TERBARU
Tampilkan postingan dengan label hipnoterapi anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hipnoterapi anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Oktober 2026

Ketika Orang Tua Sulit Mengakui Kesalahan


Ada satu hal yang belakangan ini menarik perhatian saya dari sekian banyak pengalaman menangani klien dalam praktik hipnoterapi.

Ketika seorang anak mengalami masalah emosional, sering kali kita sibuk mencari tahu apa yang terjadi pada anak tersebut. Mengapa ia tidak percaya diri? Mengapa ia mudah cemas? Mengapa ia takut menghadapi masalah? Mengapa ia selalu membutuhkan bantuan orang lain untuk mengambil keputusan, bahkan untuk hal-hal sederhana?

Kita kemudian berusaha membantu anak itu. Kita ajak berbicara, kita telusuri pengalaman masa lalunya, dan kita berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam pikirannya.

Namun, ada satu hal yang terkadang justru lebih sulit dilakukan, yaitu mengajak orang tuanya untuk ikut berbenah.

Ini yang menarik.

Dalam beberapa kasus, ketika persoalan anak mulai ditelusuri, ternyata ada pengalaman di rumah yang ikut memengaruhi kondisi emosionalnya. Bisa berupa bentakan yang berulang, kritik yang merendahkan, tuntutan yang terlalu tinggi, perbandingan dengan anak lain, atau kebiasaan orang tua yang selalu mengatur dan tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar mengambil keputusan sendiri.

Tentu, tidak semua masalah anak berasal dari orang tuanya. Banyak faktor lain yang dapat memengaruhi kondisi emosional seorang anak. Namun, hubungan di dalam keluarga merupakan salah satu hal penting yang tidak boleh diabaikan.

Masalahnya, ketika orang tua diajak melihat kemungkinan adanya pengaruh pola pengasuhan terhadap kondisi anak, tidak semua bisa menerimanya dengan mudah.

Ada yang langsung membela diri.

“Lho, saya melakukan semua itu demi kebaikan anak saya.”

“Dulu saya juga dididik keras, tetapi saya baik-baik saja.”

“Anak saya memang terlalu sensitif.”

“Kalau bukan saya yang mengingatkan, siapa lagi?”

Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar wajar. Bahkan, bisa jadi orang tua memang merasa apa yang dilakukannya adalah bentuk kasih sayang.

Tetapi, pernahkah kita berpikir bahwa sesuatu yang kita anggap sebagai bentuk kasih sayang belum tentu dirasakan dengan cara yang sama oleh anak?

Kita merasa sedang mendidik, tetapi anak merasa sedang direndahkan.

Kita merasa sedang mengingatkan, tetapi anak merasa dirinya selalu salah.

Kita merasa sedang melindungi, tetapi anak justru tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk belajar menghadapi masalahnya sendiri.

Akhirnya, orang tua merasa sudah melakukan yang terbaik, sementara anak menyimpan pengalaman yang tidak pernah benar-benar dipahami oleh orang tuanya.

Di sinilah persoalannya sering kali menjadi rumit.

Orang tua merasa dirinya tidak bersalah, sedangkan anak merasa ada sesuatu yang menyakitkan dalam hubungan mereka.

Lalu, siapa yang harus didengarkan?

Menurut saya, kita tidak perlu terburu-buru menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang perlu dilakukan pertama kali adalah bersedia mendengarkan pengalaman anak tanpa langsung membantah atau membenarkan diri sendiri.

Sebab, memahami perasaan anak tidak berarti kita harus menyetujui semua perkataannya. Memahami berarti kita bersedia melihat bahwa pengalaman yang sama bisa meninggalkan kesan yang berbeda pada setiap orang.


Anak yang Tidak Percaya Diri

Saya sering berpikir, mengapa ada anak yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi selalu merasa dirinya tidak mampu?

Ketika diberi tugas, ia takut salah. Ketika diminta mengambil keputusan, ia ragu. Ketika menghadapi tantangan baru, ia lebih dahulu berpikir bahwa dirinya tidak akan berhasil.

Bahkan, untuk melakukan sesuatu yang sederhana, ia masih membutuhkan pengakuan atau persetujuan orang lain.

Tentu, tidak semua anak yang tidak percaya diri mengalami pola pengasuhan yang sama. Namun, salah satu hal yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana anak diperlakukan ketika melakukan kesalahan.

Bayangkan seorang anak yang sejak kecil sering mendengar kalimat seperti:

“Kamu ini memang tidak bisa apa-apa!”

“Begitu saja tidak becus!”

“Lihat anak orang lain, bisa. Kamu kenapa tidak bisa?”

Mungkin orang tuanya hanya sedang marah. Mungkin setelah itu ia sudah lupa dengan perkataannya.

Tetapi, bagaimana dengan anak yang mendengarnya?

Anak mungkin tidak memiliki kemampuan untuk membedakan bahwa perkataan itu keluar karena kemarahan sesaat. Ia bisa saja mulai mempercayai bahwa dirinya memang tidak mampu, tidak pintar, atau selalu mengecewakan orang lain.

Jika pengalaman seperti itu terjadi berulang kali, sebagian anak dapat tumbuh dengan penilaian negatif terhadap dirinya sendiri.

Ketika dewasa, ia mungkin masih takut mencoba. Ia takut gagal, takut dikritik, dan takut mengecewakan orang lain.

Ironisnya, orang tua yang dahulu sering mengatakan bahwa anaknya tidak mampu mungkin kemudian mengeluh, mengapa anaknya tidak berani mengambil tantangan.

Padahal, keberanian tidak tumbuh hanya dari nasihat. Anak juga membutuhkan pengalaman bahwa dirinya dipercaya, dihargai, dan diberikan kesempatan untuk mencoba.


Selalu Membutuhkan Orang Lain untuk Menghadapi Masalah

Ada lagi persoalan yang tidak kalah menarik.

Sebagian anak tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengambil keputusan sendiri. Ketika menghadapi masalah, ia langsung panik dan mencari orang lain untuk menentukan apa yang harus dilakukan.

Bukan karena ia tidak memiliki kemampuan berpikir, melainkan mungkin karena ia tidak terbiasa mempercayai penilaiannya sendiri.

Hal ini bisa terjadi dalam pola pengasuhan yang terlalu mengontrol. Semua harus sesuai keinginan orang tua. Pilihan anak selalu dikoreksi. Kesalahan kecil dianggap sebagai masalah besar. Bahkan, ketika anak mencoba menyelesaikan persoalannya sendiri, orang tua langsung mengambil alih.

Niatnya mungkin baik. Orang tua tidak ingin anaknya gagal atau mengalami kesulitan.

Tetapi, bukankah kita justru belajar menghadapi masalah melalui pengalaman?

Kalau setiap kali anak menghadapi kesulitan orang tua selalu turun tangan, kapan anak belajar mencari jalan keluar?

Kalau setiap kali anak mengambil keputusan orang tua langsung menentukan mana yang benar, kapan anak belajar mempertimbangkan pilihan dan menerima konsekuensinya?

Kalau setiap kesalahan langsung dimarahi, bagaimana anak bisa belajar bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses bertumbuh?

Anak memang membutuhkan perlindungan. Namun, anak juga membutuhkan ruang untuk belajar mandiri.

Kita tidak bisa terus-menerus menyelesaikan semua masalah anak, lalu berharap suatu hari ia tiba-tiba menjadi pribadi yang mandiri.

Kemandirian perlu dilatih. Anak perlu diberi kesempatan untuk berpikir, mencoba, mengambil keputusan sesuai usianya, dan belajar memperbaiki kesalahan dengan pendampingan yang tepat.

Tugas orang tua bukan selalu menjadi orang yang memberikan jawaban. Terkadang, tugas orang tua justru membantu anak menemukan jawabannya sendiri.


Kecemasan yang Terbawa hingga Dewasa

Hal lain yang perlu kita perhatikan adalah kecemasan berlebihan.

Ada anak yang selalu khawatir melakukan kesalahan. Ia takut dimarahi, takut ditolak, takut mengecewakan orang lain, bahkan takut menghadapi situasi yang sebenarnya biasa saja.

Ketika akan melakukan sesuatu, pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

“Bagaimana kalau saya salah?”

“Bagaimana kalau mereka marah?”

“Bagaimana kalau saya gagal?”

“Bagaimana kalau saya mengecewakan semua orang?”

Sekali lagi, kecemasan memiliki banyak penyebab. Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa semua anak yang cemas pasti memiliki orang tua yang bermasalah.

Namun, lingkungan yang membuat anak terus-menerus merasa terancam, dinilai, atau takut melakukan kesalahan dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kecemasan pada sebagian anak.

Anak yang tidak pernah tahu kapan dirinya akan dimarahi mungkin menjadi terlalu waspada terhadap perubahan suasana hati orang tuanya.

Ia belajar memperhatikan nada suara, ekspresi wajah, dan gerakan kecil orang di sekitarnya. Ia berusaha memastikan bahwa dirinya tidak melakukan sesuatu yang dapat memicu kemarahan.

Lama-kelamaan, sebagian anak dapat terbiasa mengutamakan perasaan orang lain daripada memahami kebutuhannya sendiri.

Ketika dewasa, kebiasaan tersebut bisa terbawa ke lingkungan pertemanan, pekerjaan, bahkan hubungan rumah tangga.

Ia sulit berkata tidak. Ia takut mengecewakan orang lain. Ia terlalu memikirkan penilaian orang. Ia merasa harus selalu menyenangkan semua orang agar tetap diterima.

Padahal, hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Kita tidak mungkin menyenangkan semua orang, dan kita tidak mungkin menghindari semua kesalahan.

Anak perlu belajar bahwa melakukan kesalahan bukan berarti dirinya buruk. Mengalami kegagalan bukan berarti hidupnya berakhir. Dan berbeda pendapat bukan berarti ia akan kehilangan kasih sayang orang-orang yang dicintainya.

Rasa aman seperti ini penting agar anak memiliki kesempatan untuk belajar menghadapi kehidupan dengan lebih sehat.


Mengapa Orang Tua Sulit Mengakui Kesalahan?

Nah, bagian ini yang menurut saya cukup menantang.

Ketika persoalan anak mulai terlihat, mengapa sebagian orang tua justru sulit diajak mengevaluasi dirinya sendiri?

Mengapa ada orang tua yang lebih mudah menyalahkan anak daripada mempertimbangkan kemungkinan bahwa dirinya juga memiliki andil dalam persoalan tersebut?

Mungkin salah satu jawabannya adalah karena mengakui kesalahan terasa menyakitkan.

Bagi sebagian orang, mengakui kesalahan seolah-olah berarti mengakui bahwa dirinya adalah orang tua yang buruk.

Padahal, keduanya tidak selalu sama.

Seseorang bisa bekerja keras untuk keluarga, memenuhi kebutuhan anak, menyekolahkan anak setinggi mungkin, dan tetap melakukan kesalahan dalam cara mendidiknya.

Seseorang bisa sangat mencintai anaknya, tetapi belum tentu memahami bagaimana cara mengekspresikan cinta yang membuat anak merasa aman.

Dua hal itu bisa terjadi bersamaan.

Sayangnya, ketika seseorang terlalu sibuk mempertahankan gambaran bahwa dirinya adalah orang tua yang baik, ia bisa kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hal-hal yang memang perlu diperbaiki.

Setiap kritik dianggap sebagai serangan. Setiap keluhan anak dianggap sebagai bentuk ketidakpatuhan. Setiap ajakan untuk berubah dianggap sebagai upaya menyalahkan dirinya.

Ada pula yang selalu memiliki alasan untuk membenarkan tindakannya.

Kalau anak terluka, anak dianggap terlalu sensitif.

Kalau anak marah, anak dianggap tidak tahu berterima kasih.

Kalau anak menjauh, anak dianggap durhaka.

Padahal, bisa jadi ada pengalaman yang belum pernah benar-benar didengarkan.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa orang tua harus selalu mengalah atau bahwa setiap keluhan anak pasti benar. Orang tua juga manusia yang memiliki keterbatasan, tekanan hidup, dan pengalaman masa lalu.

Namun, kita perlu membedakan antara menjelaskan alasan di balik suatu tindakan dan menggunakan alasan tersebut untuk menghindari tanggung jawab.

Bahwa dahulu kita juga dibesarkan dengan keras, misalnya, mungkin menjelaskan mengapa kita terbiasa mendidik dengan cara yang sama. Tetapi, itu tidak otomatis berarti cara tersebut harus terus diwariskan.

Kita bisa memahami masa lalu kita tanpa harus mengulanginya.


Meminta Maaf kepada Anak, Mengapa Terasa Begitu Sulit?

Ada satu hal sederhana yang menurut saya memiliki makna besar dalam hubungan orang tua dan anak: meminta maaf.

Kedengarannya mudah, bukan?

Tetapi, dalam kenyataannya, bagi sebagian orang tua, mengucapkan kata maaf kepada anak terasa jauh lebih sulit daripada memarahinya.

Kalaupun akhirnya meminta maaf, terkadang masih disertai pembelaan.

“Ya, maaf. Tapi kamu juga yang membuat Ayah marah.”

“Ibu minta maaf, tetapi semua itu demi kebaikanmu.”

Kalimat tersebut mungkin terdengar seperti permintaan maaf. Namun, tanggung jawab atas tindakan yang menyakiti anak masih bercampur dengan upaya membenarkan diri.

Meminta maaf dengan tulus bukan berarti orang tua harus menganggap dirinya selalu salah. Bukan pula berarti anak bebas melakukan apa saja.

Meminta maaf berarti berani mengakui bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.

Misalnya, seorang ayah bisa mengatakan:

“Ayah sadar dulu sering membentakmu ketika kamu melakukan kesalahan. Ayah merasa sedang mendisiplinkanmu, tetapi sekarang Ayah memahami bahwa cara itu mungkin membuatmu takut. Ayah minta maaf. Ayah ingin belajar memperbaikinya.”

Tidak perlu berpanjang-panjang. Tidak perlu mencari alasan. Tidak perlu langsung menuntut anak memaafkan.

Cukup akui, dengarkan, dan tunjukkan perubahan melalui tindakan.

Tentu, kepercayaan tidak selalu pulih dalam sehari. Jika luka sudah berlangsung lama, anak mungkin membutuhkan waktu untuk merasa aman kembali.

Tetapi, bukankah langkah pertama memang harus dimulai dari keberanian untuk mengakui kenyataan?


Jangan Hanya Meminta Anak Berubah

Dalam praktik hipnoterapi, saya melihat betapa pentingnya memahami pengalaman seseorang, bukan hanya melihat perilaku yang muncul di permukaan.

Ketika seorang anak mengalami masalah, kita tentu ingin membantunya. Kita ingin ia lebih percaya diri, lebih tenang, lebih mandiri, dan lebih mampu menghadapi persoalan hidup.

Namun, kita juga perlu melihat lingkungan tempat ia bertumbuh.

Jangan sampai anak diminta belajar mengendalikan emosi, sementara orang dewasa di sekitarnya tidak bersedia mengendalikan emosi sendiri.

Jangan sampai anak diminta berani mengakui kesalahan, sementara orang tuanya merasa tidak pernah salah.

Jangan sampai anak diminta terbuka, tetapi setiap kali ia mengungkapkan perasaannya, ia justru disalahkan.

Perubahan anak akan lebih mungkin bertahan ketika lingkungan yang mendukungnya juga ikut berubah.

Itulah sebabnya, dalam persoalan tertentu, pendampingan terhadap anak saja mungkin belum cukup. Orang tua juga perlu mendapatkan ruang untuk memahami pola pengasuhan, belajar berkomunikasi dengan lebih sehat, dan menyadari bagaimana respons mereka memengaruhi hubungan dengan anak.

Tentu, tidak semua orang tua yang sulit menerima masukan berarti tidak menyayangi anaknya. Ada yang merasa malu, ada yang takut disalahkan, dan ada yang memang belum pernah belajar cara menghadapi persoalan emosional semacam ini.

Karena itu, pendekatannya perlu dilakukan dengan bijaksana. Tujuannya bukan mempermalukan orang tua, melainkan membantu keluarga menemukan cara yang lebih baik untuk bertumbuh bersama.

Sebab, kita tidak sedang mencari siapa yang paling bersalah.

Kita sedang berusaha mencari jalan agar persoalan yang sama tidak terus berulang.


Pada akhirnya, saya ingin mengajak kita semua merenungkan satu hal.

Kalau dahulu kita dibesarkan dengan cara yang menyakitkan, apakah kita harus meneruskannya kepada anak-anak kita?

Kalau dahulu tidak ada yang mau mendengarkan perasaan kita, apakah anak-anak kita juga harus mengalami hal yang sama?

Kalau dahulu kita tidak pernah mendengar orang tua meminta maaf, mengapa kita tidak mencoba menjadi orang pertama yang berani melakukannya?

Menjadi orang tua bukan berarti kita harus selalu benar. Kita boleh salah. Kita boleh lelah. Kita boleh pernah mengambil keputusan yang keliru.

Tetapi, jangan sampai demi mempertahankan harga diri, kita mengabaikan luka yang mungkin sedang dirasakan oleh anak kita sendiri.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang bersedia belajar, mau mendengarkan, dan berani memperbaiki diri.

Sebab, anak yang tumbuh dengan rasa aman memiliki kesempatan lebih baik untuk belajar mempercayai dirinya sendiri, menghadapi masalah, dan mengelola kecemasan dalam kehidupannya.

Dan jika suatu hari kita menyadari bahwa ada tindakan kita yang ikut melukai anak, semoga kita tidak terlalu sibuk mencari pembenaran.

Semoga kita masih memiliki keberanian untuk berkata, “Maaf, Nak. Ayah dan Ibu juga masih belajar.”

Sederhana, memang. Tetapi, tidak selalu mudah dilakukan.

Demikianlah kenyataannya.

Selasa, 19 Maret 2019

Anak Tidak Mau Makan? Jangan-jangan Ini Penyebabnya




Belum lama ini, saya mendapatkan pesan pendek dari seorang ibu di Jawa Barat. Sebut saja namanya ibu Ani. Dia mengeluhkan kondisi anaknya berusia 3 tahun yang sulit makan. Bahkan, sudah sempat masuk rumah sakit beberapa kali gara-gara si anak tidak mau makan. Akibatnya, ibunya semakin panik dan bingung. “Bagaimana ya pak? Saya sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa?” tanyanya.

Sabtu, 02 Februari 2019

Wahai Ayah - Bunda, Jangan Cintai Anak Anda




Memanfaatkan waktu di Samarinda, sebelum kembali beraktivitas di Berau, hari ini saya menerima dua klien. Keduanya anak-anak. Satu usia SLTA dan satu lagi usia SLTP. Dua-duanya memiliki persoalan yang sama, takut ke sekolah.

Saya coba sampaikan kasus pertama dulu. Sebut saja namanya Beben. Tentu ini bukan sama sebenarnya. Beben yang berusia 13 tahun ini seharusnya duduk di bangku SLTP. Namun nyatanya, sudah hampir 4 bulan terakhir tidak mau kembali bersekolah.

Senin, 14 Januari 2019

Ini Empat Penyebab Anak Tak Bisa Dikendalikan



Belum lama ini, saya mendapat curahan hati dari pasangan suami istri. Persoalannya adalah, anak terakhirnya sangat sulit dikendalikan. Apa pun yang diminta harus segera tersedia. Kalau tidak, maka akan langsung menugamuk dan apa pun yang di dekatnya pasti akan melayang. Lantas bagaimana mengatasinya?


Seperti biasa, mendapati kisah seperti ini, saya tidak langsung fokus pada anak. Saya selalu ingin menelusuri pola asuh kedua orangtuanya. Sebab, tidak mungkin sikap anak terbentuk seperti itu dalam sekejap, tanpa ada peran serta dari kedua orangtuanya. Mendidik anak tentu tidak seperti kisah Roro Jonggrang yang meminta seribu candi dalam waktu semalam.

Ketika berdiskusi tentang persoalan anaknya, kebetulan anak yang dimaksud juga ada di situ. Bagi saya, ini sekaligus momen, sebagai ‘orang asing’ harus menembus pikiran bawah sadarnya dengan cepat. Maka, sengaja saya membuat bahasa sindiran dengan suara keras, yang tujuannya agar menembus pikiran bawah sadar anak ini.

Terbukti, si anak langsung bereaksi. Kedua tangannya bersedekap, menunjukkan sikap otoritasnya. Dari gaya bocah yang baru duduk di bangku prasekolah itu sudah terlihat, selama ini dia sudah begitu berhasil mengendalikan ayah dan ibunya. Kedua orangtuanya benar-benar tidak berdaya, tunduk dan patuh pada perintahnya.

Saya sengaja bercerita tentang kisah Nabi Nuh, terutama soal anaknya yang tidak patuh pada ayahnya. Alhasil, si anak tersapu banjir bandang. Maka tidak ada alasan apa pun yang membenarkan ada anak yang tidak patuh bahkan melawan orangtua. Pasti anak itu hidupnya kelak kurang baik.

Ketika saya menyampaikan itu, si anak merasa ‘diserang’. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bertanya sesuatu kepada ayahnya. Melihat itu, saya membuat volume suara saya semakin nyaring. Namun apa yang saya sampaikan tetap santun dan terarah. 

Saya fokus memberikan informasi ke pikiran bawah sadar anak ini, bahwa saat itu saya sedang pegang kendali atas kedua orangtuanya. Dia tidak boleh merebut kendali itu sesukanya. Anak ini langsung diam, dan terpaksa menatap ke depan dengan pandangan kosong.

Dengan cara ini, saya ingin menunjukkan kepada kedua orangtuanya, bahwa kendali anak harus pada orangtuanya. Jika ada anak yang sudah mengambil alih peran ini, maka tentu ada sesuatu yang kurang pas dan perlu dibenahi.

Berikut beberapa hal yang mungkin bisa menjadi penyebab kenapa anak berhasil mengendalikan orangtuanya, sekaligus solusi yang bisa dilakukan agar anak bisa dikendalikan.

1.    Ayah dan Ibu, Sibuk Bekerja.

Ini biasanya menjadi salah satu persoalan yang dialami banyak keluarga. Pasangan suami istri masing-masing sibuk bekerja, atau berkarir. Akibatnya, anak merasa kurang mendapat perhatian. Maka sebagai balasannya, anak akan menuntut hal-hal yang di luar kewajaran. Tujuannya satu, membuat kedua orangtuanya merasa bersalah dan tak berdaya. Begitu program ini berhasil, maka yakinlah, pikiran bawah sadar anak akan terus menjalankan program ini.

Bagaimana mengatasinya? Bagi ayah dan bunda yang sibuk bekerja, maka hendaknya patuhi aturan ini, jangan pernah membawa pekerjaan ke rumah. Tak jarang pasangan yang sudah sibuk bekerja, begitu sampai rumah masih harus lembur. Kalau pun tidak lembur, tapi lebih banyak pegang telepon seluler, mengurusi pekerjaan dari rumah. Ini juga tetap lembur namanya. Sebab secara fisik orangtua memang di rumah, tapi pikiran tetap di pekerjaan, atau dengan rekan kerjanya. Kondisi tersebut akan membuat anak semakin drop tidak berdaya.



Ibarat telepon seluler, anak sedang butuh daya. Namun, orangtua justru sibuk dengan pekerjaan di rumah. Ingat, anak butuh ayah atau ibunya. Anak tidak butuh pengusaha, pedagang, pegawai, karyawan, bahkan bos atau direktur. Yang dia butuhkan adalah orangtuanya secara utuh.

Jadi hindari membawa pekerjaan di rumah. Begitu sampai di rumah, pastikan berikan perhatian penuh pada buah hati.

Terus bagaimana jika tempat usahanya di rumah sendiri? Bagi waktu yang tepat dan garis batas yang jelas, kapan bekerja dan kapan untuk anak-anak. Bahkan jika perlu izin sama anak ketika ingin bekerja. Ini penting dalam upaya menghargai buah hati.   

2.    Orangtua Belum Paham Bahasa Cinta

Seperti disampaikan sebelumnya, ibarat telepon seluler, anak harus selalu diisi baterai kasih sayangnya. Nah, mengisi baterai kasih sayang itu ada lima, masing-masing pujian, sentuhan, waktu berkualitas, pelayanan dan hadiah. Hal tersebut sesuai teori yang pernah disampaikan Gary Chapman melalui bukunga 5 Love Languages.    

Jadi, cek dengan tepat, sudahkah ayah dan bunda mengisi baterai kasih sayang kepada mereka. Jika tidak, tentunya anak akan berperilaku kurang baik dan pasti akan menuntut kebutuhannya dengan cara mengendalikan ayah ibunya.  

3.    Kurang Tegas Pada Anak

Bisa dipastikan, anak yang mampu mengendalikan orangtuanya, kedua orangtuanya kurang tegas dalam pola asuh sehari-hari. Padahal, sikap tegas juga sangat penting. Tegas bukan berarti tidak sayang. Ini yang membuat beberapa orangtua tidak berdaya, karena takut ketegasan itu akan melukai hati anak. Tegas di sini tetap disampaikan dengan kelembutan dan kasih sayang. Tegas bukanlah dengan marah meledak-ledak.  


Saat minta mainan di mal, misalnya, anak akan menangis. Ini sebenarnya hanya senjata agar orangtua menuruti. Orangtua kadang tidak mau pusing, bahkan malu, sehingga terpaksa menuruti maunya anak. Padahal, justru sikap itulah yang membuat anak berhasil menjalankan misinya. Pikiran bawah sadar anak otomatis membuat program, minta sesuatu harus dengan cara menangis di depan umum.

Padahal, coba saja biarkan dia menangis, dan sampaikan, “Kamu menangis sampai kapan pun, ayah atau bunda tidak akan belikan. Sebab, sudah sering kok dibelikan. Ada waktunya kita beli, tapi nanti. Tidak harus sekarang. Kamu juga harus bisa belajar mengendalikan diri. Sekarang silakan nangis sepuasnya, biar ayah atau bunda tunggu sampai selesai.”

Percayalah, sekali disampaikan, pikiran bawah sadarnya pasti akan membatalkan program ini, karena dianggap gagal. Kemungkinan anak akan mencoba kembali di lain kesempatan, maka lakukan hal yang sama. Dengan demikian, hal itu pasti tidak akan dilakukannya lagi, karena sudah terbukti gagal.

4.    Kedua Orangtua Masih Menyimpan Emosi Masa Lalu

Penyebab lain anak yang sulit dikendalikan adalah, kedua orangtuanya ternyata juga ada menyimpan emosi atau trauma di masa lalu. Sebagai contoh, ada seorang ibu yang dulu ketika dirinya masih kecil, sering mendapat perlakuan kasar dari orangtuanya. 

Akibatnya, ketika dewasa, ibu ini tidak mau memperlakukan anaknya, sama seperti dia dulu diperlakukan. Sebenarnya, hal itu baik. Sebab pikiran bawah sadar sudah mempunyai program, jangan menyakiti hati anak. Namun, yang belum diingat adalah, ketegasan tetap perlu, demi masa depan anak.

Namun ada pula ayah dan bunda yang di masa lalunya mendapat perlakuan sangat kasar dari kedua orangtuanya, maka pola asuh terhadap anaknya pun keras. Karena keras, anak pun berusaha memberontak juga dengan kekerasan. Maka, mata rantai pola asuh yang keras dan kurang terkendali akan semakin liar.


Lantas bagaimana mengatasinya? Untuk orangtua dengan trauma masa lalu yang menumpuk, sebaiknya harus dibereskan dulu. Bisa dengan melakukan terapi pada diri sendiri, atau meminta bantuan orang lain melalui sesi terapi khusus, misalnya kepada hipnoterapis klinis. Ini untuk menetralisir semua emosi atau trauma masa lalu yang mengganggu.

Semoga saja, empat penyebab tersebut di atas bisa diatasi, sehingga ayah dan bunda kini lebih mampu mengendalikan buah hatinya. Semoga buah hati dari ayah bunda semua, menjadi anak yang saleh dan salehah, dan kelak bisa dibanggakan oleh ayah dan bunda.

Demikianlah kenyataannya. (*)  

  





Selasa, 09 Oktober 2018

Agar Anak Betah di Pondok Pesantren



Setiap kali jumpa kawan dan sahabat, salah satu pertanyaan yang kerap dilontarkan adalah, bagaimana agar orang tua ikhlas dan ringan melepas anaknya melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren.

Selasa, 19 September 2017

Karena Gengsi Orang Tua, Anak Jadi Korban


Belum lama ini, datang seorang ibu membawa anaknya. Sang anak sebelumnya dikeluhkan oleh guru di sekolah, karena sering bermasalah. Dari mulai tidak mau menulis, tidak mengerjakan tugas, bahkan lebih suka menyendiri. Pihak sekolah merekomendasikan agar anak dibawa ke psikolog. Setelah dibawa ke psikolog, ternyata sang psikolog juga merekomendasikan agar anaknya juga menjalani sesi hipnoterapi agar lebih maksimal. Atas rekomendasi psikolog itulah, ibu ini membawa anaknya untuk jumpa dengan saya.

Kamis, 14 September 2017

Anak Kecanduan HP dan Game? Coba Lakukan Ini



Beberapa sekolah dasar di Samarinda sudah rutin bekerja sama dengan saya. Karena itu, ketika ada murid yang dianggap bermasalah atau membuat ulah, maka guru sekolah biasanya akan langsung merekomendasikan orang tuanya untuk membuat janji konsultasi.   

Sabtu, 12 Agustus 2017

Beri Seminar Parenting, Endro Ingatkan Soal Lima Bahasa Cinta

SEMANGAT: Paguyuban orang tua kelas II/E dan para siswa SD 007 usai seminar.  


Hipnoterapis sekaligus praktisi teknologi pikiran, Endro S Efendi CHt CT, alumni Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology Surabaya, Sabtu (12/8) tadi memberikan seminar ‘Cara Mendidik Anak yang Efektif Berbasis Teknologi Pikiran.’   

Sabtu, 31 Desember 2016

Tak Bisa Jawab Pertanyaan Guru, Ternyata Bocah Ini…



Belum lama ini, seorang klien, usia 15 tahun, datang ditemani ibundanya. Keluhannya adalah, tidak bisa menjawab setiap kali diberi pertanyaan oleh gurunya. Bocah laki-laki ini mengaku, tahu jawaban tersebut, namun entah kenapa, mulutnya seolah terkunci dan tertutup rapat. Meski dia sudah berusaha menjawab, namun tetap saja tidak bisa mengeluarkan jawaban dengan lancar. “Ngga tahu kenapa, susah ngomongnya,” kata bocah ini.

Jumat, 11 November 2016

Siswi Ini Tiga Hari Tidak Sekolah. Ternyata Ini Penyebabnya…



Dua bulan lalu, klien yang merupakan seorang pelajar SLTP, datang atas rekomendasi salah satu dokter yang ada di Samarinda. Sebelumnya, sang dokter memang sempat menghubungi saya. Dia menyampaikan ada pasiennya, siswi SLTP yang selalu mengeluh asam lambung berlebih. Kalau sudah sakit parah, menjalar sampai ke kepala hingga demam tinggi.

Rabu, 28 September 2016

Ternyata, Ini Caranya Agar Otak Anak Berkembang



Setiap orang tua, tentu ingin anaknya tumbuh dan berkembang secara maksimal, sesuai dengan yang diharapkan. Namun, terkadang orang tua sangat egois. Ingin anaknya berkembang, namun enggan mendampingi pertumbuhannya.

Sebuah penelitian yang pernah dilakukan di negeri Tirai Bambu menyebutkan, anak perlu kehadiran orang tua agar pertumbuhan otaknya maksimal. Sebaliknya, anak yang tumbuh tanpa kehadiran dan keterlibatan orang tuanya dalam kurun waktu tertentu, terbukti mengalami perlambatan dalam pertumbuhan otaknya.

Minggu, 18 September 2016

“Waktunya Kurang Pak”



Sabtu (17/9) pagi tadi, saya mendapat kesempatan mengisi Seminar Parenting, Cara Mendidik Anak yang Efektif, Hypnotherapy for Children. Seminar ini khusus diberikan untuk para orang tua atau wali murid kelas 1 SD Islam Al Hikmah Jalan Tanjung Jone Samarinda Seberang. Tentu, tak semua orang tua atau wali murid hadir. Kenapa? Ya sudah menjadi kebiasaan acara di sekolah, tidak semua orang tua memiliki waktu untuk menghadiri. Boleh jadi sedang sibuk, atau ada pekerjaan lain yang tidak bisa ditunda.

Minggu, 28 Agustus 2016

Punya Anak Manja? Begini Cara Mengatasinya



“Dasar anak manja! Apa-apa harus dituruti!" Sering, orang tua mendengar kalimat seperti itu? Tetapi, benarkah anak yang dituduh manja tersebut memang benar-benar manja? Atau hanya karena orangtuanya saja yang memberi label anak manja? Yuk, simak mitos-mitos tentang anak manja dan penjelasan dari mitos-mitos tersebut.

Selasa, 09 Agustus 2016

Setuju Full Day School, Asal….



Bukan rahasia umum bagi negeri ini. Ganti menteri, ganti pula kebijakan. Masil lekat dari ingatan ketika Menteri Pendidikan Anies Baswedan meluncurkan program mengantar anak di hari pertama sekolah. Belum lagi ada evaluasi atas program ini, muncul pula pergantian kepada Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy yang sudah ancang-ancang membuat program baru, Full Day School (FDS) alias sekolah sehari penuh.

Sebenarnya, ini bukan program baru. Di hampir semua daerah di Indonesia, ada saja sekolah unggulan yang menerapkan sekolah sehari penuh ini. Masalahnya, program ini akan diberlakukan untuk semua murid SD dan SMP baik negeri maupun swasta. Sementara faktanya, masih banyak sekolah yang belum memiliki ruang kelas memadai, sehingga harus berbagi antara kelas pagi dan sore. Jika kebijakan ini langsung diterapkan, praktis akan ada persoalan yang tidak mudah dipecahkan.

Senin, 11 Juli 2016

Anda Wanita Karir? Pahami Hal Ini


Anda memutuskan tetap berkarir meski sudah memiliki buah hati? Tidak masalah. Faktanya, begitu banyak wanita karir yang sukses dan tetap mampu mengurus keluarganya dengan baik dan harmonis. Namun ketika memutuskan menjadi wanita karir, harus siap dengan konsekuensi logis. Apa itu? Sebagai wanita karir harus tetap menjadi istri dan ibu yang ideal untuk suami dan anak-anaknya. Saat konsekuensi ini diabaikan, maka sehebat apa pun karir yang sudah berhasil diraih, rasanya akan percuma.

Ini pula yang kerap saya jumpai di ruang praktik. Mereka yang punya masalah dengan anak-anaknya maupun dengan kehidupan rumah tangganya, umumnya karena fungsi seorang wanita sebagai istri dan sebagai ibu, mulai tergerus.

Kamis, 12 Mei 2016

Siap Hadapi Ujian, Semangat Terbangkan Balon Impian


SAMARINDA – Kamis (12/5) pagi, saya diundang SD Islam Al Hikmah Samarinda Seberang, untuk memberikan pembekalan pada para siswa kelas VI jelang ujian nasional pekan depan. Materi yang saya berikan adalah Quantum Life Transformation for Kids, yang memang disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak.

Dengan slide presentasi bergambar tokoh hero dalam film Civil War, para siswa langsung antusias menyimak materi ini. Poinnya, para siswa diberikan pemahaman bahwa mengerjakan soal ujian tak berbeda dengan ketika mereka bermain game. Terbukti, setiap siswa memiliki game favorit masing-masing. Nah, game inilah yang dijadikan pengait agar nanti ketika mengerjakan soal ujian, perasaan yang muncul sama dengan ketika memainkan game ini.

Minggu, 24 April 2016

Yuk, Isi Baterai Cinta di Meja Makan


Makan bersama, adalah salah satu upaya mempererat silaturahmi, baik dengan teman, kerabat, paling utama adalah dengan keluarga. Bahkan sejak zaman Nabi Muhammad, makan bersama pun sudah menjadi tradisi untuk mempererat kebersamaan dengan para sahabat. Makan dalam satu wadah bersama, serta tidak menggunakan sendok, melainkan menggunakan suapan tangan.

Di era serba modern saat ini, makan bersama pun tetap menjadi salah satu sarana untuk berkomunikasi bahkan untuk menghormati kedatangan orang penting. Jamuan makan malam, biasanya kerap dilakukan untuk menghargai kehadiran seseorang, bahkan untuk sekadar makan bersama keluarga besar.

Jumat, 22 April 2016

“Jangan Mencintai dan Menyayangi Anak Anda”



Sebuah nasihat penting saya dapatkan dari sang guru, Adi W. Gunawan, saat bertemu di Balikpapan, Kamis (21/4) malam. Di hari bertepatan perayaan Hari Kartini tersebut, pendiri Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology itu menyampaikan agar orang tua “Jangan Mencintai dan Jangan Menyayangi Anak.”

Sontak, apa yang disampaikan pakar teknologi pikiran terkemuka di Tanah Air ini membuat siapa pun yang mendengarnya kaget. Suasana makan malam di sebuah restoran sea food cukup ternama di Kota Beriman ini pun sempat hening sesaat. Malam itu selain saya, ada beberapa warga Balikpapan yang menjamu kehadiran beliau. Lantas, kok bisa, seorang penulis lebih dari 20 buku ini menyarankan agar orang tua tidak mencintai dan menyayangi anaknya?

Senin, 21 Maret 2016

Langsung Lebih Percaya Diri dengan Hypno-EFT, Tekniknya Akan Diajarkan di Seminar Hypnotherapy for Children


SAMARINDA – Sabtu (19/3) tadi, pakar hipnoterapi ternama di Samarinda, Endro S. Efendi CHt CT, diminta mengisi materi pada acara Latihan Kepemimpinan II Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Berau (KPMKB) di Lempake-Samarinda. Pada acara tersebut, Endro memberikan materi motivasi berjudul Quantum Life Transformation (QLT) for Students. Materi ini tak hanya untuk membuka wawasan, tapi juga untuk meningkatkan dan mendongkrak upaya pengembangan diri para pesertanya.

Selasa, 02 Februari 2016

Pilih Hobi atau Anak?


Mendapat amanah atau titipan berupa anak dari Yang Maha Kuasa, adalah sesuatu yang tidak ternilai harganya. Bukankah tidak sedikit pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah belum juga punya momongan. Ada lagi yang harus keluar uang puluhan bahkan ratusan juta rupiah, untuk bisa mendapatkan momongan, melalui berbagai metode.

Nah, bagi Anda yang sudah punya buah hati, sudah sepatutnya bersyukur, melebihi mereka yang terus berusaha mendapatkan momongan.
 
Copyright © 2014–2026 Endro S. Efendi · Kebijakan Privasi · Disclaimer · Kontak · Template by OddThemes