salah. Ketika diminta mengambil keputusan, ia ragu. Ketika menghadapi tantangan baru, ia lebih dahulu berpikir bahwa dirinya tidak akan berhasil.
Bahkan, untuk melakukan sesuatu yang sederhana, ia masih membutuhkan pengakuan atau persetujuan orang lain.
Tentu, tidak semua anak yang tidak percaya diri mengalami pola pengasuhan yang sama. Namun, salah satu hal yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana anak diperlakukan ketika melakukan kesalahan.
Bayangkan seorang anak yang sejak kecil sering mendengar kalimat seperti:
“Kamu ini memang tidak bisa apa-apa!”
“Begitu saja tidak becus!”
“Lihat anak orang lain, bisa. Kamu kenapa tidak bisa?”
Mungkin orang tuanya hanya sedang marah. Mungkin setelah itu ia sudah lupa dengan perkataannya.
Tetapi, bagaimana dengan anak yang mendengarnya?
Anak mungkin tidak memiliki kemampuan untuk membedakan bahwa perkataan itu keluar karena kemarahan sesaat. Ia bisa saja mulai mempercayai bahwa dirinya memang tidak mampu, tidak pintar, atau selalu mengecewakan orang lain.
Jika pengalaman seperti itu terjadi berulang kali, sebagian anak dapat tumbuh dengan penilaian negatif terhadap dirinya sendiri.
Ketika dewasa, ia mungkin masih takut mencoba. Ia takut gagal, takut dikritik, dan takut mengecewakan orang lain.
Ironisnya, orang tua yang dahulu sering mengatakan bahwa anaknya tidak mampu mungkin kemudian mengeluh, mengapa anaknya tidak berani mengambil tantangan.
Padahal, keberanian tidak tumbuh hanya dari nasihat. Anak juga membutuhkan pengalaman bahwa dirinya dipercaya, dihargai, dan diberikan kesempatan untuk mencoba.
Selalu Membutuhkan Orang Lain untuk Menghadapi Masalah
Ada lagi persoalan yang tidak kalah menarik.
Sebagian anak tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengambil keputusan sendiri. Ketika menghadapi masalah, ia langsung panik dan mencari orang lain untuk menentukan apa yang harus dilakukan.
Bukan karena ia tidak memiliki kemampuan berpikir, melainkan mungkin karena ia tidak terbiasa mempercayai penilaiannya sendiri.
Hal ini bisa terjadi dalam pola pengasuhan yang terlalu mengontrol. Semua harus sesuai keinginan orang tua. Pilihan anak selalu dikoreksi. Kesalahan kecil dianggap sebagai masalah besar. Bahkan, ketika anak mencoba menyelesaikan persoalannya sendiri, orang tua langsung mengambil alih.
Niatnya mungkin baik. Orang tua tidak ingin anaknya gagal atau mengalami kesulitan.
Tetapi, bukankah kita justru belajar menghadapi masalah melalui pengalaman?
Kalau setiap kali anak menghadapi kesulitan orang tua selalu turun tangan, kapan anak belajar mencari jalan keluar?
Kalau setiap kali anak mengambil keputusan orang tua langsung menentukan mana yang benar, kapan anak belajar mempertimbangkan pilihan dan menerima konsekuensinya?
Kalau setiap kesalahan langsung dimarahi, bagaimana anak bisa belajar bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses bertumbuh?
Anak memang membutuhkan perlindungan. Namun, anak juga membutuhkan ruang untuk belajar mandiri.
Kita tidak bisa terus-menerus menyelesaikan semua masalah anak, lalu berharap suatu hari ia tiba-tiba menjadi pribadi yang mandiri.
Kemandirian perlu dilatih. Anak perlu diberi kesempatan untuk berpikir, mencoba, mengambil keputusan sesuai usianya, dan belajar memperbaiki kesalahan dengan pendampingan yang tepat.
Tugas orang tua bukan selalu menjadi orang yang memberikan jawaban. Terkadang, tugas orang tua justru membantu anak menemukan jawabannya sendiri.
Kecemasan yang Terbawa hingga Dewasa
Hal lain yang perlu kita perhatikan adalah kecemasan berlebihan.
Ada anak yang selalu khawatir melakukan kesalahan. Ia takut dimarahi, takut ditolak, takut mengecewakan orang lain, bahkan takut menghadapi situasi yang sebenarnya biasa saja.
Ketika akan melakukan sesuatu, pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
“Bagaimana kalau saya salah?”
“Bagaimana kalau mereka marah?”
“Bagaimana kalau saya gagal?”
“Bagaimana kalau saya mengecewakan semua orang?”
Sekali lagi, kecemasan memiliki banyak penyebab. Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa semua anak yang cemas pasti memiliki orang tua yang bermasalah.
Namun, lingkungan yang membuat anak terus-menerus merasa terancam, dinilai, atau takut melakukan kesalahan dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kecemasan pada sebagian anak.
Anak yang tidak pernah tahu kapan dirinya akan dimarahi mungkin menjadi terlalu waspada terhadap perubahan suasana hati orang tuanya.
Ia belajar memperhatikan nada suara, ekspresi wajah, dan gerakan kecil orang di sekitarnya. Ia berusaha memastikan bahwa dirinya tidak melakukan sesuatu yang dapat memicu kemarahan.
Lama-kelamaan, sebagian anak dapat terbiasa mengutamakan perasaan orang lain daripada memahami kebutuhannya sendiri.
Ketika dewasa, kebiasaan tersebut bisa terbawa ke lingkungan pertemanan, pekerjaan, bahkan hubungan rumah tangga.
Ia sulit berkata tidak. Ia takut mengecewakan orang lain. Ia terlalu memikirkan penilaian orang. Ia merasa harus selalu menyenangkan semua orang agar tetap diterima.
Padahal, hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Kita tidak mungkin menyenangkan semua orang, dan kita tidak mungkin menghindari semua kesalahan.
Anak perlu belajar bahwa melakukan kesalahan bukan berarti dirinya buruk. Mengalami kegagalan bukan berarti hidupnya berakhir. Dan berbeda pendapat bukan berarti ia akan kehilangan kasih sayang orang-orang yang dicintainya.
Rasa aman seperti ini penting agar anak memiliki kesempatan untuk belajar menghadapi kehidupan dengan lebih sehat.
Mengapa Orang Tua Sulit Mengakui Kesalahan?
Nah, bagian ini yang menurut saya cukup menantang.
Ketika persoalan anak mulai terlihat, mengapa sebagian orang tua justru sulit diajak mengevaluasi dirinya sendiri?
Mengapa ada orang tua yang lebih mudah menyalahkan anak daripada mempertimbangkan kemungkinan bahwa dirinya juga memiliki andil dalam persoalan tersebut?
Mungkin salah satu jawabannya adalah karena mengakui kesalahan terasa menyakitkan.
Bagi sebagian orang, mengakui kesalahan seolah-olah berarti mengakui bahwa dirinya adalah orang tua yang buruk.
Padahal, keduanya tidak selalu sama.
Seseorang bisa bekerja keras untuk keluarga, memenuhi kebutuhan anak, menyekolahkan anak setinggi mungkin, dan tetap melakukan kesalahan dalam cara mendidiknya.
Seseorang bisa sangat mencintai anaknya, tetapi belum tentu memahami bagaimana cara mengekspresikan cinta yang membuat anak merasa aman.
Dua hal itu bisa terjadi bersamaan.
Sayangnya, ketika seseorang terlalu sibuk mempertahankan gambaran bahwa dirinya adalah orang tua yang baik, ia bisa kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hal-hal yang memang perlu diperbaiki.
Setiap kritik dianggap sebagai serangan. Setiap keluhan anak dianggap sebagai bentuk ketidakpatuhan. Setiap ajakan untuk berubah dianggap sebagai upaya menyalahkan dirinya.
Ada pula yang selalu memiliki alasan untuk membenarkan tindakannya.
Kalau anak terluka, anak dianggap terlalu sensitif.
Kalau anak marah, anak dianggap tidak tahu berterima kasih.
Kalau anak menjauh, anak dianggap durhaka.
Padahal, bisa jadi ada pengalaman yang belum pernah benar-benar didengarkan.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa orang tua harus selalu mengalah atau bahwa setiap keluhan anak pasti benar. Orang tua juga manusia yang memiliki keterbatasan, tekanan hidup, dan pengalaman masa lalu.
Namun, kita perlu membedakan antara menjelaskan alasan di balik suatu tindakan dan menggunakan alasan tersebut untuk menghindari tanggung jawab.
Bahwa dahulu kita juga dibesarkan dengan keras, misalnya, mungkin menjelaskan mengapa kita terbiasa mendidik dengan cara yang sama. Tetapi, itu tidak otomatis berarti cara tersebut harus terus diwariskan.
Kita bisa memahami masa lalu kita tanpa harus mengulanginya.
Meminta Maaf kepada Anak, Mengapa Terasa Begitu Sulit?
Ada satu hal sederhana yang menurut saya memiliki makna besar dalam hubungan orang tua dan anak: meminta maaf.
Kedengarannya mudah, bukan?
Tetapi, dalam kenyataannya, bagi sebagian orang tua, mengucapkan kata maaf kepada anak terasa jauh lebih sulit daripada memarahinya.
Kalaupun akhirnya meminta maaf, terkadang masih disertai pembelaan.
“Ya, maaf. Tapi kamu juga yang membuat Ayah marah.”
“Ibu minta maaf, tetapi semua itu demi kebaikanmu.”
Kalimat tersebut mungkin terdengar seperti permintaan maaf. Namun, tanggung jawab atas tindakan yang menyakiti anak masih bercampur dengan upaya membenarkan diri.
Meminta maaf dengan tulus bukan berarti orang tua harus menganggap dirinya selalu salah. Bukan pula berarti anak bebas melakukan apa saja.
Meminta maaf berarti berani mengakui bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.
Misalnya, seorang ayah bisa mengatakan:
“Ayah sadar dulu sering membentakmu ketika kamu melakukan kesalahan. Ayah merasa sedang mendisiplinkanmu, tetapi sekarang Ayah memahami bahwa cara itu mungkin membuatmu takut. Ayah minta maaf. Ayah ingin belajar memperbaikinya.”
Tidak perlu berpanjang-panjang. Tidak perlu mencari alasan. Tidak perlu langsung menuntut anak memaafkan.
Cukup akui, dengarkan, dan tunjukkan perubahan melalui tindakan.
Tentu, kepercayaan tidak selalu pulih dalam sehari. Jika luka sudah berlangsung lama, anak mungkin membutuhkan waktu untuk merasa aman kembali.
Tetapi, bukankah langkah pertama memang harus dimulai dari keberanian untuk mengakui kenyataan?
Jangan Hanya Meminta Anak Berubah
Dalam praktik hipnoterapi, saya melihat betapa pentingnya memahami pengalaman seseorang, bukan hanya melihat perilaku yang muncul di permukaan.
Ketika seorang anak mengalami masalah, kita tentu ingin membantunya. Kita ingin ia lebih percaya diri, lebih tenang, lebih mandiri, dan lebih mampu menghadapi persoalan hidup.
Namun, kita juga perlu melihat lingkungan tempat ia bertumbuh.
Jangan sampai anak diminta belajar mengendalikan emosi, sementara orang dewasa di sekitarnya tidak bersedia mengendalikan emosi sendiri.
Jangan sampai anak diminta berani mengakui kesalahan, sementara orang tuanya merasa tidak pernah salah.
Jangan sampai anak diminta terbuka, tetapi setiap kali ia mengungkapkan perasaannya, ia justru disalahkan.
Perubahan anak akan lebih mungkin bertahan ketika lingkungan yang mendukungnya juga ikut berubah.
Itulah sebabnya, dalam persoalan tertentu, pendampingan terhadap anak saja mungkin belum cukup. Orang tua juga perlu mendapatkan ruang untuk memahami pola pengasuhan, belajar berkomunikasi dengan lebih sehat, dan menyadari bagaimana respons mereka memengaruhi hubungan dengan anak.
Tentu, tidak semua orang tua yang sulit menerima masukan berarti tidak menyayangi anaknya. Ada yang merasa malu, ada yang takut disalahkan, dan ada yang memang belum pernah belajar cara menghadapi persoalan emosional semacam ini.
Karena itu, pendekatannya perlu dilakukan dengan bijaksana. Tujuannya bukan mempermalukan orang tua, melainkan membantu keluarga menemukan cara yang lebih baik untuk bertumbuh bersama.
Sebab, kita tidak sedang mencari siapa yang paling bersalah.
Kita sedang berusaha mencari jalan agar persoalan yang sama tidak terus berulang.
Pada akhirnya, saya ingin mengajak kita semua merenungkan satu hal.
Kalau dahulu kita dibesarkan dengan cara yang menyakitkan, apakah kita harus meneruskannya kepada anak-anak kita?
Kalau dahulu tidak ada yang mau mendengarkan perasaan kita, apakah anak-anak kita juga harus mengalami hal yang sama?
Kalau dahulu kita tidak pernah mendengar orang tua meminta maaf, mengapa kita tidak mencoba menjadi orang pertama yang berani melakukannya?
Menjadi orang tua bukan berarti kita harus selalu benar. Kita boleh salah. Kita boleh lelah. Kita boleh pernah mengambil keputusan yang keliru.
Tetapi, jangan sampai demi mempertahankan harga diri, kita mengabaikan luka yang mungkin sedang dirasakan oleh anak kita sendiri.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang bersedia belajar, mau mendengarkan, dan berani memperbaiki diri.
Sebab, anak yang tumbuh dengan rasa aman memiliki kesempatan lebih baik untuk belajar mempercayai dirinya sendiri, menghadapi masalah, dan mengelola kecemasan dalam kehidupannya.
Dan jika suatu hari kita menyadari bahwa ada tindakan kita yang ikut melukai anak, semoga kita tidak terlalu sibuk mencari pembenaran.
Semoga kita masih memiliki keberanian untuk berkata, “Maaf, Nak. Ayah dan Ibu juga masih belajar.”
Sederhana, memang. Tetapi, tidak selalu mudah dilakukan.
Demikianlah kenyataannya.




















