HYPNO NEWS

Monday, October 12, 2026

Ketika Orang Tua Sulit Mengakui Kesalahan


Ada satu hal yang belakangan ini menarik perhatian saya dari sekian banyak pengalaman menangani klien dalam praktik hipnoterapi.

Ketika seorang anak mengalami masalah emosional, sering kali kita sibuk mencari tahu apa yang terjadi pada anak tersebut. Mengapa ia tidak percaya diri? Mengapa ia mudah cemas? Mengapa ia takut menghadapi masalah? Mengapa ia selalu membutuhkan bantuan orang lain untuk mengambil keputusan, bahkan untuk hal-hal sederhana?

Kita kemudian berusaha membantu anak itu. Kita ajak berbicara, kita telusuri pengalaman masa lalunya, dan kita berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam pikirannya.

Namun, ada satu hal yang terkadang justru lebih sulit dilakukan, yaitu mengajak orang tuanya untuk ikut berbenah.

Ini yang menarik.

Dalam beberapa kasus, ketika persoalan anak mulai ditelusuri, ternyata ada pengalaman di rumah yang ikut memengaruhi kondisi emosionalnya. Bisa berupa bentakan yang berulang, kritik yang merendahkan, tuntutan yang terlalu tinggi, perbandingan dengan anak lain, atau kebiasaan orang tua yang selalu mengatur dan tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar mengambil keputusan sendiri.

Tentu, tidak semua masalah anak berasal dari orang tuanya. Banyak faktor lain yang dapat memengaruhi kondisi emosional seorang anak. Namun, hubungan di dalam keluarga merupakan salah satu hal penting yang tidak boleh diabaikan.

Masalahnya, ketika orang tua diajak melihat kemungkinan adanya pengaruh pola pengasuhan terhadap kondisi anak, tidak semua bisa menerimanya dengan mudah.

Ada yang langsung membela diri.

“Lho, saya melakukan semua itu demi kebaikan anak saya.”

“Dulu saya juga dididik keras, tetapi saya baik-baik saja.”

“Anak saya memang terlalu sensitif.”

“Kalau bukan saya yang mengingatkan, siapa lagi?”

Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar wajar. Bahkan, bisa jadi orang tua memang merasa apa yang dilakukannya adalah bentuk kasih sayang.

Tetapi, pernahkah kita berpikir bahwa sesuatu yang kita anggap sebagai bentuk kasih sayang belum tentu dirasakan dengan cara yang sama oleh anak?

Kita merasa sedang mendidik, tetapi anak merasa sedang direndahkan.

Kita merasa sedang mengingatkan, tetapi anak merasa dirinya selalu salah.

Kita merasa sedang melindungi, tetapi anak justru tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk belajar menghadapi masalahnya sendiri.

Akhirnya, orang tua merasa sudah melakukan yang terbaik, sementara anak menyimpan pengalaman yang tidak pernah benar-benar dipahami oleh orang tuanya.

Di sinilah persoalannya sering kali menjadi rumit.

Orang tua merasa dirinya tidak bersalah, sedangkan anak merasa ada sesuatu yang menyakitkan dalam hubungan mereka.

Lalu, siapa yang harus didengarkan?

Menurut saya, kita tidak perlu terburu-buru menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang perlu dilakukan pertama kali adalah bersedia mendengarkan pengalaman anak tanpa langsung membantah atau membenarkan diri sendiri.

Sebab, memahami perasaan anak tidak berarti kita harus menyetujui semua perkataannya. Memahami berarti kita bersedia melihat bahwa pengalaman yang sama bisa meninggalkan kesan yang berbeda pada setiap orang.


Anak yang Tidak Percaya Diri

Saya sering berpikir, mengapa ada anak yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi selalu merasa dirinya tidak mampu?

Ketika diberi tugas, ia takut salah. Ketika diminta mengambil keputusan, ia ragu. Ketika menghadapi tantangan baru, ia lebih dahulu berpikir bahwa dirinya tidak akan berhasil.

Bahkan, untuk melakukan sesuatu yang sederhana, ia masih membutuhkan pengakuan atau persetujuan orang lain.

Tentu, tidak semua anak yang tidak percaya diri mengalami pola pengasuhan yang sama. Namun, salah satu hal yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana anak diperlakukan ketika melakukan kesalahan.

Bayangkan seorang anak yang sejak kecil sering mendengar kalimat seperti:

“Kamu ini memang tidak bisa apa-apa!”

“Begitu saja tidak becus!”

“Lihat anak orang lain, bisa. Kamu kenapa tidak bisa?”

Mungkin orang tuanya hanya sedang marah. Mungkin setelah itu ia sudah lupa dengan perkataannya.

Tetapi, bagaimana dengan anak yang mendengarnya?

Anak mungkin tidak memiliki kemampuan untuk membedakan bahwa perkataan itu keluar karena kemarahan sesaat. Ia bisa saja mulai mempercayai bahwa dirinya memang tidak mampu, tidak pintar, atau selalu mengecewakan orang lain.

Jika pengalaman seperti itu terjadi berulang kali, sebagian anak dapat tumbuh dengan penilaian negatif terhadap dirinya sendiri.

Ketika dewasa, ia mungkin masih takut mencoba. Ia takut gagal, takut dikritik, dan takut mengecewakan orang lain.

Ironisnya, orang tua yang dahulu sering mengatakan bahwa anaknya tidak mampu mungkin kemudian mengeluh, mengapa anaknya tidak berani mengambil tantangan.

Padahal, keberanian tidak tumbuh hanya dari nasihat. Anak juga membutuhkan pengalaman bahwa dirinya dipercaya, dihargai, dan diberikan kesempatan untuk mencoba.


Selalu Membutuhkan Orang Lain untuk Menghadapi Masalah

Ada lagi persoalan yang tidak kalah menarik.

Sebagian anak tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengambil keputusan sendiri. Ketika menghadapi masalah, ia langsung panik dan mencari orang lain untuk menentukan apa yang harus dilakukan.

Bukan karena ia tidak memiliki kemampuan berpikir, melainkan mungkin karena ia tidak terbiasa mempercayai penilaiannya sendiri.

Hal ini bisa terjadi dalam pola pengasuhan yang terlalu mengontrol. Semua harus sesuai keinginan orang tua. Pilihan anak selalu dikoreksi. Kesalahan kecil dianggap sebagai masalah besar. Bahkan, ketika anak mencoba menyelesaikan persoalannya sendiri, orang tua langsung mengambil alih.

Niatnya mungkin baik. Orang tua tidak ingin anaknya gagal atau mengalami kesulitan.

Tetapi, bukankah kita justru belajar menghadapi masalah melalui pengalaman?

Kalau setiap kali anak menghadapi kesulitan orang tua selalu turun tangan, kapan anak belajar mencari jalan keluar?

Kalau setiap kali anak mengambil keputusan orang tua langsung menentukan mana yang benar, kapan anak belajar mempertimbangkan pilihan dan menerima konsekuensinya?

Kalau setiap kesalahan langsung dimarahi, bagaimana anak bisa belajar bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses bertumbuh?

Anak memang membutuhkan perlindungan. Namun, anak juga membutuhkan ruang untuk belajar mandiri.

Kita tidak bisa terus-menerus menyelesaikan semua masalah anak, lalu berharap suatu hari ia tiba-tiba menjadi pribadi yang mandiri.

Kemandirian perlu dilatih. Anak perlu diberi kesempatan untuk berpikir, mencoba, mengambil keputusan sesuai usianya, dan belajar memperbaiki kesalahan dengan pendampingan yang tepat.

Tugas orang tua bukan selalu menjadi orang yang memberikan jawaban. Terkadang, tugas orang tua justru membantu anak menemukan jawabannya sendiri.


Kecemasan yang Terbawa hingga Dewasa

Hal lain yang perlu kita perhatikan adalah kecemasan berlebihan.

Ada anak yang selalu khawatir melakukan kesalahan. Ia takut dimarahi, takut ditolak, takut mengecewakan orang lain, bahkan takut menghadapi situasi yang sebenarnya biasa saja.

Ketika akan melakukan sesuatu, pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

“Bagaimana kalau saya salah?”

“Bagaimana kalau mereka marah?”

“Bagaimana kalau saya gagal?”

“Bagaimana kalau saya mengecewakan semua orang?”

Sekali lagi, kecemasan memiliki banyak penyebab. Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa semua anak yang cemas pasti memiliki orang tua yang bermasalah.

Namun, lingkungan yang membuat anak terus-menerus merasa terancam, dinilai, atau takut melakukan kesalahan dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kecemasan pada sebagian anak.

Anak yang tidak pernah tahu kapan dirinya akan dimarahi mungkin menjadi terlalu waspada terhadap perubahan suasana hati orang tuanya.

Ia belajar memperhatikan nada suara, ekspresi wajah, dan gerakan kecil orang di sekitarnya. Ia berusaha memastikan bahwa dirinya tidak melakukan sesuatu yang dapat memicu kemarahan.

Lama-kelamaan, sebagian anak dapat terbiasa mengutamakan perasaan orang lain daripada memahami kebutuhannya sendiri.

Ketika dewasa, kebiasaan tersebut bisa terbawa ke lingkungan pertemanan, pekerjaan, bahkan hubungan rumah tangga.

Ia sulit berkata tidak. Ia takut mengecewakan orang lain. Ia terlalu memikirkan penilaian orang. Ia merasa harus selalu menyenangkan semua orang agar tetap diterima.

Padahal, hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Kita tidak mungkin menyenangkan semua orang, dan kita tidak mungkin menghindari semua kesalahan.

Anak perlu belajar bahwa melakukan kesalahan bukan berarti dirinya buruk. Mengalami kegagalan bukan berarti hidupnya berakhir. Dan berbeda pendapat bukan berarti ia akan kehilangan kasih sayang orang-orang yang dicintainya.

Rasa aman seperti ini penting agar anak memiliki kesempatan untuk belajar menghadapi kehidupan dengan lebih sehat.


Mengapa Orang Tua Sulit Mengakui Kesalahan?

Nah, bagian ini yang menurut saya cukup menantang.

Ketika persoalan anak mulai terlihat, mengapa sebagian orang tua justru sulit diajak mengevaluasi dirinya sendiri?

Mengapa ada orang tua yang lebih mudah menyalahkan anak daripada mempertimbangkan kemungkinan bahwa dirinya juga memiliki andil dalam persoalan tersebut?

Mungkin salah satu jawabannya adalah karena mengakui kesalahan terasa menyakitkan.

Bagi sebagian orang, mengakui kesalahan seolah-olah berarti mengakui bahwa dirinya adalah orang tua yang buruk.

Padahal, keduanya tidak selalu sama.

Seseorang bisa bekerja keras untuk keluarga, memenuhi kebutuhan anak, menyekolahkan anak setinggi mungkin, dan tetap melakukan kesalahan dalam cara mendidiknya.

Seseorang bisa sangat mencintai anaknya, tetapi belum tentu memahami bagaimana cara mengekspresikan cinta yang membuat anak merasa aman.

Dua hal itu bisa terjadi bersamaan.

Sayangnya, ketika seseorang terlalu sibuk mempertahankan gambaran bahwa dirinya adalah orang tua yang baik, ia bisa kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hal-hal yang memang perlu diperbaiki.

Setiap kritik dianggap sebagai serangan. Setiap keluhan anak dianggap sebagai bentuk ketidakpatuhan. Setiap ajakan untuk berubah dianggap sebagai upaya menyalahkan dirinya.

Ada pula yang selalu memiliki alasan untuk membenarkan tindakannya.

Kalau anak terluka, anak dianggap terlalu sensitif.

Kalau anak marah, anak dianggap tidak tahu berterima kasih.

Kalau anak menjauh, anak dianggap durhaka.

Padahal, bisa jadi ada pengalaman yang belum pernah benar-benar didengarkan.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa orang tua harus selalu mengalah atau bahwa setiap keluhan anak pasti benar. Orang tua juga manusia yang memiliki keterbatasan, tekanan hidup, dan pengalaman masa lalu.

Namun, kita perlu membedakan antara menjelaskan alasan di balik suatu tindakan dan menggunakan alasan tersebut untuk menghindari tanggung jawab.

Bahwa dahulu kita juga dibesarkan dengan keras, misalnya, mungkin menjelaskan mengapa kita terbiasa mendidik dengan cara yang sama. Tetapi, itu tidak otomatis berarti cara tersebut harus terus diwariskan.

Kita bisa memahami masa lalu kita tanpa harus mengulanginya.


Meminta Maaf kepada Anak, Mengapa Terasa Begitu Sulit?

Ada satu hal sederhana yang menurut saya memiliki makna besar dalam hubungan orang tua dan anak: meminta maaf.

Kedengarannya mudah, bukan?

Tetapi, dalam kenyataannya, bagi sebagian orang tua, mengucapkan kata maaf kepada anak terasa jauh lebih sulit daripada memarahinya.

Kalaupun akhirnya meminta maaf, terkadang masih disertai pembelaan.

“Ya, maaf. Tapi kamu juga yang membuat Ayah marah.”

“Ibu minta maaf, tetapi semua itu demi kebaikanmu.”

Kalimat tersebut mungkin terdengar seperti permintaan maaf. Namun, tanggung jawab atas tindakan yang menyakiti anak masih bercampur dengan upaya membenarkan diri.

Meminta maaf dengan tulus bukan berarti orang tua harus menganggap dirinya selalu salah. Bukan pula berarti anak bebas melakukan apa saja.

Meminta maaf berarti berani mengakui bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.

Misalnya, seorang ayah bisa mengatakan:

“Ayah sadar dulu sering membentakmu ketika kamu melakukan kesalahan. Ayah merasa sedang mendisiplinkanmu, tetapi sekarang Ayah memahami bahwa cara itu mungkin membuatmu takut. Ayah minta maaf. Ayah ingin belajar memperbaikinya.”

Tidak perlu berpanjang-panjang. Tidak perlu mencari alasan. Tidak perlu langsung menuntut anak memaafkan.

Cukup akui, dengarkan, dan tunjukkan perubahan melalui tindakan.

Tentu, kepercayaan tidak selalu pulih dalam sehari. Jika luka sudah berlangsung lama, anak mungkin membutuhkan waktu untuk merasa aman kembali.

Tetapi, bukankah langkah pertama memang harus dimulai dari keberanian untuk mengakui kenyataan?


Jangan Hanya Meminta Anak Berubah

Dalam praktik hipnoterapi, saya melihat betapa pentingnya memahami pengalaman seseorang, bukan hanya melihat perilaku yang muncul di permukaan.

Ketika seorang anak mengalami masalah, kita tentu ingin membantunya. Kita ingin ia lebih percaya diri, lebih tenang, lebih mandiri, dan lebih mampu menghadapi persoalan hidup.

Namun, kita juga perlu melihat lingkungan tempat ia bertumbuh.

Jangan sampai anak diminta belajar mengendalikan emosi, sementara orang dewasa di sekitarnya tidak bersedia mengendalikan emosi sendiri.

Jangan sampai anak diminta berani mengakui kesalahan, sementara orang tuanya merasa tidak pernah salah.

Jangan sampai anak diminta terbuka, tetapi setiap kali ia mengungkapkan perasaannya, ia justru disalahkan.

Perubahan anak akan lebih mungkin bertahan ketika lingkungan yang mendukungnya juga ikut berubah.

Itulah sebabnya, dalam persoalan tertentu, pendampingan terhadap anak saja mungkin belum cukup. Orang tua juga perlu mendapatkan ruang untuk memahami pola pengasuhan, belajar berkomunikasi dengan lebih sehat, dan menyadari bagaimana respons mereka memengaruhi hubungan dengan anak.

Tentu, tidak semua orang tua yang sulit menerima masukan berarti tidak menyayangi anaknya. Ada yang merasa malu, ada yang takut disalahkan, dan ada yang memang belum pernah belajar cara menghadapi persoalan emosional semacam ini.

Karena itu, pendekatannya perlu dilakukan dengan bijaksana. Tujuannya bukan mempermalukan orang tua, melainkan membantu keluarga menemukan cara yang lebih baik untuk bertumbuh bersama.

Sebab, kita tidak sedang mencari siapa yang paling bersalah.

Kita sedang berusaha mencari jalan agar persoalan yang sama tidak terus berulang.


Pada akhirnya, saya ingin mengajak kita semua merenungkan satu hal.

Kalau dahulu kita dibesarkan dengan cara yang menyakitkan, apakah kita harus meneruskannya kepada anak-anak kita?

Kalau dahulu tidak ada yang mau mendengarkan perasaan kita, apakah anak-anak kita juga harus mengalami hal yang sama?

Kalau dahulu kita tidak pernah mendengar orang tua meminta maaf, mengapa kita tidak mencoba menjadi orang pertama yang berani melakukannya?

Menjadi orang tua bukan berarti kita harus selalu benar. Kita boleh salah. Kita boleh lelah. Kita boleh pernah mengambil keputusan yang keliru.

Tetapi, jangan sampai demi mempertahankan harga diri, kita mengabaikan luka yang mungkin sedang dirasakan oleh anak kita sendiri.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang bersedia belajar, mau mendengarkan, dan berani memperbaiki diri.

Sebab, anak yang tumbuh dengan rasa aman memiliki kesempatan lebih baik untuk belajar mempercayai dirinya sendiri, menghadapi masalah, dan mengelola kecemasan dalam kehidupannya.

Dan jika suatu hari kita menyadari bahwa ada tindakan kita yang ikut melukai anak, semoga kita tidak terlalu sibuk mencari pembenaran.

Semoga kita masih memiliki keberanian untuk berkata, “Maaf, Nak. Ayah dan Ibu juga masih belajar.”

Sederhana, memang. Tetapi, tidak selalu mudah dilakukan.

Demikianlah kenyataannya.

Thursday, October 23, 2025

Lebih Mudah Sembuh dari Dalam dengan Hipnoterapi

 


Tubuh manusia bukan sekadar kumpulan organ, melainkan sistem hidup yang dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan. Apa yang kita pikirkan dan rasakan ternyata bisa menyalakan atau mematikan gen tertentu di dalam tubuh. Inilah yang disebut epigenetika — ilmu yang menjelaskan bagaimana faktor non-genetik, seperti lingkungan dan emosi, memengaruhi ekspresi gen kita.

Selama ini, banyak orang mengira penyakit muncul hanya karena faktor fisik. Padahal, penelitian membuktikan bahwa stres, trauma, dan pikiran negatif bisa melemahkan sistem imun, mempercepat penuaan, hingga memicu penyakit kronis. Sebaliknya, pikiran tenang, syukur, dan kebahagiaan dapat mengaktifkan gen penyembuhan alami tubuh.

Contohnya, penelitian menunjukkan bahwa meditasi, relaksasi, dan latihan pernapasan mampu menurunkan hormon stres seperti kortisol, sekaligus meningkatkan hormon kebahagiaan seperti serotonin dan dopamin. Kondisi ini membantu tubuh berfungsi lebih optimal — tekanan darah stabil, pencernaan lancar, tidur lebih nyenyak, dan daya tahan tubuh meningkat.

Di sinilah hipnoterapi memainkan peran penting. Melalui pendekatan bawah sadar, hipnoterapi membantu seseorang melepaskan beban emosi lama, mengganti pola pikir negatif, dan menciptakan keseimbangan batin. Saat pikiran tenang, tubuh pun mendapat sinyal untuk memperbaiki diri. Banyak kasus menunjukkan, setelah sesi hipnoterapi, klien merasa lebih ringan secara emosional dan fisik, bahkan beberapa gejala psikosomatik berangsur mereda.

Dengan kata lain, penyembuhan sejati tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam diri. Saat kita berdamai dengan masa lalu, berpikir positif, dan hidup dengan hati yang tenang, tubuh kita ikut merespons dengan cara yang menakjubkan. Pikiran yang damai adalah obat yang paling kuat — dan ia tinggal di dalam diri kita sendiri.(*)

Tuesday, October 14, 2025

Ketika Teguran Tak Lagi Bermakna

Kasus seorang guru di SMAN 1 Cimarga, Lebak, yang menampar muridnya karena ketahuan merokok, menjadi sorotan publik. Gelombang reaksi pun muncul — sebagian menilai tindakan sang guru tidak manusiawi, sebagian lain merasa itu wajar sebagai bentuk disiplin. Tentu, kekerasan fisik tak pernah bisa dibenarkan. Sekolah bukan tempat untuk menyalurkan amarah. Namun di balik kasus ini, tersimpan pertanyaan yang lebih dalam: Apakah generasi muda kita hari ini masih memahami arti teguran dan batas? Zaman yang Mudah Tersinggung Kita hidup di masa ketika teguran sering disalahartikan sebagai serangan, dan disiplin dianggap bentuk kekerasan. Anak-anak mudah tersinggung, orang tua mudah melapor, dan guru—yang dulu menjadi figur otoritas—kini harus berhitung bahkan untuk marah. Padahal, tidak semua kemarahan lahir dari kebencian. Kadang, itu justru bentuk cinta yang salah cara. Guru bisa salah, tentu saja. Tapi bagaimana dengan murid yang sudah lebih dulu melanggar? Kasus di Cimarga mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya tentang angka dan nilai, melainkan tentang membentuk manusia yang memahami batas dan tanggung jawab. Kisah Seorang Wanita 80 Tahun Saya pernah bertemu seorang wanita berusia 80 tahun. Tubuhnya sudah ringkih, pandangannya sayu, tapi ada sesuatu di matanya yang sulit dilupakan — semacam penyesalan yang dalam. Ia tak bisa membaca. Tak bisa menulis. Bahkan untuk menulis namanya sendiri, ia tak mampu. Padahal, dulunya ia adalah anak seorang pengusaha kaya di Kaltim. Hidupnya berkecukupan. Apa pun yang diinginkan, selalu didapat. “Kalau nggak mau sekolah, ya nggak usah,” kata orang tuanya dulu. “Yang penting kamu bahagia.” Kakak-kakaknya diberi pesan untuk selalu menuruti adik bungsu itu. Maka hidupnya pun mengalir tanpa batas, tanpa teguran, tanpa disiplin. Semua dituruti, semua dimanja. Tahun demi tahun berlalu. Orang tuanya meninggal, dua kakaknya juga berpulang. Suaminya pun wafat. Kini ia sendirian di rumah besar yang dulu penuh tawa. Ia divonis mengalami skizofrenia ringan, sering lupa hal-hal kecil, dan kadang menangis tanpa sebab. Dalam satu percakapan, ia berbisik lirih, “Andai dulu aku dipaksa sedikit saja untuk belajar, mungkin aku tidak begini.”

Kalimat itu menancap dalam. Betapa banyak orang tua berpikir bahwa melarang, menegur, bahkan memaksa itu menyakitkan — padahal justru itulah wujud cinta yang sejati. Disiplin dan Cinta, Dua Sayap yang Harus Seimbang Kisah wanita itu dan kasus di Cimarga sama-sama bicara tentang satu hal: batas. Bahwa cinta tanpa batas akan melahirkan generasi yang rapuh, sementara aturan tanpa cinta akan melahirkan generasi yang terluka. Guru memang harus belajar menegur dengan hati. Tapi murid pun harus belajar untuk tidak menolak nasihat. Karena hidup tidak akan selalu menepuk pundak dengan lembut — kadang hidup menampar, agar kita sadar dan bangkit. Kita boleh menolak kekerasan, tapi jangan menolak kedisiplinan. Kita boleh menolak amarah, tapi jangan menolak teguran yang lahir dari niat baik. Karena dunia tanpa batas bukanlah kebebasan, melainkan awal dari kehilangan arah. (*)

Thursday, September 11, 2025

Ratusan ASN di Kaltim Belajar Public Speaking



SAMARINDA – Suasana Aula Bina Bangsa, Gedung B Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Kamis (11/9/2025), mendadak riuh penuh gelak tawa. Bukan karena guyonan biasa, melainkan karena ratusan ASN se-Kaltim diajak mencoba permainan unik saat belajar public speaking bersama Endro S Efendi, M.Sos, Master Trainer Public Speaking dari Semesta Academy sekaligus asesor BNSP RI.

Dalam sesi khusus pada kegiatan Pendidikan Wawasan Kebangsaan yang digelar Badan Kesbangpol Kaltim itu, Endro membuka dengan pesan sederhana namun dalam: keberanian berbicara di depan umum bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dilatih. Menurutnya, ASN yang sehari-hari bersentuhan dengan masyarakat perlu mampu menyampaikan pesan dengan cara yang jelas, tegas, namun tetap hangat.

“Suara ASN adalah suara pemerintah. Kalau penyampaiannya ragu-ragu, pesan penting bisa kehilangan makna,” ujar Endro di hadapan 150 peserta.


Untuk mencairkan suasana, ia mengajak peserta mencoba ice breaking berupa latihan membaca kalimat panjang dengan satu nafas. ASN yang biasanya kaku, tiba-tiba tertawa lepas karena harus membaca gabungan angka dan kata dengan gaya berbeda. “Begitu rasa gugup patah, percaya diri akan lebih mudah tumbuh,” tambahnya.

Endro menekankan, public speaking sejatinya bukan tentang siapa yang paling pintar bicara, melainkan siapa yang paling tulus menyampaikan pesan dengan bahasa sederhana namun mengena. “Kata-kata yang keluar dari hati akan lebih mudah menyentuh hati masyarakat,” katanya menutup sesi dengan tepuk tangan meriah dari peserta.

Selain sesi public speaking, kegiatan ini juga menghadirkan narasumber lain seperti Viko Januardhy, M.A., yang membahas penguatan ideologi Pancasila, serta Siti Noor Aini, S.E., Ak., yang menyoroti pentingnya integritas dalam pelayanan publik. Waktu yang terbatas membuat beberapa peserta berharap pelatihan public speaking seperti ini bisa dilaksanakan kembali dengan durasi lebih maksimal. (*)

Monday, September 8, 2025

Beri Pemahaman Bahaya Perundungan di Depan 300 Siswa SMA 2 Samarinda



SAMARINDA– SMA Negeri 2 Samarinda menggelar Seminar Penguatan Karakter Siswa dengan tema “Generasi Hebat Tanpa Bully, Semua Bisa Meraih Mimpi” pada Senin (8/9/2025), bertempat di Aula SMA Negeri 2 Samarinda.

Kegiatan dimulai pukul 10.10 WITA dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan oleh MC, serta sambutan Kepala SMA Negeri 2 Samarinda, Drs. H. Agus Gazali, M.Si.

Dalam sambutannya, Kepala Sekolah menekankan pentingnya menjaga hati dan karakter siswa sejak remaja.

“Anak-anakku sekalian, menjaga hati itu sangat penting. Jika hati baik, maka sikap, ucapan, dan perilaku kita juga akan baik. Generasi hebat itu bukan hanya yang berprestasi akademik, tetapi juga yang memiliki akhlak mulia dan saling menghargai,” ucap Agus Gazali.



Acara inti menghadirkan narasumber Endro S Efendi, SE., M.Sos., CHt., CPS. dengan materi berjudul “Setiap Individu Berharga.” Tidak hanya menyampaikan materi, Endro juga mengajak lebih dari 300 siswa kelas XII untuk bermain bersama dalam sebuah aktivitas interaktif. Permainan tersebut sarat makna, dan setelahnya para siswa diminta untuk berbagi pendapat tentang perasaan serta hikmah yang mereka dapatkan.

Beberapa siswa yang berani maju dan mengungkapkan pendapatnya kemudian mendapatkan apresiasi berupa voucher potongan biaya umroh sebesar Rp 500 ribu dari Sultanah, Umroh Bareng Yuk.

Dalam penyampaian materinya, Endro menekankan bahwa bullying bukan hanya menyakiti orang lain, tetapi juga mencerminkan kondisi hati yang belum terjaga.

“Bullying itu bukan sekadar perbuatan kasar atau ejekan. Ia bisa melukai mental, menghambat mimpi, bahkan merusak masa depan. Karena itu, mari kita biasakan menghargai sesama. Generasi hebat adalah generasi yang tumbuh dengan saling mendukung, bukan saling menjatuhkan,” ungkap Endro.



Sepanjang kegiatan, suasana seminar berjalan penuh antusiasme. Firda Irianti, S.Pd. bertindak sebagai moderator yang memandu jalannya acara sehingga diskusi berlangsung tertib dan interaktif.

Seminar yang berlangsung hingga pukul 12.00 WITA ini diharapkan mampu memperkuat karakter seluruh siswa SMA Negeri 2 Samarinda, agar menjadi generasi hebat tanpa bully, yang bersama-sama dapat meraih mimpi. (*)

Saturday, July 26, 2025

Satu Langkah untuk Kembali Fitrah

Terima kasih telah menghubungi kami.

Kami percaya, tidak ada pertemuan yang kebetulan. Jika Anda sampai di titik ini, mungkin hati Anda memang sedang memanggil untuk pulih—dari luka yang terlalu lama disimpan, dari emosi yang menumpuk tanpa sempat ditangani.

🌿 SEBELUM MEMULAI TERAPI, MOHON RENUNGKAN INI…

Setiap orang punya masa lalu.

Tapi tidak semua orang punya keberanian untuk menyembuhkan luka itu.

Proses hipnoterapi bukan sekadar duduk dan berbicara. Ini adalah perjalanan kembali pada diri Anda yang sejati. Dan agar perjalanan ini membawa perubahan yang nyata, Anda perlu hadir dengan niat yang kuat, hati yang terbuka, dan keyakinan bahwa Anda layak sembuh.

✅ SYARAT TERAPI YANG BERHASIL

Kami hanya dapat membantu jika Anda:

1. Melapangkan waktu sepenuhnya selama proses berlangsung (maksimal 3 jam).

2. Berkomitmen untuk bersungguh-sungguh menjalani setiap tahap terapi.

3. Siap berinvestasi — bukan hanya materi, tapi juga tenaga, emosi, dan kepercayaan.

4. Membuka hati sepenuhnya — tidak ada yang disembunyikan, tidak ada yang dipendam lagi.

Kami tidak meminta Anda sempurna.

Kami hanya meminta Anda jujur pada diri sendiri… dan bersedia disembuhkan.

⸻

💰 INVESTASI UNTUK KESEMBUHAN

Biaya untuk sesi terapi pribadi (maksimal 3 jam):

Rp 2.000.000

Ditangani langsung oleh Endro S. Efendi, CHt, CT — terapis bersertifikat dari AWG Institute, dengan pendekatan empatik, profesional, dan menjaga sepenuhnya kerahasiaan klien.

Karena kami hanya menangani 1 klien per hari, jadwal hanya dapat dikunci setelah melakukan transfer ke:

Bank Mandiri

1480018419799

a.n. Endro Surip Efendi

Bank BCA

0271559550

a.n. Endro Surip Efendi

Setelah transfer, mohon segera mengisi formulir berikut sebagai konfirmasi dan penjadwalan:

📄 https://www.adiwgunawan.com/form/endro

⸻

⏰ PILIHAN WAKTU TERAPI

Sesi terapi berlangsung berdasarkan perjanjian, dan dapat dipilih pada:

🕘 Pukul 09.00 pagi atau 14.00 siang

📌 Khusus hari Jumat hanya tersedia pukul 14.00 siang

Mohon hadir tepat waktu dan dalam keadaan siap secara mental maupun emosional.

⸻

📍 ALAMAT PRAKTIK

Griya Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT

Jl. Proklamasi 5 No. 45, Samarinda

📞 0852-8266-7000

🗺️ Klik untuk buka Google Maps

⸻

Hidup Anda terlalu berharga untuk terus dibiarkan terluka.

Beri diri Anda kesempatan untuk sembuh.

Untuk merasa damai.

Untuk bisa tidur tanpa beban.

Untuk bisa tersenyum tanpa pura-pura.

Kami siap menemani Anda kembali pulang ke dalam diri Anda yang lebih tenang, bahagia, dan utuh.

Jadwal terbatas.

Ambil langkah pertama Anda hari ini.

Wednesday, April 10, 2024

Terkena GERD Gara-gara Kipas Angin Patah


Jelang Lebaran, seorang klien perempuan direkomendasikan oleh dokter untuk menjalani sesi hipnoterapi klinis. Pasalnya, klien ini mengalami asam lambung berlebih hingga menjadi

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Ini adalah gangguan pencernaan ditandai naiknya asam lambung ke kerongkongan.

Dokter yang memberikan rekomendasi sangat paham bahwa klien mengalami psikosomatis, sakit yang disebabkan oleh pikiran serta adanya endapan emosi yang tersimpan lama.

Saat sesi hipnoterapi klinis dilakukan, klien mengaku kesal dengan perilaku suaminya, sehingga emosi amarahnya meledak-ledak sulit dikontrol.

Dengan teknik khusus, coba dicari akar masalahnya. Ternyata penyebabnya adalah ketika usia 4 tahun, dimarahi oleh ayahnya.

“Rumah gerah, panas. Saya rewel. Ayah kesal dengar saya rewel. Kipas anginnya dibanting sampai patah,” kata klien.  

Kejadian itulah yang menjadikan klien sulit mengontrol emosi amarahnya. Setelah dinetralkan, klien mengaku lega dan plong.

“Tadi tenggorokan saya ngga enak, karena GERD. Sekarang ternyata enak. Lega,” sebutnya.

Semoga klien menjalani Idulfitri tahun ini dengan berbeda, karena sudah berhasil mencabut salah satu akar masalahnya yang cukup mengganggu. Demikianlah kenyataannya. (*)

 

Tuesday, July 11, 2023

Cara Menjadi Istri dengan Hati Nyaman

Endro S Efendi bicara di depan pengurus dan anggota DWP Dinas PUPR Pera Kaltim


BALIKPAPAN – Heboh ada istri yang baru sehari menikah langsung kabur ke mantan pacarnya. Ini membuktikan, kesehatan mental memang perlu disiapkan untuk para istri. Itu sebabnya, menjadi istri dengan hati nyaman dan kesehatan mental maksimal, sangat diperlukan di era sekarang ini. Atas alasan itu pula, Dharma Wanita Persatuan (DWP) UPTD Wilayah 1 Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR & Pera) Kaltim di Balikpapan, menggelar seminar kesehatan mental.

Seminar ini menghadirkan trainer dari Ikatan Pengembang Kepribadian Indonesia (IPPRISIA) Kaltim, Endro S Efendi, CHt, CT, CPS, CME. Seminar internal tersebut dilaksanakan di kantor UPTD Wilayah 1 Dinas PUPR & Pera Kaltim di Balikpapan, Minggu (9/7/23) tadi.

Dalam seminar yang digelar santai namun serius itu, trainer IPPRISIA, Endro S Efendi, CHt, CT, CPS, CME mengajak para pengurus dan anggota DWP UPTD Wilayah 1 untuk memahami bagaimana cara kerja pikiran, yang pada akhirnya bisa menjadikan hidup lebih nyaman dan berkualitas.

“Paling penting, pahami roda kehidupan. Cek, apakah ada putaran dalam diri setiap individu yang kurang nyaman. Kalau ada yang kurang nyaman, berarti ada aspek yang belum dimaksimalkan,” katanya.

Tak lupa, Endro juga memberikan tips yang mudah dilaksanakan untuk menjaga agar kesehatan mental bisa selalu sehat.

Dikatakan, setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. “Kita tidak bisa meminta orang lain berolahraga, tapi sehatnya buat kita,” ucapnya. 

Penyampaian materi yang santai diselingi guyonan segar, menjadikan seminar tersebut tak terasa berlangsung hingga lebih 3 jam. Pertanyaan demi pertanyaan terus terlontar dari para peserta sekaligus menjadi bahan diskusi menarik.

Sebelumnya, Ketua DWP UPTD Wilayah 1 Dinas PUPR dan Pera Kaltim Riska Rahmadia Deny Wardhana menyampaikan apresiasi anggotanya yang bersedia mengikuti seminar tersebut, meski dilaksanakan pada hari Minggu.

“Semoga semua peserta bisa menikmati seminar dengan santai. Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini untuk mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan kualitas hidup,” sebutnya.

Riska juga mengaku bahagia karena kegiatan tersebut juga dihadiri Ketua DWP Dinas PUPR dan Pera Kaltim, Marliana Firnanda. “Kegiatan ini penting agar istri para pegawai dan para pegawai wanita perlu diperkuat kesehatannya secara mental untuk mendukung kegiatan sehari-hari. Sehingga bisa mendukung suami dan anak untuk berkegiatan dengan maksimal,” urainya.

Diakui, terkadang ada saja wanita yang sering merasa cemas dengan pekerjaan dan persoalan di rumah tangga. “Mudah-mudahan seminar ini bisa memberikan manfaat besar. Bisa meningkatkan kinerja dan produktivitas kerja, termasuk mendukung suami,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua DWP Dinas PUPR & Pera Kaltim, Marliana Firnanda yang hadir dalam kegiatan tersebut, juga memberikan apresiasi kepada segenap pengurus dan anggota DWP di UPTD Wilayah 1 yang mau meluangkan waktunya untuk mengikuti seminar, di sela jadwal yang juga cukup padat.

“Luar biasa, hari Minggu masih mau meluangkan waktu. Ini hari keluarga tapi masih berkenan untuk hadir di kegiatan hari ini,” ucapnya.

Dikatakan, seminar tersebut sebagai bentuk pencerahan bagi jajaran pengurus dan anggota DWP, karena sebagai seorang wanita memiliki peranan luar biasa. “Apalagi ada istri yang juga sebagai pekerja, dituntut harus serba bisa,” katanya.

Dalam kondiri tersebut, menurutnya, terkadang ada saja yang mengalami kejenuhan dan tekanan. Tanpa disadari, hal tersebut menyebabkan stres. “Tapi banyak yang tidak mengaku mengalami stres,” imbuhnya.

Ia berharap, melalui seminar ini, peserta bisa belajar bagaimana mengendalikan emosi dan rasa kecemasan berlebihan. Supaya bisa menyelesaikan tanggung jawab di rumah dan di pekerjaan dengan baik.

“Mudah-mudahan, kegiatan ini bisa membawa manfaat baik secara pribadi maupun semua pengurus DWP. Setelah seminar ini, semoga semua bisa kembali bekerja dengan hati berbeda, karena bisa memahami bagaimana menyikapi persoalan yang ada,” ujarnya. (*)

Tuesday, June 6, 2023

Latih Guru BK, Disdikbud Kaltim Undang Hipnoterapis Endro S Efendi

Endro S Efendi


SAMARINDA – Upaya meningkatkan kapasitas para guru Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kaltim, termasuk para guru Bimbingan Konseling (BK) terus dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdukbud) Kaltim.  Seperti Selasa (6/6/23) tadi, bertempat di Hotel Horison Samarinda, digelar Workshop Kurikulum Paradigma Baru 2023.

Edukasi kepada para guru BK ini penting agar lebih maksimal dalam implementasi pelaksanaan kurikulum merdeka jenjang SMA di Kota Samarinda. Selain itu, hadir pula guru mata pelajaran, hingga pengawas sekolah jenjang SMA di Samarinda. Workshop bertujuan menjabarkan kurikulum merdeka sebagai aktualisasi minat bakat peserta didik menghadapi masa depannya.

Narasumber yang dihadirkan untuk kegiatan ini salah satunya motivator dari Ikatan Pengembang Kepribadian Indonesia (Ipprisia) Kaltim yakni Endro S. Efendi, SE., CHt., CT., CPS., yang juga dikenal sebagai praktisi teknologi pikiran.

Sebagai informasi, Ipprisia merupakan organisasi nasional yang kiprahnya memberikan pendidikan, pelatihan, penelitian, pengabdian masyarakat dalam rangka pengembangan sumber daya manusia. Di Kaltim, Ipprisia diketuai Marliana Wahyuninggrum.

"Melalui kegiatan ini, harapannya para guru Bimbingan Konseling bisa memetakan peserta didik untuk mengetahui kemampuan potensi sesuai minat dan bakatnya," ujar Kepala Disdikbud Kaltim Muhammad Kurniawan, saat membuka kegiatan di hadapan para guru.

Dikatakan, salah satu yang diharapkan dalam implementasi kurikulum merdeka adalah peserta didik bisa belajar dengan sepenuh hati, terutama pada bidang yang disukai. Dengan dukungan bantuan bimbingan konseling, harapannya peserta didik semakin lebih terarah. Tak hanya itu, kegiatan ini juga diharapkan membentuk karakter peserta didik siswa melalui penguatan project pelajar Pancasila.

Peserta didik juga diharapkan terhindar dari berbagai persoalan negatif seperti narkotika, perundungan, tawuran dan sejenisnya. “Dengan penguatan profil pelajar Pancasila, peserta didik diharapkan mengerti minat bakatnya. Sehingga tepat dalam memilih jurusan saat perkuliahan. Sekolah akan memfasilitasi hal tersebut," tambahnya.

Guru Bimbingan Konseling dari Seluruh SMA di Samarinda mengikuti pelatihan di Hotel Horison Samarinda.


Sementara itu, Endro S. Efendi, trainer Ipprisia Kaltim memberikan materi tentang Memahami Siswa dengan Hati Nyaman. “Guru yang tepat, akan mendorong siswa meraih prestasi yang maksimal,” sebut pria yang kini juga menjabat sebagai direktur Semesta Academy Samarinda ini.

Diakui, tugas sebagai seorang guru bimbingan konseling tidaklah mudah. “Sebagai tempat curhat, kadang energi bapak ibu guru ikut terkuras. Ini sama seperti menerima tumpukan sampah busuk,” sebut Endro yang juga menjabat ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim ini. Karena itu, Endro menyarankan agar para guru membereskan persoalan pribadinya masing-masing, agar lebih siap menghadapi para peserta didik terutama yang bermasalah.  

Dijelaskan, hal penting yang harus diimplementasikan terkait kurikulum merdeka adalah, memanfaatkan teori Gary Chapman yaitu lima bahasa cinta. “Ini sangat efektif untuk pendekatan pada para siswa. Sehingga siswa akan merasakan dukungan yang maksimal dari lingkungan belajarnya,” sebutnya.

Yang tidak boleh diabaikan juga adalah peran serta aktif orang tua dalam mendukung anaknya di sekolah. Disarankan, saat anak masuk sekolah pertama kali, setiap orang tua sudah diajak tanda tangan kontrak politik, sehingga orang tua ikut mendukung proses pembelajaran.

“Ketika guru Bimbingan Konseling memerlukan diskusi dengan orang tua peserta didik. Maka orang tua wajib hadir. Tidak boleh diwakilkan orang lain,” harapnya. Sebab, orang tua juga punya tanggung jawab yang sama. “Tidak bisa semua dibebankan ke sekolah begitu saja,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu, sebagai seorang praktisi hipnoterapi klinis yang rutin praktik, Endro memberikan beberapa tips dan cara terapi mendiri untuk para guru bimbingan konseling tersebut. “Silakan gunakan cara ini untuk diri sendiri, atau untuk membantu para peserta didik,” katanya. Sebelum pemaparan berakhir pun, sempat diberikan sesi tanya jawab pada para peserta. (*)

 

Tuesday, March 28, 2023

Gampang Tergoda Cewek Cantik, Ternyata Ini Penyebabnya

Belum lama ini, seorang pria berusia 48 tahun meminta jadwal untuk menjalani sesi hipnoterapi klinis. Seperti biasa, tentu saya menanyakan apa keluhan yang ingin ditangani. Namun, pria ini enggan menyampaikannya. “Nanti saja pak, kalau ketemu langsung,” ujarnya.

Jadwal sudah disepakati, formulir pun saya kirimkan melalui WhatsApp agar diisi terlebih dahulu. Ini untuk menghemat waktu, agar saat tiba di ruang praktik, bisa langsung pada sesi konseling dan terapi.

Di hari yang sudah ditentukan, baru saya tahu bahwa klien ini minta dibantu untuk mengatasi rasa mudah tertarik pada wanita lain. Bukankah wajar kalau laki-laki suka melihat wanita cantik?

“Ini sangat mengganggu. Ini sudah seperti kecanduan. Saya kan sudah punya istri, dan punya 4 anak. Sudah seharusnya saya bisa mengendalikan perasaan. Malu sama anak saya,” ujarnya seraya merasa bersalah.

Apalagi, kata dia, akibat perasaan yang tidak bisa dikendalikan itu, hubungannya dengan istrinya menjadi kurang baik.

“Apalagi ini mau masuk Ramadan, ingin memperbaiki semuanya. Biar ngga ada perasaan yang aneh-aneh,” imbuhnya.

Sesuai protokol, saya jelaskan dulu cara kerja pikiran dan juga proses hipnoterapi klinis yang akan dilakukan. Setelah penjelasan, klien dibimbing masuk ke dalam pikiran bawah sadar. Setelah berada pada kedalaman yang presisi, proses pencarian akar masalah pun dilakukan.

Dari proses yang dilakukan, ternyata pikiran bawah sadar klien merujuk pada saat dirinya berusia 6 tahun. Saat itu, klien yang berusia 6 tahun sedang berada di rumah bersama ibunya. Di momen itulah, tantenya datang ke rumah. Ketika melihat klien yang berusia 6 tahun itu, sang tante mengucapkan kalimat tertentu yang kemudian masuk ke dalam pikiran bawah sadarnya.

“Anakmu ini pinter loh, bisa membedakan mana cewek cantik dan mana yang ngga cantik,” ucap tante itu kepada ibunya.

Rupanya kalimat dari sang tante betul-betul menjadi program di pikiran bawah sadar. Program itu terus berjalan hingga klien dewasa dan merasa tidak mampu mengendalikan perasaan suka terhadap wanita cantik.

Sebelum dilakukan restrukturisasi, sempat dilakukan verifikasi untuk menentukan bahwa kejadian tersebut adalah benar-benar akar masalah. Setelah proses pencabutan akar masalah dilakukan, klien pun merasa biasa saja melihat wanita cantik. Perasaan ini pun diperkuat dan dipertebal dengan perasaan netral ketika melihat wanita cantik.

“Saya bahkan ngga ingat kalau tante pernah mengucapkan kalimat itu,” sebut klien sesaat setelah dibawa naik dari kondisi hipnosis. Ia pun mengaku bersyukur, bisa menjalani sesi hipnoterapi untuk mencari akar masalah yang mengganggunya itu.

Setelah sepekan berlalu, klien mengaku tetap nyaman. Perasaan penasaran dan menggebu-gebu yang sebelumnya selalu muncul ketika melihat wanita cantik, kini sudah biasa saja.

“Hubungan dengan istri juga semakin membaik. Makasih ya Pak Endro,” tutupnya. (*)  

Tulisan yang sama terbit di Kompasiana: 

https://www.kompasiana.com/endrosefendi/6422f5174e54943a407ec9f2/mudah-tertarik-wanita-cantik-ternyata-ini-penyebabnya

 


 

Sunday, May 22, 2022

Covid 19 Reda, Kecelakaan Meningkat. Segera Lakukan Ini



SELAMA dua tahun, terhitung sejak pandemi Covid 19 melanda bangsa ini, setiap hari selalu muncul berita pasien yang meninggal dunia akibat virus menjengkelkan itu. Kini pandemi sudah mereda. Presiden Bapak Jokowi bahkan sudah melonggarkan ketentuan boleh buka masker di luar ruangan, serta tanpa antigen dan PCR asal sudah dua kali vaksin. Sebagai gantinya, pemberitaan berganti dengan banyaknya korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.

Rupanya, begitu keran perjalanan dibuka lebar, hasrat untuk liburan seketika membuncah. Sayangnya, boleh jadi menyebabkan ada saja oknum pengemudi yang kejar tayang. Aji mumpung, tak lagi memikirkan keselamatan penumpang.

Pengemudi bus yang kecelakaan di jalur tol Surabaya – Mojokerto misalnya, diduga menggunakan sabu. Sementara kasus kecelakaan lainnya diduga akibat sopir mengantuk. Baik yang diduga menggunakan sabu serta yang mengantuk, sejatinya sama-sama memaksakan diri. Yang menggunakan sabu, memaksa agar bisa terus jos saat mengemudi. Yang mengantuk, juga memaksakan diri agar bisa terus melaju sampai tujuan.

Mengantuk memang menjadi musuh utama mengemudi. Hanya dalam hitungan detik, kendaraan yang sedang melaju, bisa oleng seketika. Karena itu, kondisi ini benar-benar membutuhkan kesadaran diri yang mumpuni.

Di Kalimantan, jarak antar kabupaten atau antarprovinsi tidaklah dekat. Dari Samarinda ke Berau misalnya, yang berjarak 550 kilometer, memerlukan waktu tempuh rata-rata 14 sampai 16 jam. Ketika jalan mulus, bisa ditempuh 12 jam. Bisa dibayangkan, jika tanpa istirahat yang cukup, jelas sangat membahayakan. Belum lagi jalurnya yang berkelok-kelok, tanjakan dan turunan curam, hingga jurang di kiri dan kanan jalan.

Lantas bagaimana cara mengatasi serangan kantuk>? Saya, biasanya melakukan relaksasi singkat. Seperti beberapa waktu lalu ketika melakukan perjalanan Surabaya – Semarang pulang pergi, via jalur tol. Ketika kecepatan dan kemudi mobil sudah kurang stabil, begitu ada rest area segera menepi. Rebahkan sandaran kursi dalam posisi nyaman, kemudian tarik nafas panjang dan dalam dari hidung, embuskan melalui mulut. Lakukan terus perlahan-lahan. Kemudian, niatkan dalam diri, “izinkan saya relaksasi yang dalam dan menyenangkan selama 15 menit.”

Biasanya, saya langsung bablas. Karena ketika itu seorang diri, tak lupa buka sedikit kaca jendela mobil agar tidak menghirup karbon monoksida hasil buangan knalpot. Kalau mau lebih aman, matikan mesin mobil, buka sedikit kaca jendela. Relaksasi yang dalam dan menyenangkan selama 15 menit itu, ibarat fast charger. Pas 15 menit, biasanya benar-benar terbangun. Begitu fit, bisa langsung melanjutkan perjalanan.

Lalu bagaimana jika sebagai penumpang? Sebagai penumpang, terutama yang duduk dekat sopir, wajib sering-sering mengecek kondisi pengemudi. Jika kecepatan mobil sudah kurang stabil, serta posisi tubuh sopir juga terlihat lelah. Misalnya berkali-kali menggelengkan kepala. Posisi kepala sering mendekatkan ke kaca mobil depan, atau bahkan sampai menguap, maka sebaiknya ingatkan untuk istirahat. Tentu yang menjadi persoalan jika semua penumpang tidur, pengemudi tidak ada yang mengingatkan. Saat itulah, rawan terjadinya kecelakaan.

Jadi, sebagai pengemudi, harus memahami kondisi diri sendiri. Sebagai penumpang, bantu juga mengawasi kondisi sekeliling. Bagaimana menurut sahabat?

Contoh relaksasi bisa dilihat di sini. https://youtu.be/U2QSGyJsBcE



 

 

 

Saturday, May 21, 2022

Sudah 2022 Tapi Masih Jomblo?

Setelah proses terapi hingga 3 jam, akhirnya akar masalah dari klien ini berhasil ditemukan.


Tahun terus bertambah, waktu terus berputar. Bagi yang masih jomblo, tentu saja ini menjadi persoalan tersendiri. Apalagi saat Lebaran tadi. Pertanyaan yang berulang-ulang dan tak pernah bosan ditanyakan kerabat dan teman adalah, “sudah nikah? Kapan nikahnya?”

Tentu saja itu adalah pertanyaan yang sangat menjengkelkan bagi para jomblowan dan jomblowati. Di antara yang merasakan kejengkelan itu adalah Wulan. Tentu saja ini bukan nama asli dari wanita berusia 32 tahun yang tiba-tiba mengontak saya melalui whatsapp.

“Maaf pak, masih buka praktik hipnoterapi?” tanyanya mengawali perbincangan. Wajar pertanyaan itu muncul. Maklum, selama pandemi Covid 19 lalu, praktis saya jarang melayani klien, karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Demi keamanan bersama, maka proses konsultasi atau konseling hanya dilakukan secara daring. Namun, sejak vaksinasi gencar dilakukan, secara perlahan, saya pun menerima klien dengan catatan sudah menjalani vaksinasi, minimal dosis pertama.

Akhirnya sesuai waktu yang disepakati, Wulan tiba di tempat praktik. Wanita yang bekerja di salah satu perusahaan swasta cukup bonafide ini nyatanya memiliki paras cantik. Boleh jadi, sebutan cantik ini memang relatif. Namun, terlihat dari kulitnya kuning langsat. Wajahnya glowing, dengan rambut hitam dibiarkan tergerai sebahu. Dari sisi pakaian juga cukup modus. Wajar jika ada yang tidak percaya jika wanita karier ini masih jomblo.

Di ruang praktik, terlebih dahulu saya berikan penjelasan tentang hipnoterapi klinis yang akan dilakukan. Ini fase penting awal, agar klien paham apa saja yang akan terjadi selama proses terapi berlangsung. Klien tidak boleh mengalami proses yang di luar ketentuan atau melanggar kode etik.

Tahap berikutnya, saya memeriksa formulir terapi yang sudah diisi. Sehari sebelumnya, klien diberikan formulir terapi untuk diisi. Sengaja diberikan lebih dahulu, untuk menghemat waktu. Selain itu, agar klien juga bisa mengisi lebih tenang dan nyaman di kediamannya. Melalui formulir yang sudah diisi, terlihat ada beberapa emosi yang cukup intens. Selain itu, juga bisa diketahui ada hubungan yang kurang baik dengan kedua orang tuanya.

Klien kemudian dibimbing untuk masuk di kedalaman pikiran yang sangat dalam dan menyenangkan. Di level kedalaman pikiran bawah sadar yang presisi inilah, proses pencarian akar masalah dilakukan. Ternyata, ada beberapa kejadian yang menimbulkan trauma yang sangat dalam. Puncaknya adalah, ketika klien yang masih berusia 7 tahun, melihat ayahnya memukul ibunya. Tamparan keras sang ayah pada ibunya itulah yang kemudian masuk dalam pikiran bawah sadar klien. Memori itu yang kemudian menjadikan klien takut menghadapi sebuah pernikahan.

Akibat kejadian di usia 7 tahun itulah, pikiran bawah sadar klien membuat program baru. Programnya adalah “jangan memiliki suami” karena itu sangat membahayakan. Pikiran bawah sadar itu sengaja membuat program khusus agar klien tidak mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Tentu saja, program ini niatnya baik, tapi kurang tepat. Sebagai manusia normal, tentu Wulan tetap harus menikah.     

Program itulah yang menyebabkan Wulan selalu menjaga jarak, setiap kali ada pria yang mulai menunjukkan keseriusan dalam menjalin hubungan. Akibatnya, meski beberapa kali dekat dengan pria, ujung-ujungnya kandas di tengah jalan.

Dengan teknik tertentu, berbagai program yang sudah terlanjur tertanam itu dibuang satu demi satu. Sebagai gantinya, pikiran bawah sadar diberikan edukasi bahwa pernikahan bukan sesuatu yang membahayakan. Faktanya, ada begitu banyak pasangan yang menikah dan mereka baik-baik saja.

Setelah proses terapi yang memakan waktu lebih dari 3 jam, Wulan akhirnya dikembalikan dalam kondisi semula, dengan kesadaran penuh. Begitu buka mata, senyum semringahnya langsung terkembang di bibirnya.

“Kok bisa ya pak? Saya saja ngga ingat dengan kejadian itu?” tanyanya. Itulah cara kerja pikiran bawah sadar. Memori kita bisa bekerja sedemikian kuat untuk menyimpan setiap kejadian sehingga akan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.

Semoga Wulan semakin nyaman, dan bisa menjalin hubungan dengan lawan jenis dengan baik. Berikutnya, tentu saya tinggal menunggu undangan pernikahan dari Wulan.

Bagaimana menurut sahabat?

 

   

 

Saturday, December 25, 2021

AHKI Resmi Jadi Mitra Kemenkes

Sebagian hipnoterapis anggota AHKI


Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia (AHKI) resmi menjadi mitra Kementerian Kesehatan RI sebagai perkumpulan atau asosiasi penyehat tradisional pemberi rekomendasi Surat Terdaftar Penyehat Tradisional (STPT). Kabar gembira di ujung 2021 ini disampaikan Ketua Umum AHKI Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd., CCH®.

“Setelah menanti lebih setahun akhirnya perjuangan panjang ini berbuah manis,” sebut Adi W. Gunawan.

AHKI adalah organisasi profesi hipnoterapis, didirikan 8 November 2011 dan mendapat pengesahan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia pada 6 Juni 2021.

Dikatakan, AHKI resmi diakui sebagai mitra Kemenkes dalam ranah terapi olah pikir dan bisa memberi rekomendasi untuk pengurusan Surat Terdaftar Penyehat Tradisional (STPT).

Dijelaskan, AHKI mengajukan sebagai mitra Kemenkes sejak 20 November 2020. Akhirnya, mendapat balasan dari Kemenkes per 22 Desember 2021 dan diterima sebagai mitra Kemenkes dalam surat bernomor YT.01.02/IV.1/1979/2021. Surat itu ditandatangani secara elektronik oleh Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional, Kemenkes RI, Dr. IGM Wirabrata, Apt.

AHKI resmi menjadi mitra Kementerian Kesehatan RI melalui proses panjang. Tim Yankestrad Empiris Kemenkes RI setelah melakukan telaah mendalam menyimpulkan tiga hal berikut. Pertama, Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia (AHKI) telah menyelenggarakan pelatihan hipnosis bagi anggotanya dan sesuai dengan kriteria dalam rekomendasi Pokjanas Nomor 2 Tahun 2018 tentang pelayanan hipnoterapi.

 

Kedua, AHKI merupakan organisasi penyehat tradisional yang menyelenggarakan metode hipnoterapi. Pelayanan hipnoterapi yang dilakukan oleh AHKI sesuai dengan kriteria pelayanan kesehatan tradisional empiris dan bersifat aman serta tidak melanggar norma agama dan norma di masyarakat. Pelayanan hipnoterapi yang dilayankan oleh AHKI termasuk kedalam teknik olah pikir.

Dan ketiga, AHKI telah memiliki rumpun keilmuan/prinsip-prinsip dasar dalam kesehatan tradisional.

Adi W Gunawan berharap, ke depan AHKI bersama asosiasi atau lembaga pendidikan hipnoterapi lainnya bisa terus mengembangkan hipnoterapi ke jenjang lebih tinggi.

“Kita bermimpi Indonesia bisa jadi pusat riset pendidikan dan pelatihan hipnoterapi dunia. Karena sebenarnya di Indonesia punya banyak orang pintar, hanya selama ini belum terekspose keluar,” sebut pendiri Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology Surabaya, sebagai lembaga pendidikan hipnoterapi klinis di Indonesia itu. 

Harapan untuk memajukan hipnoterapi ke level lebih tinggi tidak berlebihan. Di antaranya bisa menetapkan standar baku dari mulai standar pendidikan, kompetensi, dan praktik hipnoterapi klinis.

“Kami berharap bisa membantu bangsa dan negara ini melalui hipnoterapi klinis,” imbuhnya.

Terpisah, Guru Besar Psikologi Klinis Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Kwartarini Wahyu Yuniarti, MMedSc., PhD, Psikolog mengatakan, tidak banyak ilmuwan yang menekuni hipnoterapi dan benar-benar fokus dalam mengembangkan keilmuannya sesuai level kompetensi minimal dan terjaga.

“Kata terjaga ini dibuktikan AHKI dengan adanya grup telegram yang tidak pernah ada hentinya dalam hal sharing kasus terus menerus. Ini yang membuat ilmu ini terjaga baik dari sisi pembaharuan ilmu hingga kode etik,” beber guru besar psikolog klinis yang juga hipnoterapis klinis ini.

Dari sisi keilmuan, menurut Kwartarini, pembaharuan juga didapat dari Eropa, Amerika dan Australia.

“Sebagai seseorang yang pernah beberapa tahun menjaga pendidikan magister psikologi profesi di Indonesia dan UGM, saya sangat bangga jadi bagian AHKI, sekaligus menjadi penjamin kompetensi di AHKI. Artinya, keilmuan di AHKI bisa dipertanggungjawabkan,” urai penasihat AHKI ini.

Ditambahkan, pusat pendidikan kompetensi hipnoterapi klinis AHKI yang ada di AWGI, saat ini bekerja sama dengan UGM serta enam pusat riset lainnya. Masing-masing Universitas Sumatera Utara, Universitas Gunadarma, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Kristen Satya Wacana, dan Universitas Udayana. Riset dilakukan berbasis bukti klinis (evidence based), serta kompetensi ahli sesuai teknik yang diterapkan di lembaga pusat kajian AHKI di AWGI.

“Dari riset yang saat ini berjalan, perubahan klinis benar-benr bisa ditunjukkan, baik pada tataran validitas dan relabilitas. Selain itu intervensi dan kompetensi hipnoterapis juga sangat tinggi dan andal,” ulasnya.

Pada akhirnya, Kwartarini menegaskan akan siap memublikasikan hasil riset tersebut jika sudah selesai.

Riset yang dilakukan AHKI berpusat di AWGI dan UGM serta perguruan tinggi lain itu didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) selama 3 tahun.

“Lembaga ini jelas tidak main-main dan pasti melakukan seleksi ketat terhadap proposal penelitian yang diajukan. LPDP tidak mungkin memberikan dana penelitian untuk keilmuan yang belum teruji kualitasnya,” imbuhnya.

Terkait riset dan penelitian itu, Adi W. Gunawan menambahkan, dari sisi teknik, yang digunakan adalah teknik hipnoterapi klinis level advanced, nonkonvensional, bersifat eklektik integratif.

Teknik-teknik terapi ini dikembangkan, selain berdasar hasil penelitian hipnoterapi terkini dipublikasi di jurnal-jurnal internasional, juga berdasar temuan di ruang praktik para hipnoterapis AHKI yang secara kolektif telah melakukan lebih dari 100.000 kasus terapi dan konseling sejak tahun 2005.

Tak heran jika ada peneliti yang juga dosen di salah satu universitas ikut dalam penelitian ini berkomentar, "kok bisa ya. Cuma begitu saja terapinya tapi klien bisa mengalami perubahan signifikan," ujarnya mengulang kalimat peneliti tersebut. (*)


Thursday, July 8, 2021

Apa Lagi yang Kurang?



Jagad maya publik plus 62 seketika heboh. Pasangan pesohor Nia Ramadhani dan suaminya Ardi Bakrie, tiba-tiba viral karena ditangkap polisi, diduga terkait narkoba. Selain Nia dan Ardi, sopir mereka berinisial ZN (43) juga ditetapkan sebagai tersangka.

Dari penangkapan mereka, polisi menemukan barang bukti sabu 0,78 gr. Penangkapan dilakukan Rabu (8/7/2021) sekitar pukul 15.00 WIB di rumah Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Dari keterangan, mereka sudah memakai sabu sekitar empat atau lima bulan belakangan ini. Hasil tes urine Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie pun dinyatakan positif sabu.

Atas berita itu, beragam komentar pun bermunculan. Tak hanya komentar, pertanyaan serius pun mengemuka. Apa lagi yang kurang dari kehidupan mereka? Dari sisi kekayaan, rasa-rasanya masih tergolong kaya. Dari sisi ketenaran, hampir semua warga negara ini tahu dan mengenalnya. Dari sisi kemapanan dan kehidupan sosial, rasanya juga berada di kasta yang cukup tinggi. Makanya wajar jika banyak yang bertanya, apa yang salah dari keduanya? Kenapa narkoba kemudian menjadi akrab dalam kehidupan mereka belakangan ini?

Sahabat semua yang selalu dalam perlindungan Allah, izinkan saya mengulas kasus ini dari kacamata seorang hipnoterapis klinis, yang terkadang kerap menangani klien kecanduan narkoba. Sejak membuka layanan praktik pada 2015 silam, sudah puluhan kasus kecanduan narkoba yang saya hadapi. Ternyata, ada banyak penyebab atau faktor yang menjadi pemicu seseorang kemudian menyentuh hingga akrab dengan narkoba.

Dalamnya laut masa bisa ditebak, tapi hati dan pikiran seseorang tak ada yang bisa mengetahuinya. Begitu juga kita semua, tak akan pernah tahu apa yang mendorong Nia bersama suaminya akrab dengan Narkoba.

Iseng atau coba-coba? Iseng atau coba-coba pun pasti ada pemicunya. Misalnya karena ada perasaan hampa, ada sesuatu yang kosong di hati dan pikiran, sehingga muncul ide untuk mengisinya dengan narkoba.

Bisa juga, akrab dengan narkoba karena ingin lepas dari persoalan. Tak sedikit orang yang punya persoalan, berharap bisa lepas atau lupa dengan mengonsumsi narkoba. Padahal, itu hanya memberikan efek sesaat. Begitu efek narkoba hilang, masalah akan tetap ada, bahkan semakin bertambah. Yang jelas, bahaya yang mengancam adalah efek kecanduan.

Ada juga yang terjerembab pada narkoba, karena tangki cintanya kosong. Meski sudah memiliki pasangan, bukan jaminan Nia – Ardi tangki cintanya selalu penuh. Sebagai manusia normal, keduanya semestinya bisa saling mengisi tangki cinta. Nah, boleh jadi masih ada yang kurang, sehingga kemudian menjadikan ada bagian atau tangki cinta yang masih kosong. Kekosongan itulah yang kemudian diisi dengan Narkoba.

Tapi sekali lagi, yang tahu pasti apa yang menjadi motif mereka terjerumus Narkoba adalah mereka berdua. Kita sebagai publik, sudah sepatutnya menjadikan kasus ini sebagai hikmah atau teladan agar hal ini tidak terjadi pada diri dan keluarga masing-masing.

Jika hati dan pikiran sedang hampa atau kurang nyaman, jangan sungkan untuk mencari terapis profesional. Curhat ke sembarang orang atau tempat, terkadang bukan menyelesaikan persoalan, malah menjadikan masalah semakin rumit.

Mari sayangi diri sendiri, sayangi keluarga, dengan mengisi tangki cinta dan kasih sayang kepada mereka secara maksimal. Dengan begitu, setiap diri kita akan selalu bahagia, selalu nyaman, dan bisa dijauhkan dari godaan barang yang memberikan kesenangan sesaat ini.

Bagaimana menurut sahabat? (*) 

 

 

 

 

Thursday, December 17, 2020

Takut Bawang Sejak Usia 4 Tahun, Ini yang Terjadi Pada Mitha


Sempat takut, Mitha kini gembira bisa memegang bawang.


Sebuah pesan di aplikasi WhatsApp (WA) tiba-tiba masuk. “Boleh minta tolong? Ada anggota nah fobia bawang. Ini wartawan di Balikpapan. Gara-gara fobia bawang, jadi ngga bisa masak,” sebut sahabat saya, Sumarsono, ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Balikpapan, yang juga penanggung jawab redaksi Surat Kabar Harian Tribun Kaltim.

Takut bawang? Mendengar keluhan itu, bagi orang pada umumnya, rasanya pasti janggal. Bagaimana mungkin, bawang yang nyata-nyata selalu ada di setiap dapur, kok ditakuti. Tapi itulah hebatnya cara kerja pikiran bawah sadar. Bagi orang lain aneh, tapi nyatanya itu terjadi.

Kebetulan, Selasa (15/12/2020) tadi, saya bertolak dari Berau ke Banjarmasin, karena diminta PWI Kalimantan Selatan, menjadi salah satu penguji dalam uji kompetensi wartawan (UKW) di kota seribu sungai itu. Pesawat yang saya tumpangi dari Berau, sempat transit di Balikpapan.

Tidak tanggung-tanggung, transitnya lebih 5 jam. Maka saya pun memanfaatkan momen transit itu untuk bertemu dengan wartawan Tribun Kaltim ini.  “Ketemu di bandara saja ya,” kata Sumarsono.

Sayangnya, pas di hari-H, Sumarsono tidak bisa mendampingi. Ada kesibukan lain. Ia pun meminta wartawannya langsung menjumpai saya. Wartawan itu biasa disapa Mitha.

Begitu transit di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, ternyata Mitha sudah menunggu di salah satu resto cepat saji berinisial KFC, yang ada di lantai kedatangan bandara terbesar di Kalimantan itu.

Ngobrol santai sejenak, Mitha ternyata berada di resto cepat saji itu bersama rekannya, Cipto, wartawan Kompas di Balikpapan. Mereka sepertinya akrab dan mengaku sering berkumpul dengan sesama wartawan untuk sekadar bercengkerama.

“Masalahnya, kalau sudah pas kumpul masak-masak, dan ada Mitha, kami harus memastikan jangan sampai ada bawang. Kalau ada makanan yang bentuk bawangnya terlihat, bisa gagal acara makan-makannya,” beber Cipto.


Seingat Mitha, ia tidak suka bawang sejak kecil. “Bahkan sebelum TK,” sebut pemilik nama lengkap Miftah Aulia Anggraini ini. Ia menduga, takut bawang terjadi sejak usia 4 tahun. Dari sejak usia itulah, Mitha tidak pernah menginjak dapur.

“Kalau pun harus ke dapur, terpaksa berjinjit,” ulas wanita 23 tahun ini. Maka jangan heran, Mitha menjadi istimewa dibandingkan wanita lain. Dia menjadi salah satu wanita yang tidak pernah memasak. “Masuk dapur saja jarang. Mau dapur bersih atau ngga, tetap saja masuk dapur berjinjit,” sambungnya.

Efek dari fobia bawang itu, Mitha mengaku sering mual, bahkan kepala pusing jika melihat bumbu dapur yang satu itu. “Pokoknya semua jenis bawang saya ngga suka. Bawang merah, bawang putih, bombay,” urainya.

Karena tidak memungkinkan melakukan terapi dengan teknik hipnoterapi klinis, saya membantu Mitha dengan teknik instan dan efektif yakni The Heart Technique (THT), ciptaan guru saya DR Adi W. Gunawan CCH.  

Dengan teknik tersebut, sembari duduk santai di pelataran KFC itu, Mitha saya bimbing untuk melakukan terapi mandiri. Dengan pasrah dan ikhlas, wanita berkaca mata ini mengikuti semua arahan dan bimbingan.

Secara bertahap, skala fobianya mengalami penurunan secara drastis. Dengan sentuhan akhir yakni teknik momen menyenangkan, rasa takut Mitha terhadap bawang akhirnya benar-benar bisa dinetralisir.

Tahap awal, untuk mencoba, sengaja saya munculkan gambar bawang di telepon seluler. Dia melihat gambar dan menyentuh layar HP dengan tenang. “Sudah biasa saja,” katanya. Setelah saya lakukan pengecekan terakhir, Mitha akhirnya benar-benar sudah melepas rasa takut itu.

Sedikit ngobrol dan diskusi tentang beberapa hal, Mitha dan rekannya pamit undur diri. Saya pun masih bertahan di lokasi itu sembari menunggu penerbangan lanjutan.

Tak sampai satu jam kemudian, melalui WA, Mitha mengirimkan pesan berisi foto dirinya yang memegang bawang merah dan bawang putih dengan senyumnya yang semringah. “Makasih banyak ya om, sudah membantu menolong,” tulisnya.

Ia pun, menyebarkan foto itu ke rekan-rekannya. “Semua pada heboh, pada senang soalnya tidak menyangka. Mereka mengucapkan selamat,” katanya. Apalagi mamanya, yang tentu sangat senang, karena harapan dirinya bisa memasak, kini sudah terbuka lebar.

“Pokoknya, luar biasa, seneng. Awal mau megang sempat gemetar, tapi pas sudah dipegang ga ada apa-apa.”

Semakin hari, Mitha semakin terbiasa melihat bawang. “Pikiran kaya mencari rasa yang dulu ngga suka sama bawang, tapi ngga ketemu. Kalau lihat jadi biasa saja,” ujarnya.

Ia pun mengaku semakin bersemangat, terutama ingin menghabiskan akhir pekan bersama teman-temannya untuk masak-masak bareng. “Kalau dulu, lihat gambar bawang, atau membayangkan bawang saja sudah mual,” pungkasnya. (*)

Sunday, December 6, 2020

Tak Sekadar Meracik Obat, Ternyata Ini Tugas Penting Seorang Apoteker



Adakah yang bisa menyebutkan profesi di bidang kesehatan, selain dokter dan perawat? Ayo, saya beri waktu untuk menyebutkannya. Bagaimana? Sudah disebutkan semuanya? Boleh tahu, apakah dari semua profesi yang disebutkan itu, ada yang menyebut profesi apoteker?

Alhamdulillah jika ada yang menyebut apoteker sebagai salah satu profesi di bidang kesehatan. Sebaliknya, jika ada yang belum menyebutkan profesi satu ini, maka menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) untuk semakin memopulerkan profesi vital ini.

Ya, semangat untuk semakin memperkenalkan profesi apoteker bisa terlihat dalam kepengurusan IAI Kaltim. Terdorong untuk semakin mengenalkan profesi apoteker, pengurus IAI Kaltim sengaja menggelar pelatihan jurnalistik. Tujuannya sudah jelas. Melalui tulisan, diharapkan masyarakat semakin teredukasi dan semakin mengenali seluk beluk dunia apoteker.

Ketua Pengurus Daerah IAI Kaltim apoteker Drs. M Nasruddin ketika membuka pelatihan secara virtual, (6/12/2020) menegaskan, perlahan namun pasti, profesi apoteker semakin dikenali masyarakat. Karena itu, organisasi yang dipimpinnya terus melakukan peningkatan kompetensi dan pengetahuan, salah satunya di bidang jurnalistik, agar apoteker semakin mampu menulis.

Ketika diberikan kesempatan memberikan materi seputar dunia jurnalistik, saya bisa merasakan semangat para apoteker, yang berusaha profesinya semakin dikenal. Jika selama ini mereka hanya berkutat pada menciptakan dan meracik obat, kali ini harus menorehkan gagasan melalui tulisan.

Ternyata, hasilnya tidak mengecewakan. Para peserta yang terdiri dari para apoteker dari berbagai daerah di Kaltim itu mampu menulis secara mumpuni. Hanya perlu sedikit sentuhan, tulisannya sudah layak dimuat di media massa.

Banyak pemahaman dan wawasan baru yang saya dapatkan ketika mengampu pelatihan ini. Betapa seorang apoteker bukan sekadar paham soal obat. Lebih dari itu, ada tugas berat seorang apoteker untuk bisa memastikan, bagaimana proses pembuatan dan peracikan obat, sampai memastikan obat itu bisa sampai di tangan pasien dengan tepat.

Apalagi dalam waktu dekat, akan ada proses distribusi vaksin Covid19. Ada peran penting yang harus dijalankan para apoteker untuk memastikan distribusi vaksin ini bisa aman hingga proses vaksinasi nanti.

Saya pun membayangkan, apa jadinya jika seorang dokter dan paramedis lainnya, tidak didukung oleh apoteker andal. Maka keberadaan apoteker jelas tidak dapat dipisahkan dalam proses penyembuhan pasien.

Dalam pusaran industri farmasi pun, betapa seorang apoteker juga memerlukan dukungan penting dari pemerintah. Ini bisa saya simpulkan saat membaca tulisan dari Ketua Pengurus Daerah IAI Kaltim, apoteker Drs. M Nasruddin. Disampaikan, dalam kondisi bencana, salah satu yang juga sangat krusial adalah ketersediaan obat. Jika tidak dilakukan manajemen yang tepat, akan menjadi blunder dan merugikan masyarakat, apalagi jika terjadi kepanikan.

Atas alasan itu pula, tidak berlebihan jika Nasruddin mengusulkan agar Kaltim membangun industri farmasi. Sehingga pelayanan kesehatan di provinsi ini akan semakin optimal. Belum lagi jika nanti ibu kota negara benar-benar pindah ke provinsi ini.

Jangan tanya soal sumber daya manusia. Kaltim sudah punya semua. Tak hanya sumber daya manusia, sumber daya alam Kaltim juga sangat mendukung industri farmasi. Bukankah banyak obat dengan kearifan lokal Kaltim yang masih bisa dikembangkan?

Sehat, memang bukanlah segala-galanya. Tapi patut diingat, segala-galanya tidak akan bisa dilakukan jika kondisi sedang tidak sehat. Maka mulai sekarang, jika bicara soal kesehatan, jangan hanya mengingat dokter dan perawat. Tanamkan di pikiran bawah sadar, ada satu lagi profesi yang memberikan andil penting, yaitu apoteker.

Bagaimana menurut sahabat? (*)

 

 

 

Sunday, June 21, 2020

Ternyata ESQ-Hypnotherapy Itu Mudah



Hipnoterapi itu mudah. Kesan itulah yang muncul dari para peserta ESQ-Hypnotherapy Batch 2 yang digelar secara virtual oleh ESQ Leadership Center.

Walau digelar secara daring dengan aplikasi Zoom, nyatanya tidak mengurangi makna dari pelatihan itu sendiri. Energi pelatihan itu tetap maksimal dan bisa dirasakan dengan baik oleh para peserta. 

Ketika ESQ Juga Melirik Hipnoterapi

Pelatihan ESQ-Hypnotherapy Batch 2 yang digelar secara virtual.


Saat sebagian orang masih berdebat soal hipnoterapi ditinjau dari perspektif Islam, DR (HC) Ary Ginanjar Agustian tak mau ikut-ikutan melakukan penghakiman atas metode penyembuhan dengan kekuatan pikiran bawah sadar itu. Melalui lembaga yang membesarkan namanya, ESQ Leadership Center, Ary Ginanjar malah membuka pelatihan sertifikasi ESQ-Hypnotherapy.
 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes